
"Loh, ngapain papah di apartemen Via?" tanya Evan mendadak gugup.
"Dan kalian kenapa tiba-tiba berdua seperti ini?" pak Theo bertanya balik.
Evan sudah merasa tidak enak hati ketangkap basah oleh papahnya. Sedangkan Via nampak biasa saja.
"Oh, ini gak sengaja ketemu Evan tadi pak. Jadi dia mengantar saya pulang," ujar Via menjelaskan.
"Oh begitu!" pak Theo seakan percaya begitu saja, "Em Via, ini ada sesuatu untuk kamu," pak Theo memberikan sesuatu yang entah apa isinya.
"Apa ini isinya pah?" tanya Evan yang malah penasaran.
"Lah, kenapa kau malah ingin tahu hah?" selidik Via.
Evan membuang wajah acuhnya, "Hanya ingin tahu saja!" seru pria itu.
"Ini hanya jam tangan biasa. Papah gak sengaja melihatnya tadi jadi langsung papah beli. Ini couple loh!" ujar pak Theo memperjelas membuat mata Evan melebar.
"Pah, papah aja gak pernah membelikan Evan jam tangan kenapa malah Via yang papah belikan?" protes Evan.
"Pulang sana!" usir pak Theo.
"Pah,....!"
"Pulang sana Van!" timpal Via juga ikut mengusir Evan.
Evan menarik nafas panjang, ingin sekali rasanya Evan menyentil mulut Via. Lelaki ini akhirnya masuk kedalam mobil dan langsung pulang. Begitu juga dengan pak Theo.
Baru saja Via hendak masuk ke dalam lift, tangan kekar menarik wanita itu keluar.
"Lepaskan aku!" Via mencoba berontak, "kau ini kenapa sih Ran?" tanya Via kasal.
"Aku hanya ingin memberi mu ini," ujar Randi menyodorkan paper bag yang dia bawa.
"Apa ini?" tanya Via penasaran.
"Aku sengaja membeli makanan kesukaan mu tadi. Kau bisa memakannya nanti,"
"Di mana kau membelinya?" tanya Via mulai tertarik mengerjai Randi.
"Di restoran xxx. Aku sedang ada acara makan siang bersama keluarga, ku lihat ada menu ini jadi aku teringat dengan mu."
Via melipat kedua tangannya di dada, tertawa geli melihat sikap Randi.
"Dengan keluarga?" Via mengulangi perkataan Randi.
__ADS_1
"Iya, aku makan siang bersama keluarga ku tadi,"
"Haha,...Randi,...Randi,...makan siang bersama keluarga apa sama perempuan cantik?"
Seketika wajah Randi menjadi gugup. Namun, dengan cepat pria ini mencari alasan.
"Aku serius, sejak kapan aku berbohong?"
"Apa kau tidak melihat aku dan Evan saat di restoran tadi?" tanya Via membuat Randi mati ucap, "ku lihat kau dan pacar mu saling menyuapi, apa itu keluarga mu?"
"J-jadi,...kau dan Evan ada di restoran tadi?" tanya Randi yang tidak percaya.
"Tidak, kami ada di dapur tadi...!" jawab Via kesal, "bawa lagi makanan mu, aku sudah kenyang. Apa lagi dengan kebohongan mu, semakin kenyang dan tambah kenyang!"
Via buru-buru masuk kedalam lift, meninggalkan Randi yang sudah tak bisa menahan rasa malunya.
"Aaa...sialan!" umpat Randi.
Sementara itu, setibanya di rumah Evan terus melakukan protes pada papahnya. Pak Theo hanya bisa menghela nafas panjang, punya anak satu-satunya tapi harus membuat dirinya memperbanyak lagi rasa sabar.
"Kau ini terkenal dingin dan pendiam Van. Jika ada perempuan yang menyukai mu dan mengetahui sifat asli mu, papah yakin dia akan mundur. Bukan mundur pelan lagi, tapi langsung jungkir balik!" ucap pak Theo.
"Pah, Evan mohon...!"
