Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
67.Aku Tidak Percaya


__ADS_3

"Kita sudah kembali ke rumah ini, apa yang akan kita lakukan bu?" tanya Kiran mulai bosan.


"Ibu juga bingung, percuma saja kita tinggal di sini kalau kita tidak memiliki sertifikat rumah ini."


"Via benar-benar sialan. Selama ini kita selalu mengalah, apa harus main kekerasan agar dia bisa tunduk pada kita?"


"Kau tahu sendiri jika Evan selalu mengekor di belakang Via. Bagaimana caranya coba?"


Kiran mulai berpikir, sudah cukup bagi Kiran untuk menahan kesabarannya selama ini. Wanita ini mulai merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Via.


"Aku punya ide bu...!" ujar Kiran lalu membisikan ide tersebut.


"Dari mana kita mendapatkan uang? sedangkan kita saja tidak bekerja!" tanya Sinta bingung.


"Untuk sementara, ibu harus merelakan perhiasan ibu di jual dulu," kata Kiran.


"Ibu gak mau, enak aja!" tolak Sinta.


"Ayolah bu, demi hasil yang akan kita tuai nanti," bujuk Kiran mau tidak mau Sinta mengikuti keinginan anaknya.


Sepakat, Kiran dan Sinta sudah sepakat untuk menjalankan rencana mereka.


Sore hari yang indah untuk bersantai, Via memandang kedua mertuanya yang sedang melakukan senam berdua.


Evan mengerutkan keningnya, memandang kearah istrinya yang sejak tadi tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Sayang, kau ini kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Evan penasaran.


"Papah mu sungguh tampan. Kenapa aku tidak menikah dengan pak Theo, kenapa harus menikah dengan mu?"


Pertanyaan Via membuat telinga Evan panas.


"Apa maksud mu hah?"


"Tidak ada, hanya sekedar memuji. Kenapa kau jadi marah hah?"


"Tentu saja aku marah. Apa kau menyukai papah ku sekarang?"


"Kenapa memangnya? pada awalnya kau sendiri yang tidak terima dengan pernikahan kita. Kau juga tidak pernah menyatakan cinta pada ku. Kau tidak pernah bersikap romantis pada ku. Tidak seperti papah yang memperlakukan mami Gitta, mereka sangat romantis!" tutur Via panjang lebar.


"Sayang, mau kemana?" tanya Evan namun tak mendapatkan jawaban dari istrinya, "dia itu kenapa, seharusnya aku yang marah. Bukan malah sebaliknya!"


Buru-buru Evan mengejar istrinya ke kamar.


"Sayang, istri ku, bunga hati ku dan belahan jiwa ku, kau ini kenapa?" tanya Evan dengan suara lemah lembutnya.


"Jangan ganggu aku, aku ingin sendiri...!"


"Sayang, katakan kau ingin apa? biasanya kau tidak seperti ini,"


"Kenapa harus bertanya, kenapa tidak berinisiatif sendiri. Dasar lelaki,tidak pernah peka!" kata Via benar-benar kesal pada suaminya.

__ADS_1


Evan menggaruk kepalanya tak gatal, beberapa hari ini sikap Via suka berubah-ubah.


Evan mengusap rambut istrinya, "Ya sudah, malam ini kita makan malam fi luar. Kau bebas memilih makanan mu seperti biasanya."


"Kau ingin aku gendut kah?" tanya Via tidak terima.


"Bukan begitu sayang, mana ada aku mengatai mu gendut," Evan menjadi serba salah, "astaga, kerasukan apa dia ini?" batin Evan.


Belum ada lima menit suasana hati Via kembali berubah kembali. Tiba-tiba wanita ini tersenyum sumringah saat mengingat sesuatu.


"Bee, malam ini aku ingin pergi jalan-jalan seperti orang pacaran," kata Via dengan wajah malu-malu.


"Iya sayang, kita akan pergi ke taman, biasanya di sana banyak orang pacaran!"


"Aku tidak pernah berpacaran, mana ada laki-laki yang mau sama aku. Makanya aku menerima tawaran papah mu!" ucap Via berterus terang.


"Yang benar saja, aku tidak percaya!" goda Evan.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang penting aku tidak pernah sakit hati hanya karena seseorang."


"Sayang, kau mengatai ku kah?"


"Jika kau merasa...!" seru Via tertawa.


"Melihat Rania yang sekarang, aku menyesal pernah kenal dan menjalin hubungan dengan dia," ucap Evan benar-benar menyesal.

__ADS_1


__ADS_2