
"Kalian lanjut saja, aku ingin melanjutkan tidur ku," ujar Via.
"Tahu diri juga ternyata!" ucap Lili yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
"Terserah kau!" seru Evan.
Tidak peduli, Via langsung kembali ke kamar sedangkan Evan masih duduk sebentar untuk menurunkan nasi yang baru saja dia makan. Sedangkan Lili, meskipun lelah namun wanita ini lebih memilih menemani Evan.
"Evan, apa kau ingin berjalan-jalan sebentar dengan ku?" tanya Lili.
"Aku lelah, aku akan kembali ke kamar!" kata Evan langsung bangkit dari duduknya.
"Tapi Evan, sebentar saja!" bujuk Lili.
"Kita datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk jalan-jalan!" sahut Evan berlalu begitu saja.
Lili meneguk minumannya untuk sekedar mendinginkan hati yang panas. Entah kenapa sejak zaman kuliah dulu banyak perempuan yang mengejar Evan namun pria tersebut selalu bersikap dingin dan cuek.
"Apa sih maunya, dia menyuruh ku bekerja di kantornya tapi sikapnya seperti balok es. Dasar lelaki buta! apa aku kurang cantik ya?"
__ADS_1
Lili bicara sendiri seperti orang gila. Beberapa pelayan hotel hanya bisa menahan tawa mereka. Tak berapa lama Lili kembali ke kamarnya sambil mengeluarkan sumpah serapahnya pada Evan.
Malam berganti pagi, Evan sudah tapi dengan pakaian kerjanya begitu juga dengan Via. Evan melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir jam tujuh pagi Lili belum turun juga untuk sarapan.
Evan sebenarnya kesal, namun pria ini tidak mau menunjukkan kekesalannya di depan Via.
"Maaf aku terlambat," ucap Lili yang baru saja tiba.
"Dari mana saja kau?" tanya Evan dengan wajah datarnya.
"Aku berdandan sebentar. Kita kan mau menghadiri acara peresmian, sudah pasti akan bertemu orang banyak,'' jawab Lili dengan santainya.
"Diam kau!" bentak Lili, "seharusnya kau berkaca, lihat penampilan mu yang kucel dan udik ini."
"Kau ini sudah datang terlambat, banyak mulut lagi. Cepat habiskan sarapan mu!" ujar Evan.
"Aku akan pergi dulu, ada yang harus aku siapkan. Pak Theo meminta ku untuk bertemu dengan manajer baru," kata Via buru-buru mengambil tasnya.
"Terserah kau saja, kerjakan sebagus mungkin!" sahut Alan.
__ADS_1
Lili tersenyum sendiri ketika melihat Via pergi. Wanita ini seakan mendapatkan angin segar karena bisa berduaan dengan Evan. Benar saja, hanya ada Lili dan Evan di dalam mobil. Perjalanan ke lokasi peresmian butuh waktu sekitar dua puluh menit.
"Apa kau bisa membuang kaca mu itu? aku bosan melihat mu sejak tadi berkaca!"
"Ya ampun Evan, kau ini kenapa sih?"
"Lili, aku menggaji mu untuk bekerja. Bukan untuk hal kekanakan seperti ini, jika kau tidak suka dengan pekerjaan mu silahkan berhenti,"
Mendengar ucapan Evan, buru-buru Lili menyimpan cermin dan juga bedaknya. Wanita ini selalu berpikir jika mereka pernah satu kampus jadi ingin menunjukkan kepada semua orang jika mereka sangat akrab.
Evan turun dari mobil, terlihat sekali lelaki ini acuh tak acuh. Orang pertama yang di cari Evan ada Via karena pekerjaan ini semuanya di handle oleh Via.
"Siapa yang kau cari?" tanya Lili memberanikan diri.
"Lili, kau orang berpendidikan. Seharusnya kau bisa bersikap jauh lebih sopan pada atasan mu jika sedang berada di luar seperti ini," tegur Evan mulai risih.
Lili terdiam, ucapan Evan membuatnya malu. Apa lagi Evan terlihat acuh dan tidak peduli padanya.
"Sekarang kau boleh tidak menyukai ku Evan. Tapi, kita lihat saja nanti, kau akan berlutut di bawah kaki ku!" batin Lili yang begitu yakin bisa menaklukkan Evan.
__ADS_1