
"Berhenti memainkan rambut ku!" sentak Via yang sudah kesal sejak tadi.
Sepanjang jalan-jalan mengelilingi pusat kota, Evan terus memainkan rambut istrinya. Entah kenapa Evan menjadi senang mengganggu Via.
"Kau istri ku sekarang, aku berhak mengganggu mu!" jawab Evan dengan santainya merangkul pundak Via.
"Lama-lama kau sangat menyebalkan!"
"Sayang, seharusnya kau senang karena aku mau menerima perjodohan ini. Cepat katakan terimakasih pada ku!"
"Hih, bilang aja kau menyukai ku!" sahur Via geram.
"Ternyata pacaran setelah menikah itu enak ya. Dari pada pacaran lama-lama tapi tidak naik pelaminan."
"Itu kan kau saja, kasihan!" seru Via mengejek.
"Ayo makan es krim...!" Evan menarik tangan istrinya.
"Dasar bocah!" seru Via hanya menurut saja.
Semakin dekat dengan Evan, Via mulai mengetahui satu persatu sifat suaminya. Evan suka bercanda, lebih tepatnya suka membuat orang lain jengkel. Tidak bisa bersikap romantis, tapi Via tidak peduli akan hal itu.
Sementara itu, Sinta dan Kiran tanpa memiliki rasa malu datang bertamu ke rumah pak Theo. Mata anak dan ibu itu jelalatan melihat-lihat isi rumah mewah milik pak Theo.
"Silahkan di minum. Tuan Theo sebentar lagi akan turun!" ujar bibi sambil meletakan dua cangkir teh hijau.
"Terimakasih!" ucap Sinta.
Bibi pamit ke kebelakang, Sinta dan Kiran buru-buru mengicipi teh tersebut.
__ADS_1
"Lihatlah, harga gelasnya saja bisa untuk makan kita satu bulan," ujar Sinta.
"Enak sekali Via itu, sedangkan kita harus tinggal di kontrakan kecil!"
"Seharusnya kamu yang duduk di rumah ini, bukan anak sialan itu!"
"Ehem,...ehem....!" pak Theo berdehem mengejutkan ibu dan anak itu.
"Pak Theo ya," tebak Sinta.
"Ya, ada perlu apa mencari saya?" tanya pak Theo sambil mendaratkan pantatnya di sofa.
"Saya ibunya Via dan ini Kiran saudaranya Via." Sinta memperkenalkan diri.
"Lalu, ada keperluan apa?"
"Iya om, kenapa Via tidak mengundang kami?" timpal Kiran.
"Via dan Evan sedang pergi bulan madu. Masa ini saya tidak tahu!" ujar pak Theo yang pura-pura tidak tahu.
"Apa karena kami miskin dia tidak mau mengakui kami sebagai keluarga. Sebagai seorang ibu yang merawat Via sejak kecil, saya merasa terluka!" ucap Sinta menunjukkan wajah sedihnya.
"Dasar jahat Via itu...!" seru pak Theo dengan wajah kesalnya.
"Iya om, Via sangat jahat. Via juga mengusir kami dari rumah dan sekarang aku dan ibu terluntang lantung," ujar Kiran.
"Ya ampun, jahat sekali menantu ku itu. Kenapa harus dia yang menikah dengan anak ku?" pak Theo bergeleng kepala.
"Saya merasa sedih!" ucap Sinta dengan air mata kepalsuan.
__ADS_1
"Jadi, sekarang saya harus apa?" tanya pak Theo bingung.
"Sebaiknya, pak Theo dan anak bapak berpikir lagi untuk menjadikan Via sebagai menantu sebelum terlambat!" Sinta mulai menghasut pak Theo.
"Begitu ya, kalau begitu kami harus hati-hati pada Via,"
"Benar om, Via hanya menginginkan harta saja. Buktinya kami di buang dan di usir."
"Aku tidak mau orang jahat masuk dalam keluarga ku. Terimakasih sudah mengingatkan ku!" ucap pak Theo.
Sinta dan Kiran saling lirik, tersenyum puas karena mereka pikir sudah berhasil menghasut pak Theo.
"Ini ada sedikit uang, bisa di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari," ujar pak Theo menyodorkan amplop coklat, "masalah Via, nanti akan saya bicarakan dengan anak saya!"
"Tidak usah pak, kami sudah terbiasa hidup sederhana!" tolak Sinta.
"Tidak apa-apa, ambil saja."
"Saya sangat malu pak, kami datang kesini bukan untuk meminta uang tapi hanya ingin bertemu Via."
"Ah, sudahlah. Uang ini tidak seberapa, ambilah."
Terus menolak namun pada akhirnya Sinta dan Kiran keluar dari rumah pak Theo dengan membawa segepok uang.
Mata mereka melotot lebar melihat uang tersebut. Sinta buru-buru menghitung uang pemberian pak Theo.
"Lihatlah bu, belum apa-apa kita sudah mendapatkan uang. Jika kita berhasil menendang Via, bayangkan berapa banyak uang yang akan kita dapat?"
"Kau benar, ternyata anak ibu ini pintar juga!" puji Sinta pada anaknya.
__ADS_1