
"Makan makanan mu atau ku colok mata mu!" ucap Via yang sudah salah tingkah karena sejak tadi Evan terus memandangnya tanpa henti.
"Mau lagi,...!" rengek Evan membuat Via terkadak.
Buru-buru Evan menuangkan air minum untuk istrinya.
"Van, berhenti menggoda ku!"
"Tapi kau juga menikmatinya. Aku mau lagi," Evan terus merengek seperti bocah.
"Van, aku malu!" seru Via meninggalkan meja makan. Tentu saja Evan langsung mengekor di belakang Via.
"Kita pergi bulan madu saja. Ternyata bikin anak itu menyenangkan. Sebentar, aku akan mengatur penerbangan kita," ujar Evan membuat Via semakin salah tingkah.
Apa pun yang di pegang Via menjadi serba salah. Via ingat lagi bagaimana suara rintihan dan ekspresi Evan di saat detik-detik mereka melakukan puncak bersama.
"Astaga, aku sudah gila...!" Via mengusap dadanya.
"Ayo pergi,....!" ajak Evan.
"Kemana?" tanya Via penasaran.
"Papah dan Arlan sudah menunggu di cafe dekat sini. Tapi, sebelum pergi pakai ini,...!" ujar Evan melemparkan hoodie miliknya.
"Untuk apa? gak mau ah panas!" tolak Via.
Evan menarik tangan Via, membawa istrinya masuk kedalam kamar.
"Lihat leher mu!" ujar Evan menunjuk ke arah cermin.
Buru-buru Via mengenakan hoodie milik suaminya.
"Dasar lintah, kau sudah membuat leher mulus ku menjadi cacat!" gerutu Via kesal.
"Tapi enak kan...?" Evan menggoda Via.
__ADS_1
Mereka kemudian pergi, setibanya di cafe yang sudah di janjikan Evan masuk sambil menggenggam tangan Via.
Bruuuuub....
Arlan menyemburkan jus yang baru saja dia minum ketika melihat Evan menggenggam tangan Via.
"Kau ini kenapa?" tanya pak Theo kesal.
"Anu om, lihat mereka!" tunjuk Arlan membuat pak Theo yang penasaran langsung membalikkan tubuhnya.
Pyaaaar.....
Gelas kopi yang di pegang pak Theo tiba-tiba jatuh dan pecah. Pria paruh baya ini terkejut ketika melihat anaknya yang berjalan masuk sambil menggenggam tangan Via dengan senyum lebarnya.
"Pah, aduh.....!" Via panik dan langsung melepaskan tangan Evan.
"Oh tidak apa-apa Via. Pelayan....!"
"Pah, kopinya masih panas. Lain kali hati-hati," ucap Via khawatir.
"Memangnya kami kenapa?" tanya Evan yang langsung duduk.
"Heh, kenapa kau memakai hoodie milik Evan?" tanya Arlan penasaran.
Panik lah Via, wanita ini bingung mencari alasan.
"Dia kedinginan, tadi malamkan hujan!" Evan mencari alasan.
"Dingin apa dingin....!" gurau pak Theo, "Ada apa dengan wajah mu?" tanya pak Theo yang menyadari jika wajah anaknya lebam.
"Biasa laki-laki," jawab Evan, "jangan di bahas!" ujar Evan yang merasa tidak enak hati pada istrinya.
"Via, bibir sariawan ya? kok seperti luka!" ujar Arlan menunjuk bibir Via yang sedikit memerah.
"Hah,...eh....gak kok!" panik lah Via.
__ADS_1
"Diam kau!" sentak Evan.
"Sudahlah, papah hanya ingin tahu kenapa tiba-tiba kalian ingin pergi liburan?" tanya pak Theo.
"Ya mau bulan madu lah om. Ih, om seperti gak pernah muda aja!" celetuk Arlan semakin membuat Via dan Evan salah tingkah.
"Sekali lagi kau bicara akan ku tendang dari sini," ancam Evan.
"Tidak malasah jika kalian ingin pergi bulan madu. Tapi, jangan lupa bawakan papah oleh-oleh!"
"Papah mau oleh-oleh apa?" tanya Via dengan polosnya.
"Cucu....!" seru pak Theo lalu tertawa terbahak-bahak.
Via melirik kearah suaminya, Evan hanya tersenyum lebar.
"Oh ya Van, papah ingin menyampaikan sesuatu pada mu!" ujar pak Theo kembali serius.
"Silahkan di minum...!" ucap pelayan yang mengantar minuman untuk Evan dan Via.
"Apa itu pah?" tanya Evan menyeruput cappuccinonya.
"Minggu depan papah akan menikah!" ucap pak Theo membuat Evan menyemburkan minumannya. Bukan hanya Evan, Via dan Arlan juga sama.
"Hah,...papah bercanda lagi ya...?" tanya Evan terkejut.
"Heh Via, katakan jika ini hanya bercandaan kau dan om Theo saja?"
"Tidak, aku benar-benar tidak tahu!" ujar Via.
"Kenapa kalian terkejut, apa salahnya mencari pendamping hidup? emangnya Evan aja yang mau bahagia?"
"Pah, kali ini siapa yang mau sama papah?" tanya Evan penasaran bahkan pria ini menertawakan papahnya sendiri.
"Sayang.....!" sapa seorang perempuan membuat Evan, Via dan Arlan langsung menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1