Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
92.Sabar Ya Van!


__ADS_3

Marahnya Evan ternyata masih berlanjut di meja makan di saat makan malam. Pria ini meninggalkan Via di meja makan bahkan tidak berniat untuk menyapa siapa pun di meja makan.


"Dia kenapa?" tanya pak Theo bingung.


"Marah sama Via pah!" jawab Via jujur.


"Heh, kenapa? kok bisa?" mami Gitta penasaran.


"Via gak sengaja bertanya tentang Kiran dan mantannya yang tiba-tiba menghilang. Evan marah, dia tidak suka Via membahas tentang mereka!"


"Tidak salah jika kau bertanya. Evan memang seperti itu, dia tidak suka membahas apa pun terlebih lagi orang yang sudah menyakitinya,"


"Tapi, Via merasa bersalah pada Evan!" ucap Via sedih.


"Jangan berpikir yang aneh, kasihan anak mu!" mami Gitta menepuk pundak Via.


Via kembali ke kamar seorang diri, untung saja mereka sudah pindah ke kamar bawah jadi Via lebih leluasa bergerak. Via melihat suaminya sibuk dengan ponselnya hanya bisa menghela nafas panjang lalu naik keatas tempat tidur.

__ADS_1


Evan tidak juga menegur atau mengingatkannya untuk minum vitamin. Via mulai merasa sesak dadanya karena sejak siang tadi Evan terus mengacuhkannya.


Via mengatur tempat untuk posisi nyamannya untuk tidur. Wanita kemudian terlelap begitu saja tanpa di elus-elus suaminya.


Evan melirik ke arah ranjang, melihat Via yang sudah terlelap tidur.


"Tidak meminta maaf, dasar keras kepala!" batin Evan yang masih kesal pada istrinya.


Evan yang berniat menyelimuti Via, tidak sengaja melihat mata sembab Via. Matilah Evan, laki-laki ini sudah bisa menebak pasti Via tadi menangis tanpa suara.


"Apa aku sudah membuatnya menangis?"


Malam telah berganti pagi, Via bangun terlebih dahulu dari suaminya. Sejak memasuki usia kehamilan tujuh bulan, hampir setiap pagi Via rajin sekali mandi.


Wanita ini pergi ke dapur, meminta bibi untuk membuatkan segelas susu dan roti isian daging juga potongan buah apel. Via duduk di taman seorang diri, menikmati udara pagi yang masih segar seperti ini.


"Sayang, kenapa kau tidak membangun ku?" tanya Evan yang tiba-tiba duduk di hadapan Via.

__ADS_1


Wajah Via langsung cemberut, wanita ini meletakan kembali roti yang masih tersisa sedikit di tangannya.


"Sayang mau kemana?" tanya Evan yang seakan lupa jika sejak siang kemarin sampai malam dirinya sudah mengacuhkan Via.


"Aku mau istirahat!" jawab Via benar-benar acuh.


Evan mengejar istrinya ke kamar, namun Via langsung mendorong tubuh Evan dan mengunci pintu kamar.


"Sayang buka pintunya....!" Evan mengetuk Pintu.


"Makanya Van, sudah tahu istri hamil besar suasana hatinya suka berubah-ubah kau lagi yang sok acuh pada dia...!" pak Theo mencibir Evan.


"Sabar ya Van, mami gak mau ikut campur loh. Ibu hamil itu memang seperti itu, mudah terbawa perasaan!" kata mami Gitta.


Tidak bisa masuk ke dalam kamar, Evan berkacak pinggang sambil membujuk Via agar mau membuka pintu. Segala macam rayuan Evan keluarkan, namun tetap saja Via mau membuka pintu.


"Sayang,...!" panggil Evan dari jendela tralis dengan tirai terbuka, "buka pintunya dong!" senyum Evan melebar.

__ADS_1


Via menatap Evan dengan wajah datar, wanita ini turun dari atas tempat tidur dan langsung menutup tirai. Habislah Evan, sekarang gantian Via yang marah.


__ADS_2