Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
46.Menggelikan


__ADS_3

Malam telah berganti pagi, pukul enam pagi baik Evan maupun Via belum juga terbangun. Tidur mereka juga masih rapi, ini membuktikan jika mereka sangat kelelahan dengan acara semalam.


Pukul setengah tujuh pagi, Evan terbangun lebih dahulu karena biasanya pria ini memang bangun jam segitu. Evan sangat terkejut, pria ini masih belum sadar jika dirinya sudah menikah dengan Via.


"Kenapa ada dia di sini?" Evan bertanya dalam hatinya, "astaga, aku lupa jika kami sudah menikah."


Evan duduk, pria ini memandangi wajah istrinya yang masih pulas tertidur. Wajah polos Via, membuat Evan tersenyum-Senyum sendiri melihatnya.


"Dia begitu imut, jika sedang tidur begini Via terlihat sangat manis dan cantik," puji Evan dalam hatinya.


Tanpa sadar, jari-jari kekarnya meraba ke wajah sang istri. Evan menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutup wajah Via. Evan memainkan bibirnya, gemas ketika melihat bibir manis milik istrinya.


"Mulut yang banyak bicara itu ternyata sangat indah. Hidungnya yang setengah mancung ini juga lucu," Evan masih sibuk bicara di dalam hatinya.


Melihat Via mulai bangun dan meregangkan tubuhnya, Evan buru-buru turun dari atas tempat tidur dan membuka semua tirai.


Via melihat Evan yang sibuk membuka tirai, wanita ini mengubah posisinya menjadi duduk.


"Selamat pagi suamiku...!" ucap Via dengan suara serak khas bangun tidur.


Evan yang mendengar sapaan asing di telinganya mendadak kaku lalu membalikan tubuhnya.

__ADS_1


"Menggelikan. Kau ini, cepat bangun sana dan mandi...!" ujar Evan membuat Via kesal.


"Aku istri mu Van, bersikap manis lah sedikit pada ku!" kata Via mengingatkan.


"Aku tahu itu, cepat mandi. Lihat rupa mu yang berantakan itu,"


Belum juga Via menyahut, bel kamar berbunyi. Ternyata supir pak Theo mengantarkan semua barang Evan ke kamar Via. Itu artinya Evan akan berada satu kamar dengan Via sekarang.


"Aku mandi dulu,...!" ujar Via buru-buru masuk kedalam kamar mandi.


Tak berapa lama, dengan santainya Via keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang sama. Wanita ini lupa jika Evan berada di kamarnya.


"Sepertinya kau suka menggoda ku!" seru Evan membuat Via terkejut. Wanita ini lagi-lagi menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.


Mata elang Evan terus memandang kearah Via. Apa lagi rambut wanita ini basah, Via semakin terlihat **** di mata Evan.


"Ah, sialan!" umpat pria itu buru-buru masuk ke kamar mandi.


"Dia kenapa...?" Via kebingungan.


Di kamar mandi, Evan langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Melihat lekuk tubuh Via membuat adik Evan tiba-tiba bangun. Wajar saja, Evan sudah hampir tiga puluh jadi mana mungkin pria dewasa seperti dia bisa menahan gejolak yang ada.

__ADS_1


Dua kali melihat bentuk tubuh istrinya, membuat Evan langsung terbayang-bayang. Seumur hidup Evan, baru sekarang dirinya melihat perempuan sepolos itu meskipun masih ada handuk yang menjadi pembatas.


Sudah cantik dan tampan, Evan dan Via sarapan bersama di kamar. Terlihat biasa saja bagi Via, namun tidak bagi Evan yang sejak tadi suka sekali mencuri pandang kearah wanita yang sedang asik menikmati sarapannya.


"Kau serius akan pergi bulan madu bersama ku?" tanya Evan.


"Anggap saja liburan gratis. Aku belum pernah pergi keluar negeri," jawab Via masih terlihat santai.


"Semiskin itu kah dirimu sehingga keluar negeri saja tidak sanggup?"


Jleeb....pertanyaan Evan membuat selera makan Via langsung hilang. Wanita ini melepaskan kedua sendoknya lalu menatap tajam kearah Evan.


"Aku hanya seorang anak yatim piatu yang miskin. Sejak kecil aku sudah terbiasa mandiri, bekerja paruh waktu untuk membiayai sekolah dan makan ku. Berbeda dengan kau yang sudah terlahir kaya. Van, pagi ini kau menyadarkan ku jika kita tidak cocok. Aku hanya simiskin yang bermimpi untuk menjadi tuan puteri. Nikmati makan mu, aku sudah kenyang!"


Via beranjak dari duduknya, pergi mengemasi semua barang-barangnya.


"Aku hanya bercanda, aku tidak serius!" ujar Evan mengekor di belakang istrinya.


"Sudahlah Van,kau benar akan hal ini. Seharusnya aku membuka mata sejak dulu. Kita bagai bumi dan langit. Batalkan liburannya, aku sudah tidak tertarik lagi," ujar Via lalu menggeret kopernya pergi.


Evan berusaha mengejar Via, menjelaskan pada wanita itu namun tetap saja Via tidak mau mendengarkannya. Beberapa kali Evan mencoba meraih tangan Via, namun wanita itu terus menepisnya.

__ADS_1


Baru saja keluar dari lift, langkah Evan sudah di hentikan oleh Lili dan Rania yang tiba-tiba ada di sana. Via tidak peduli, wanita masuk kedalam taxi kemudian pergi. Evan panik sendiri, apa lagi sekarang dirinya di kerumuni oleh dua perempuan yang meminta penjelasan.


__ADS_2