Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
81.Kau Menguping?


__ADS_3

Masih tetap sama, di peduli tempat jika pagi hari Evan masih merasakan yang namanya morning sickness. Via tidak bisa membantu suaminya karena Evan melarang Via turun dari tempat tidur.


Dokter dan perawat yang baru saja mengecek keadaan Via hanya bisa melihat Evan yang terus bolak balik kamar mandi.


"Menurut ku, ini sangat adil. Istri yang hamil suami yang mengidam. Andai suami ku seperti ini dulu. Jadi, dia bisa mengerti bagaimana susahnya hamil!" ucap perawat membuat Dokter dan Via tertawa.


"Tapi, aku cukup kasihan melihat suami ku seperti ini. Hampir setiap pagi loh,...!" kata Via.


"Biarkan saja, biasanya laki-laki hanya tahu enaknya saja. Mereka pikir hamil dan melahirkan itu gampang, biar mereka peka dan lebih perhatian lagi kepada kita pihak istri...!" ujar perawat tersebut.


Dokter pria di sampingnya hanya bisa tertawa garing. Mana mungkin dia mengeluarkan pembelaan karena di dalam ruangan ini ada dua perempuan.


"Kata siapa aku tidak perhatian sama istri ku hah?" tanya Evan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Bee, kau menguping?" tanya Via membuat Evan langsung membuang pandangannya.


Dokter dan perawat keluar, Evan mulai mengeluarkan omelannya karena tidak terima dengan ucapan perawat tadi. Via hanya bisa menertawakan suaminya, hal seperti itu saja membuat bisa membuat Evan kesal.


Ocehan Evan berhenti di saat mami Gitta dan pak Theo masuk kedalam ruangan dengan membawa pakaian ganti dan juga makanan.

__ADS_1


"Kapan Via di perbolehkan pulang?" tanya mami Gitta.


"Siang ini mi...!" jawab Evan.


"Oh, syukurlah!"


"Mami, lihatlah wajah ku. Jelek sekali," adu Via dengan manjanya.


"Kau tetap cantik sayang ku. Ini hanya sebentar!" kata mami Gitta.


"Sekali lagi kau membiarkan istri mu pergi seorang diri, akan ku penggal kepala mu!" marah pak Theo.


"Apa kata ku sayang,...!" seru Evan menghembuskan nafas kasar.


"Aku suaminya mi, kenapa harus keluar juga?" protes Evan.


"Keluar atau ku tendang kalian....!" ancam mami Gitta.


Mau tidak mau pak Theo dan Evan menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


Di luar ruangan, Evan menceritakan pada pak Theo apa yang di ceritakan oleh istrinya tadi malam. Bukan apa-apa, Evan merasa jika hal seperti ini bisa saja terjadi meskipun dirinya tidak mau percaya.


"Sinta tidak bohong. Itu semua adalah kebenaran," kata pak Theo membuat Evan terkejut.


"Apa maksudnya pah?" tanya Evan, "apa papah tahu tentang semua ini?"


"Papah cukup tahu cerita mereka. Hanya saja Sinta tidak mengenal siapa papah sebenarnya," kata pak Theo semakin membuat Evan penasaran, "sebenarnya, bukan ibu Via yang merebut. Mereka di jodohkan, orangtua dari ayahnya Via sangat menentang hubungan Sinta dan ayah Via."


"Dari mana papah tahu hal ini?" tanya Evan lagi.


"Sebenarnya, ibu Via adalah mantan kekasih papah. Kami berpisah secara baik-baik. Kami menjadi teman lalu berjanji untuk menjodohkan anak-anak kami kelak. Tidak peduli anak kami perempuan atau laki-laki yang terpenting bisa di jodohkan. Namun sayang, ibu Via meninggal jadi papah berpikir untuk tetap menjalankan amanah yang sudah kami buat bersama-sama." Pak Theo menceritakan kebenarannya.


"Jadi, aku dan Via adalah korban orangtua!"


"Kenapa? apa kau tidak suka? apa kau mau menceraikan Via?" tanya pak Theo yang sudah siap-siap dengan umpatannya.


"Tidak, aku mencintai Via...!" seru Evan.


"Bilang cinta aja kok susah. Jangan sok jual mahal Van!" cibir pak Theo sambil beranjak dari duduknya lalu masuk kedalam ruangan.

__ADS_1


"Apa-apaan, orangtua tapi mau menang sendiri. Perasaan tadi aku bilang mencintai via jadi kenapa papah bilang aku sok jual mahal?"


Evan mengomel sendiri, papahnya kalau bicara terkadang suka menyinggung perasaan Evan.


__ADS_2