
"Apa ku bilang, mereka hampir dua hari sekali pergi ke tempat itu," ujar Kiran.
"Tapi, bagaimana caranya kita menculik Via sedangkan Evan selalu ada di sampingnya?" Randi berpikir sejenak.
"Aku juga tidak tahu. Kapan waktunya itu tapi, kita harus terus memantau mereka,"
"Sepertinya, sejak dulu kau sangat membenci Via. Kenapa?" tanya Randi penasaran.
"Ya karena aku tidak suka aja melihat dia bahagia. Aku heran, kenapa Via bisa kenal keluarga pak Theo dengan sangat akrab. Aku sepertinya pernah melihat wajah pak Theo."
"Kapan?" tanya Randi semakin penasaran.
"Kalau tidak salah ingat, saat pemakaman ibu Via dan ayah Via. Aku ingat betul, pak Theo datang hanya dua kali itu," Kiran mulai ingat.
"Oh, mungkin ibu atau ayah Via berteman dengan pak Theo!" kata Randi.
"Ah, masa bodoh. Aku hanya ingin membuat hidup Via hancur. Aku tidak senang melihat dia bahagia," tegas Kiran, "Lalu, kenapa kau sangat terobsesi dengan Via?"
"Hanga sekedar penasaran. Biasanya perempuan seperti Via itu susah jatuh cinta sekalinya jatuh cinta terus di sakiti dia akan sangat hancur,"
"Lalu, apa hubungannya?" tanya Kiran tidak mengerti.
"Aku hanya ingin melihat seberapa tangguh dia jika di sakiti. Di banding dengan perempuan anggun, perempuan ceria seperti Via lebih menantang!" kata Randi yang pada dasarnya hanya ingin mempermainkan Via.
__ADS_1
"Kaliankan berteman sangat lama. Aku baru tahu jika kau memiliki pemikiran seperti itu,"
"Tidak terlalu lama juga sih. Saat sekolah aku dan dia hanya berteman beberapa bulan lalu aku lulus dan melanjutkan pendidikan ku keluar negeri. Kau tahu itu bukan?"
"Terserah apa kata mu. Ternyata kau sama jahatnya seperti ku!" ujar Kiran menertawakan Randi.
Kiran masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Randi. Wanita ini juga tidak terlalu mengenal Randi lebih dalam.
Sementara itu, Via dan Evan yang nampak bahagia setelah melakukan konsultasi. Wajah Evan sangat sumringah, seakan mendapatkan asupan tenaga meskipun hanya sekedar kata-kata dari Dokter.
"Suami mu kenapa?" tanya mami Gitta penasaran.
"Namanya juga laki-laki mi, kemarin aja layu. Eeeh, pulang dari Dokter langsung segar!"
"Hehe,...mami tahu aja!" seru Via malu-malu.
"Meskipun mami belum pernah hamil. Tapi, mami tahu kebutuhan laki-laki," bisik mami Gitta.
"Bisik-bisik apa tuh?" tanya pak Theo mengejutkan Via dan mami Gitta.
"Mau tahu aja!" sahut mami Gitta.
"Sayang, cepat masuk kamar. Ngapain kamu di bawah hah?" tanya Evan setengah berteriak dari lantai dua.
__ADS_1
Buru-buru Via memberikan salah satu paper bag berisi kue khusus untuk kedua mertuanya. Wanita ini langsung naik menyusul suaminya ke kamar.
"Kamu itu kenapa sih? cuma ngobrol sama mami doang!"
"Jika kau lama-lama mengobrol lama-lama sama papah dan mami, otak mu pasti akan di cuci sama mereka,"
"Jahat kali, sama orangtua sendiri juga!"
"Sudahlah, cepat mandi. Mau mandi berdua?"
"Apa bedanya dengan kau, lama-lama dekat mu isinya cuma mesum semua!"
"Hih, wajarlah. Kita kan sudah menikah,"
"Halah, dulu aja sok sibuk menentang. Sekarang aja nempel!" cibir Via.
"Lagian, kau juga ngapain mau nikah sama kakek-kakek?"
"Lah, suka-suka aku dong. Jodohkan mana ada yang tahu!"
"Hih, sekarang kau sedang hamil. Untung saja anak ku, jika kau menikah dengan papah, apa kabar aku yang tahun depan akan di panggil kakak?"
Via tertawa, geli juga rasanya mengingat hal seperti ini. Bukan hanya Via, Evan jauh lebih geli jika seandainya Via benar menjadi ibu tirinya dan dia akan di panggil kakak di umurnya yang sudah tiga puluh tahun.
__ADS_1