Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
13.Diam Kau!


__ADS_3

"Mau kemana kau pergi, kenapa membawa koper mu?" tanya Evan tiba-tiba bingung melihat Via yang seperti orang terburu-buru.


"Aku harus pulang Van. Mereka ingin menjual rumah peninggalan ayah ku!"


"Siapa yang kau maksud?" tanya Evan masih bingung.


"Ibu tiri ku!" jawab Via singkat.


"Oh," Evan tidak peduli, begitu juga dengan Via yang langsung bergegas pergi ke bandara.


Evan melanjutkan sarapannya. Namun, belum juga Evan menyelesaikan makannya lelaki ini malah kepikiran dengan Via yang pulang seorang diri.


"Hah,...bisa mati di gorok papah kalau aku membiarkan dia pulang sendiri," ujar Evan bergegas pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barang lalu menyusul Via ke bandara.


Sialnya bagi Evan, pesawat yang di tumpangi Via sudah terbang terlebih dahulu sedangkan dirinya harus menunggu satu jam lagi.


"Hah, sial!" umpat Evan.


Selang beberapa jam kemudian, Via sudah kembali ke kotanya. Via langsung kembali ke rumahnya yang ternyata sudah ada Sinta dan Kiran menunggu kedatangannya.


"Apa ku bilang mah, dia akan pulang jika kita mengancamnya!" ucap Kiran dengan sudut bibir terangkat.


"Kalian tidak ada hak menjual rumah ini. Rumah ini milik ibu ku!" ujar Via tidak terima.


"Kata siapa kami tidak berhak?" tanya Sinta, "aku istri ayah mu. Jika kau ingin rumah ini tidak di jual, berikan dua ratus juta dulu!"


"Kenapa kalian begitu serakah?" tanya Via sedikit mengejek, "hanya demi operasi plastik, kalian ingin menjual hak orang lain!"

__ADS_1


"Jaga mulut mu Via!" sentak Kiran tidak terima.


"Apa yang harus aku jaga?" tanya Via tak kalah kesalnya, "Kau sangat berhaus ingin jadi model. Tapi, kenapa kau harus mengorbankan orang lain demi ambisi mu?"


"Bu, lihat perempuan udik ini. Dia menghina ku!" adu Kiran pada Sinta.


"Kau lihat ini...?" ujar Sinta sambil menunjukan sertifikat rumah.


"Kembalikan pada ku!" Via hendak mengambil sertifikat namun Kiran langsung mendorong wanita itu hingga nyaris terjerembab ke belakang.


"Berapa uang yang kalian inginkan?" tanya Evan yang tiba-tiba ada di belakang Via menahan tubuh wanita itu.


"Kau lagi, siapa kau sebenarnya?" tanya Sinta kesal, "Kenapa kau ada di sini?"


"Kembalikan sertifikat itu, jika tidak....!"


"Jika tidak aku akan melaporkan kalian ke polisi atas tindakan perampasan secara paksa!" ancam Evan membuat Sinta dan Kiran saling pandang.


"Tidak, berikan aku uang dua ratus juta maka aku akan menyerahkan sertifikat ini," Sinta tetap kekeh.


Via memutar bola matanya jengah, selama ini dirinya selalu mengalah namun kali ini Via harus berani melawan demi rumah peninggalan ibunya.


"Ajak mereka berdebat terus. Aku akan mengambil sertifikat itu," bisik Via pada Evan langsung di setujui oleh Evan.


Evan terus mengajak Sinta dan Kiran berdebat. Sedangkan Via terus memantau sertifikat yang sejak tadi melayang-layang di udara di permainkan oleh Sinta.


"Dapat,.....!" ujar Via yang sudah berhasil merebut sertifikat tersebut.

__ADS_1


Sinta terkejut, "Brengsek!" umpatnya, "Via kembalikan pada ku!"


"Tidak, ini rumah ibu ku. Bukan milik kalian. Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini," usir Via.


"Bu, bagaimana?" tanya Kiran panik.


Sinta berusaha merebut kembali namun di halangi oleh Evan, "Jika kalian tidak pergi dari rumah ini, aku akan memanggil polisi untuk mengusir kalian!" ancam Evan.


"Kau ini siapa sebenarnya? Jangan ikut campur urusan kami," teriak Sinta.


"Dia calon suamiku. Sudah pasti dia akan ikut campur dalam masalah ku!" ucap Via membuat mata Evan langsung melotot, "Jangan marah, sebentar saja!" bisik Via Pada Evan.


"Cepat pergi...!" usir Evan sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi.


Sinta dan Kiran langsung masuk ke dalam rumah untuk mengemasi barang-barang mereka kemudian pergi.


Via tertawa senang ketika melihat ibu tiri dan saudara tirinya pergi dari rumahnya.


"Pada akhirnya aku bisa mengusir mereka juga!" ucap Via yang benar-benar bahagia.


"Tarik ucapan mu tadi, aku bukan calon suami mu!" kata Evan.


"Aku kan hanya bercanda. Terus, ngapain kau disini?" tanya Via curiga, "Kau khawatir pada ku ya...!" tebak Via menunjuk wajah Evan.


"Diam kau!" sentak Evan, "Jika bukan atas perintah papah, aku juga lebih memilih liburan dari pada menyusul mu seperti ini," Evan berbohong dan mengatas namakan papahnya.


"Sepertinya aku tidak memberitahu papah mu tentang masalah ini. Dari mana dia tahu?"

__ADS_1


"Anu, itu...papah memiliki banyak anak buah. Sudah pasti mereka mematai kita!" lagi-lagi Evan berbohong dan yang lebih bodohnya, Via percaya begitu saja dengan ucapan Evan. Sebisa mungkin Evan menunjukan wajah ketidaksukaan nya pada Via agar Via tidak merasa curiga.


__ADS_2