
Mami Gitta dan pak Theo tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Evan mengenai Via tadi siang. Keberanian Via sangat di acungi jempol oleh mereka berdua.
Evan sendiri tidak pernah percaya jika dalam hidupnya akan mendapatkan istri yang sangat bar-bar. Padahal, tipe Evan dulu adalah seorang perempuan yang lemah lembut dan anggun. Namun semua itu tidak berlaku dalam diri Via, Evan menyadari jika memiliki istri seperti Via jauh lebih menyenangkan.
"Papah bangga sama kamu Via. Jika begini, papah gak khawatir lagi jika rumah tangga kalian di usik orang luar," ujar pak Theo.
"Kau sangat hebat Via. Jadi perempuan itu harus berani dan jangan mau di tindas," timpal mami Gitta.
"Via hanya akan diam jika di goyang saja. Beda sekali loh,...!" kata Evan membuat wajah Via seakan di lempar telur busuk.
"Duh mulut mu ini bee, di dengar orangtua gak enak!" bisik Via.
"Sudahlah, mari beristirahat. Sudah malam!" kata pak Theo lalu mengajak istrinya masuk ke kamar begitu juga dengan Evan dan Via.
Di atas tempat tidur, Via mendadak gelisah membuat Evan merasa terganggu.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Evan.
Tidak menjawab, tiba-tiba saja Via naik dan duduk di atas perut suaminya. Via menatap tajam mata Evan sambil melepas kancing piyama milik suaminya.
__ADS_1
"Kau menggoda ku?" tanya Evan mulai terpancing.
"Aku akan memuaskan mu malam ini bee!" ucap Via dengan nada manjanya.
Ada apa dengan Via, perempuan ini biasa hanya diam dan menurut jika berhubungan suami istri tapi malam ini nampak agresif.
Via bermain di area sensitif milik suaminya, membuat Evan langsung menegang tak karuan. Evan suka Via malam ini, rasanya lebih beda dari malam-malam sebelumnya.
"Terus sayang, terus,....kau sangat pandai malam ini." malam ini terdengar rintihan Evan yang lebih keras, karena biasanya Via yang akan mengeluarkan suara seperti ini.
Sudah tidak tahan lagi, Evan membalik tubuh istrinya. Rasanya tidak adil jika hanya dirinya yang mendapatkan kepuasan. Evan liar, pria ini banyak belajar untuk memuaskan istrinya.
"Aku juga!" seru Via lalu tubuh keduanya saling menggelinjang menahan kenikmatan surga dunia.
Evan dan Via benar-benar puas malam ini. Siraman kehangatan membuat mereka semakin saling mencintai.
"Bee, aku ingin mandi..!" ucap Via.
"Malam-malam begini?"
__ADS_1
"Air hangat, ayo lah. Aku ingin berendam bersama mu!" rengek Via.
"Baiklah sayang. Ayo Gasss....!"
Evan langsung menggendong istrinya ke kamar mandi. Rasanya sudah biasa jika melihat tubuh polos dari pasangan masing-masing. Selesai berendam tubuh mereka sudah kembali segar. Evan dan Via mulai berlayar ke pulau mimpi.
Malam berganti pagi, masih sama seperti kemarin. Sebelum berangkat ke kantor Via membeli beberapa camilan dan wanita ini juga tidak ingin bekerja. Evan juga nampak biasa saja, pria ini hanya fokus pada pekerjaannya namun sesekali tertawa melihat tingkah lucu sang istri.
"Sayang, aku suka kau yang tadi malam!" ucap Evan dengan santainya karena di ruangan ini cuma ada mereka berdua.
"Aku sudah gila, entah kenapa aku jadi haus jika melihat mu!" sahut Via merasa aneh pada dirinya sendiri.
"Aku sih tidak masalah. Setiap malam juga boleh!" ujar Evan.
"Hih, melelahkan!" seru Via.
"Untuk sebuah kenikmatan, tidak apa-apa jika harus berlelah dulu,"
"Ah, jangan di bahas. Aku malu jika mengingat diri ku tadi malam!" ucap Via menutup wajahnya. Tentu saja hal tersebut membuat Evan semakin senang menggoda istrinya.
__ADS_1