Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
24.Menurutmu?


__ADS_3

Selesai sarapan Evan dan Via langsung berangkat. Perjalanan ke kota S membutuhkan waktu selama tiga jam. Evan mengemudi sendiri, membuat Via merasa tidak enak hati.


Sementara itu, Lili merasa gelisah karena sampai detik ini dirinya tidak melihat kedatangan Evan. Hanya ada Theo, Lili sangat malas jika harus bertanya pada lelaki paruh baya itu.


Namun,rasa penasaran Lili jauh lebih besar jadi wanita ini harus rela menebalkan wajahnya untuk bertanya pada pak Theo.


"Maaf pak, jika saya boleh tahu,kenapa pak Evan tidak berangkat ke kantor?" tanya Lili sangat canggung.


Pak Theo menatap Lili tajam dari atas ke bawah, "Evan sibuk, dia sedang mengantar Via ke luar kota!" jawab pak Theo jujur.


Lili sontak kaget, "Apa pak? kok bisa?" tanyanya tidak percaya.


"Kenapa kau yang repot. Sebaiknya kau kembali bekerja. Jangan sibuk mengurusi Evan!" ujar pak Theo lalu mengacuhkan Lili.


Hati Lili sesak bagai di lempar buah kelapa. Wanita ini mencoba menghubungi Evan namun ponsel pria itu tidak aktif.


"Sialan, apa sih maunya Via itu?" gerutu Lili kesal.


Sedangkan Via dan Evan, sesekali mereka saling bergantian menyetir. Via sangat bisa di andalkan, itulah yang membuat Evan senang.


"Aku mau bertanya sesuatu pada mu," ujar Evan membuka suara. Sejak malam masih ada hal yang sangat mengganggu pria itu.

__ADS_1


"Apa?" tanya Via singkat.


"Kau mempertahankan rumah mu, tapi kau tidak ingin tinggal di sana, kenapa?" tanya Evan yang penasaran.


"Karena aku tidak akan melupakan apa yang sudah terjadi di rumah itu. Rumah itu mengajarkan untuk lebih berhati-hati lagi dalam memilih calon suami dan seorang teman," jawab Via kembali merasa sedih.


"Jadi, ini kah salah satu alasan mu menikah dengan orang yang lebih dewasa dari mu?"


"Menurut mu?" tanya Via balik.


"Apa kau tidak merasa malu?"


"Untuk apa malu, jika yang tua bisa membahagiakan, apa salahnya?"


"Lalu, bagaimana dengan kau? kenapa kau sampai sekarang tidak menikah juga? apa yang kau tunggu sebenarnya?" cecar Via kesal.


"Suka-suka aku lah, enakan juga sendiri...!" jawab Evan.


"Kalau begitu ya suka-suka aku juga. Kenapa kau yang repot?" balas Via.


"Tapi kenapa harus kau yang akan menikah dengan papah ku hah?" Evan gregetan.

__ADS_1


"Jadi, harusnya dengan siapa? dengan kau?"


"Hah, dengan aku?" Evan menunjuk dirinya sendiri, "Gila saja aku jika harus menikah dengan perempuan seperti kau!"


"Lalu seperti apa tipe mu?" tanya Via mulai mengulik.


Evan menoleh kearah Via lalu kembali fokus pada kemudinya, "Aku pernah di khianati, itu membuat ku tidak percaya dengan perempuan."


Kata-kata Evan yang barusan keluar membuat Via penasaran dengan masa lalu pria tersebut.


"Jangan hanya karena kau di khianati oleh satu orang kau memukul rata semua sifat wanita."


"Lalu bagaimana dengan kau? hanya karena kesalahan orangtua mu kau jadi memilih pasangan. Toh, belum tentu mereka juga sama seperti ayah mu!"


"Memilih itu wajar. Kau belum tahu rasanya di khianati oleh cinta pertama mu. Ayah atau ibu mu maksudnya."


Evan terdiam, lelaki ini berpikir apakah setiap orang memiliki trauma sendiri dalam memilih dan menjalin suatu hubungan.


"Apa yang kau suka dari papah ku?" tanya Evan.


"Lalu apa yang kau suka dari ku?" tanya Via balik, "Ku dengar kau adalah laki-laki pendiam dan dingin bahkan acuh pada orang lain. Tapi, setelah aku mengenal mu ternyata kau banyak mulut!"

__ADS_1


"Jika aku bertanya pada mu, harusnya kau jawab. Bukan malah balik bertanya. Aneh saja pertanyaan mu itu,"


"Aku berhak tidak menjawab. Mengemudilah yang baik, aku ingin tidur sebentar!" ujar Via membuat Evan kesal dan sangat kesal.


__ADS_2