
"Aku melihat mu makan siang bersama Randi, apa kau ingin menyakiti papah ku?" tanya Evan yang sudah geram dengan sikap Via.
"Papah mu saja tidak repot kenapa kau yang kepanasan?" tanya Via, "apa kau mematai ku?"
"Enak saja!" seru Alan, "Jika kau suka dengan Randi lebih baik kau putuskan hubungan dengan papah ku. Jika tidak,....!
"Jika tidak apa?" tanya Linda memotong ucapan Evan.
"Jika tidak aku akan bersikap kasar pada mu!"ancam Evan.
Via tertawa, lalu bertanya, "Mumpung kita di atas atap, kenapa kau tidak mendorong ku jatuh saja?"
"Kau ini sepertinya benar-benar menantang!"
"Aku tidak menantang mu, dari pada aku hidup sebatang kara lebih baik aku menyusul kedua orangtua ku!" kali ini mimik wajah Via sangat serius.
"Kau enak mati masuk surga, aku malah membusuk di penjara!"
"Randi bukan tipe ku, aku dan dia hanya berteman. Jadi, kau jangan takut jika aku akan berpindah ke lain hati," ucap Via.
"Jadi, seperti apa tipe mu?" tanya Evan penasaran.
"Seperti kau!" jawab Via dengan netra mata lembut menatap Evan.
Evan bergidik ngeri, pria sungguh tidak bisa membedakan ucapan serius dan bercanda yang di lontarkan oleh Via.
"Kau ini memang memiliki dua kepribadian!"
"Terserah apa kata kau, aku mengatakan yang sebenarnya!" kata Via kemudian wanita itu pergi.
__ADS_1
Evan bingung sendiri, dia juga yang meminta Randi untuk mengejar Via tapi dia juga yang merasa tidak rela.
Jam pulang kerja, Randi sudah menunggu di loby kantor milik pak Theo. Membuat para karyawan merasa penasaran siapa yang di tunggu oleh pengusaha muda ini.
"Ngapain di sini?" tanya Via menghampiri Via.
"Aku sengaja menjemput mu," jawab Randi dengan senyum lebarnya.
"Benarkah?" tanya Via sedikit meninggikan suaranya.
"Eh, bukannya itu Via dan Randi temannya itu ya?" tunjuk Lili membuat wajah ekspresi wajah Evan langsung berubah.
Dengan langkah lebarnya Evan menghampiri Via dan Randi.
"Mau kemana kalian?" tanya Evan penasaran.
"Tidak, Via pulang bersama ku," ujar Evan.
Randi mengerutkan dahinya karena bingung dengan sikap Evan, "Van,....!" seru Randi.
"Oh begini, papah meminta ku untuk membawa Via pulang. Ada pekerjaan sedikit katanya!" Evan yang sedikit malu langsung mencari alasan.
"Van, kau yang benar saja?" Lili tidak terima.
"Dari pada aku di tendang oleh papah ku, bagus aku membawanya pulang!" ujar Evan lalu menarik tangan Via yang sejak tadi hanya diam saja.
Randi dan Lili hanya bisa berdiri sambil memandangi mobil Evan yang sudah menjauh pergi. Sepanjang perjalanan Via hanya diam, wanita itu malah sibuk memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Heh, kau kenapa?" tanya Evan, "biasanya kau mengoceh seperti burung!"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja!" jawab Via pelan.
Sekali lagi Evan melirik Via, wajah wanita itu tiba-tiba terlihat pucat. Evan langsung menyentuh kening Via namun dengan cepat Via menepisnya.
"Kenapa tiba-tiba kau panas seperti ini?" tanya Evan panik.
"Aku hanya lelah, aku ingin tidur!" lirih Via.
Buru-buru Evan melajukan mobil menuju apartemen Via. Evan melihat nafas nafas Via yang sudah menderu seperti orang kelelahan.
"Sudah sampai, cepat turun!" ujar Evan.
Via hanya membuka matanya sebentar lalu menutupnya lagi.
"Biarkan aku tidur sebentar di sini. Aku sangat lelah!" ucap Via pelan.
"Aku harus pulang," ujar Evan, "Via bangun!"
"Em, dasar anak durhaka!" umpat Via yang masih sempatnya mengeluarkan suara, "ku mohon, sebentar saja. Aku benar-benar lelah!"
Evan turun dari mobilnya lalu menghampiri Via dari pintu samping. Evan kembali menyentuh kening Via yang ternyata semakin panas.
"Hah, kening mu seperti gunung merapi saja panasnya. Apa kau benar-benar sakit? tanya Evan dengan bodohnya, "apa aku harus menelpon calon suami mu?"
"Van, aku hanya ingin tidur. Ku mohon jangan ganggu aku!" ucap Via dengan mata terpejam.
Semenit dua menit Evan berpikir, pada akhirnya pria ini langsung menggendong Via menuju apartemennya. Sesekali itu melirik wajah Via yang terlelap tidur.
"Calon ibu macan ini ternyata cantik juga!" batin Evan.
__ADS_1