
Evan langsung mencengkram leher pak supir saking geramnya. Ingin sekali Evan memukul wajah pak supir namun Arlan langsung menahannya.
Arlan menarik Evan agar menjauh dari pak supir.
"Tenang Van, tenangkan diri mu!" ucap Arlan.
"Bagaimana aku bisa tenang? istri ku tiba-tiba menghilang tapi dia baru mengabari ku!"
"Kalian, cek semua cctv yang ada di sekitar sini," titah Arlan pada anak buah pak Theo.
"Jika kalau pun Via pergi ketempat lain. Dia pasti akan meminta izin pada ku, ini ada yang di tidak beres!" kata Evan begitu yakin.
"Maaf tuan, nona Via di culik!" ucap salah seorang memberitahu Evan.
Evan benar-benar panik, pria ini langsung melihat rekaman cctv yang berhasil di dapat anak buah pak Theo.
"Lacak mobilnya!" titah Evan langsung pergi mencari istrinya.
Sementara itu, Via yang sekarang sudah di sekap di sebuah gudang dekat perbatasan kota hanya bisa menangis dengan kepala yang masih tertutup, mulut di lakban dan kaki tangan yang di ikat di kursi besi berkarat.
"Buka...!" titah suara berat yang sangat di kenali Via.
__ADS_1
Kain di lepas, mata Via melotot tidak percaya siapa yang ada di depannya.
"Kenapa, apa kau ingin bicara?" tanya pria itu, "lepas lakbannya!" titahnya lagi.
"Randi, lepaskan aku!" pinta Via dengan suara seraknya.
"Sebenarnya sudah sangat lama aku ingin bermain seperti ini dengan mu. Tapi, baru hari ini aku menemukan mu keluar seorang diri," kata Randi membuat Via terkejut.
"Jadi, selama ini kau menguntit ku?"
Randi tertawa renyah lalu menunjuk seseorang yang berdiri sedikit jauh dari Via.
"Bagaimana Via, apa kau senang sekarang?" tanya Kiran menghampiri Via lalu menjambak rambut Via, "sudah lama aku menahan emosi ku, hari ini akhirnya aku bisa membuat mu menderita juga!"
"Sialan kau Kiran!" umpat Via, "dasar manusia licik!"
Plaaaakk,....
Kiran menampar wajah Via.
"Hanya karena kau pingsan beberapa waktu lalu, perusahaan keluarga ku di cap buruk. Papah ku bahkan sudah tidak mempercayai ku lagi. Via,....semua gara-gara kau!" ucap Randi dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Ku dengar kau sedang hamil, ada bagusnya jika anak mu ini mati. Evan pasti akan sangat membenci mu!" kata Kiran membuat Via ketakutan.
"Jangan sakiti anak ku!" ucap Via dengan isak tangisnya.
Kiran menarik nafas dalam, tersenyum aneh pada Via, "Ada baiknya kau menyusul ayah dan ibu mu. Itu sepertinya jauh lebih baik dari pada kau hidup sekarang," kata Kiran.
"Kau sangat jahat Kiran. Kenapa kau dan ibu suka mengusik ku hah?"
"Itu karena kau tidak mau menuruti semua keinginan aku dan ibu. Kau bersikap seolah kau manusia paling berani. Jadi, aku sangat membenci mu Via, aku tidak senang melihat kau hidup bahagia...!"
"Sama seperti Kiran, sebenarnya aku hanya penasaran saja dengan kau. sepertinya mencicipi tubuh mu lumayan juga!" kata Randi semakin membuat Via ketakutan.
"Lepaskan aku...!" Via mulai berontak.
Randi dan Kiran menertawakan Via yang mencoba melepaskan diri.
"Evan tidak akan datang menolong mu. Tempat ini sangat jauh!" kata Randi, "Via,...Via,...andai saja kau tidak menolak cinta ku. Mana mungkin aku akan menyakitimu seperti ini,"
"Bajingan seperti mu tidak pantas untuk di cintai. Kau hanya laki-laki yang suka bergonta ganti pasangan!" ucap Via membuat Randi marah.
Langkahnya lebar maju ke depan menghampiri Via lalu memukul wajah perempuan itu. Darah segar mulai mengalir dari sudut bibir, nafas Via mulai terlihat sesak.
__ADS_1