
"Sayang, apa kau puas?" tanya Evan ketika melihat senyum lebar istrinya.
"Tentu saja, terimakasih suami ku!" jawab Via lalu mengecup bibir suami.
"Jadi, nanti malam gantian kau yang harus memuaskan ku!" gurau Evan.
"Lihat perut ku, apa kau tidak kasihan pada ku?"
"Hanya bercanda. Tapi, kau cukup diam saja, biarkan aku yang menggoyang mu!"
"Bicara mu ini, jika mami dan papah dengar bagaimana?"
"Biarkan saja, mereka memiliki ranjang sendiri. Tidak ada hubungannya dengan kita!"
"Menyebalkan!" seru Via.
"Nah, sudah selesai...!" ujar Evan yang baru selesai merakit mainan kuda-kudaan.
"Wah, sangat lucu!" Via gemas sendiri melihat dua mainan yang bisa bergoyang di depannya.
"Nanti malam, kau diam saja. Cukup aku yang menggoyangkan maju mundur seperti ini," ujar Evan sambil memainkan kuda-kudaan tersebut.
"Terserah kau!" seru Via, "tidak akan ada habisnya jika membahas masalah menggelikan seperti ini,"
__ADS_1
"Geli-geli tapi enak ya kan...!" Evan mentoel pipi istrinya.
"Wah, apanya yang geli enak Van?" tanya mami Gitta yang tidak sengaja mendengar ucapan Evan.
"Oh, anu mah. Jelly, Via ngidam Jelly!" bohong Evan.
"Aku lagi...!" Via geram.
"Wah, kamar ini sangat lucu. Mami tidak sabar menunggu mereka lahir,"
"Papah juga gak sabar mau gendong bayi mungil...!" sambung pak Theo yang baru saja masuk ke dalam kamar khusus untuk calon anak Evan dan Via.
"Bikin sendiri dong, enak aja main gendong!" ejek Evan membuat mata pak Theo melotot.
"Bajingan seperti mu memang perlu di beri pelajaran. Apa kau mau memiliki adik dan anak dalam satu waktu? jika iya, papah buatkan sekarang juga!"
Evan melirik kearah Via, "Jangan pah,...!" ucap Via dan Evan bersamaan.
Evan menghampiri papahnya, lalu berkata, "Jangan marah-marah pah. Ada baiknya papah membantu Evan merakit tempat tidur untuk cucu-cucu papah."
Secuil kebahagiaan dari keluarga kecil Evan. Gerak Via memang terbatas, namun wanita ini sangat bersemangat jika itu tentang anaknya.
Berganti bulan, semakin besar semakin berat pula perut yang di bawa Via. Bahkan tak jarang Via suka menangis ketika kaki dan punggungnya mengalami nyeri. Dengan sabar dan setia Evan merawat sang istri, biar bagaimana pun ini semua akibat goyangan Evan setiap malam tanpa absen.
__ADS_1
Evan juga sudah mempersiapkan rumah sakit dengan ruang rawat dan juga Dokter ternama yang akan menangani istrinya nanti. Berbagai macam hadiah juga sudah beberapa kali di terima Evan dan Via dari rekan bisnis mereka.
"Aku lapar, aku hanya ingin makan!" ucap Via dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak ada yang melarang mu makan sayang. Apa mau aku suapi lagi?"
"Makan sedikit begah, gak makan lapar. Aku harus bagaimana?" keluh Via.
Evan menghela nafas panjang, tidak tega melihat istrinya yang begitu kesusahan dalam masa kehamilannya ini.
"Maafkan aku, waktu itu aku meminta enam. Dua saja sudah membuat mu kewalahan apa lagi enam!"
"Makanya, kalau ngomong itu di jaga. laki-laki tahu enaknya saja!"
"Jangan marah lagi, minum susu ya...!" bujuk Evan.
"Tidak mau!" tolak Via, "aku mual jika minum susu!"
Mami Gitta menoleh ke arah pak Theo yang sejak tadi diam saja.
"Mami buatkan salad buah atau salad sayur aja ya?" tawar mami Gitta.
"Aku hanya ingin makan isian kue sus saja mi...!" ujar Via.
__ADS_1
"Pergi ke toko kue Van. Cepat...!" titah pak Theo.
Buru-buru Evan pergi sebelum selera makan istrinya berubah kembali. Mami Gitta yang sayang dan perhatian pada Via suka memijat kaki menantunya ini yang terlihat sangat bengkak. Lumayan lah, untuk mengurangi rasa nyeri.