"Tolong batalkan pernikahan papah dan Via. Malu pah, malu sudah tua!"
"Papah yang menikah kenapa kau yang malu?" tanya pak Theo, "apa jangan-jangan kau menyukai Via hah?" tunjuk pak Theo tepat di depan wajah anaknya.
"Mana ada seperti itu...!" bantah Evan, "papah gak kasihan melihat mamah di atas sana?" Evan menunjuk langit-langit rumah mereka. Dengan bodohnya pak Theo mendongak ke atas.
"Mamah mu sudah berada di akhirat Van. Lagian, dia juga akan senang melihat papah menikah dengan gadis muda yang pastinya akan merawat papah nanti,"
"Pah, mamah nangis loh!"
"Sudahlah Van, jangan bawa-bawa mamah kamu yang sudah bahagia di akhirat sana. Mamah kamu sedang minum teh, percaya sama papah!" ucap pak Theo kemudian masuk kedalam kamarnya.
Evan mengeram kesal, membuat kedua pembantunya tertawa geli.
"Yang sabar ya tuan!" ucap bibi yang seumuran dengan pak Theo.
"Bi, kenapa tidak bibi saja yang menikah dengan papah hah?" tanya Evan yang sudah sangat kesal.
"Bibi sudah alot tuan, tuan Theo mah maunya yang masih seger, kenyal dan empuk!" ucap bibi lalu tertawa.
Sudah gila rasanya Evan, laki-laki ini memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Evan berendam air hangat untuk sekedar melupakan apa yang sudah terjadi. Namun, lagi-lagi bayangan Via selalu saja menari-nari dalam otaknya.
__ADS_1
"Hah, perempuan ini maunya apa coba?"
Evan kesal, buru-buru mengambil handuk untuk menutupi burung perkututnya. Evan langsung berganti pakaian, melirik jam yang ternyata sudah hampir memasuki jam makan malam.
Laki-laki ini turun, Evan belum melihat papahnya di meja makan.
"Papah mana bi?" tanya Evan.
"Belum keluar, mungkin sebentar lagi," jawab bibi.
"Bilangan sama papah, aku keluar dulu!" pesan Evan langsung di iyakan bibi.
Benar gila ban mobil Evan ini, entah kenapa pria ini malah pergi ke apartemen Via. Dengan santai nya Evan memencet bel dan tak berapa lama Via membuka pintu.
"Mau apa kau?" tanya Via sedikit terkejut.
"Aku juga tidak tahu mau apa aku sayang kesini...!" jawab Evan begitu santainya. Tiba-tiba hidung mancung pria ini mengendus bau sesuatu.
"Hih, kau ini kenapa seperti tikus?" tanya Via heran.
"Kau sedang masak ya...?" tanya Evan lalu menerobos masuk begitu saja.
"Dasar tamu tidak sopan!" Via hendak menarik Evan keluar namun pria itu sudah sampai di dapur.
"Wah, sepertinya enak. Aku akan numpang makan," ujar Evan.
"Gak ada, sana pergi. Ini hanya cukup untuk ku saja!"
"Kau kan calon ibu ku, seharusnya kau bersikap baik untuk mengambil hati ku,"
"Jika aku sudah mengambil hati mu, maka tidak akan ku lepaskan!" sahut Via.
"Kata-kata mu mengerikan. Cepat masak, aku menunggu di meja makan!" titah Evan yang bergaya seolah dia adalah sang pemilik rumah.
"Evan, sialan kau!" umpat Via.
"Yang penting aku tampan!" seru Evan.
"Menjijikan, untung aja tampan jika tidak akan ku tolak bajingan ini," gerutu Via kesal.
Tak berapa lama Via sudah selesai dengan masakannya dan sudah menghidangkan di atas meja makan.
"Ku pikir mulut mu saja yang bisa menyerocos, ternyata kau jago masak juga. Coba dulu lah, enak apa gak!" ucap Evan benar-benar membuat selera makan Via menghilang.
"Aku menambahkan racun tikus loh dalam masakan ku!" kata Via membuat Evan langsung memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1