
"Ada Van?" tanya pak Theo bingung ketika melihat Evan dan Lili masuk tanpa permisi kedalam ruangannya.
"Via, apa benar kau sudah mengancam Lili?" tanya Evan.
Via menutup berkas lalu menjawab dengan santainya, "Benar, lalu kenapa?"
"Tuh kan, dia benar mengancam ku Van. Aku tidak terima!" ucap Lili kembali mengeluarkan air matanya.
"Hmmm,...drama nih!" batin Via.
"Ada apa Via?" tanya pak Theo belum memahami masalahnya.
"Begini pak, Via tadi mengancam saya. Saya sangat ketakutan!" adu Lili.
"Apa maksud mu mengancam Lili. Kau juga bekerja di sini, kenapa kau menyuruh untuk mengundurkan diri dari kantor ini?" tanya Evan memperjelas masalah.
Pak Theo mengubah posisi duduknya, sedikit melonggarkan dasi lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Oh, begitu!" seru Via, "ngomong-ngomong kapan aku mengancam mu seperti itu?" tanya Via, "bukankah kau sendiri yang menarik tangan ku dan membawa ku ke atas atap!"
Jleeeb...
__ADS_1
Wajah Lili mendadak panik.
"Bohong, kau yang menarik ku secara paksa!" kilah Lili.
"Jadi, yang mana yang benar?" tanya Evan geram.
"Lili,...Lili,...kau pandai sekali memutar balikan fakta. Kenapa kau tidak bermain sinetron saja?" tanya Via tertawa.
"Diam kau!" sentak Lili, "kau bahkan mengancam ingin mendorong ku tadi. Apa kau tidak tahu bagaimana ketakutannya aku!"
"Diam!" bentak pak Theo yang sudah muak dengan Lili.
"Aku tidak membela siapa-siapa di sini. Via, di mana kau bertemu dengan Lili sebelum ke atap tadi?" tanya pak Theo.
"Bohong!" bantah Lili.
"Van, coba kamu lihat cctv. Jadi kita akan tahu mana yang berbohong dan mana yang jujur!" titah pak Theo.
Ketika Evan hendak keluar, Lili langsung menarik tangan Evan dan menahan pria itu.
"Percaya pada ku Van!" ucap Lili memohon.
__ADS_1
"Kau ini kenapa?" tanya Evan, "jika kau benar, kenapa kau harus menahan ku seperti ini?"
Lili semakin panik, wanita ini mencoba mencari alasan namun tak berapa lama pak Theo kembalikan laptopnya dan menunjukan rekaman yang terjadi.
"Kau membohongi ku?" Evan tidak terima.
"Yah, ketahuan deh. Kasihan!" cibir Via.
"Van, ini tidak benar. Pak Theo, ini adalah fitnah." Lili masih mencoba membela diri.
"Tanpa harus aku bergerak ke ruangan cctv, aku bisa mengetahui apa yang sedang karyawan ku lakukan. Aku memantau semuanya!" ujar pak Theo membuat wajah Lili langsung pias dan tertunduk.
"Kau di pecat!" seru Evan langsung keluar dari ruangan papahny.
Lili tidak meminta maaf pada Via, wanita ini langsung mengejar Evan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Dari awal, Evan sudah bisa menebak siapa yang salah. Karena Evan bisa melihat ketidaksukaan Lili pada Via.
"Van, semua aku lakuin hanya untuk kamu!" ucap Lili.
"Aku menemui mu untuk bekerja di sini. Bukan untuk membahas soal perasaan. Aku tidak menyukai mu, apa kau tidak memiliki telinga hah?" suara Evan terdengar marah.
"Dan kau tahu sendiri jika aku sudah menyukai mu sejak lama. Kenapa kau tidak bisa membuka hati mu sedikit saja untuk ku Van?" tanya Lili merasa sedih.
__ADS_1
"Jangan memaksakan sebuah perasaan Lili. Kau hanya menyukai ku, bukan mencintai ku. Aku hanya menganggap mu sebagai teman saja!" tegas Evan kemudian berlalu pergi.
Lili marah, wanita ini tidak terima atas penolakan Evan. Sejak dulu Evan selalu menolak cintanya, Lili benar-benar marah.