Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
39.Pernikahan Ku!


__ADS_3

"Van bangun,...!" pak Theo mencabut bulu kaki anaknya yang masih tidur dengan pulasnya.


Evan yang sedang bermimpi mendaki gunung mendadak jatuh terguling-guling.


Aaaaaaaa.....


Evan melompat dari atas tempat tidur sambil mengusap betisnya.


"Apa sih pah, ganggu aja!"


"Sudah pukul enam pagi, bangun Van. Cepat bersiap karena pukul delapan acara pemberkatan akan segera di mulai," ujar pak Theo.


"Yang nikah papah kenapa Evan yang harus bangun pagi?" protes Evan.


"Karena kamu yang akan menggiring di altar," jawab pak Theo dengan santainya.


"Pah, aduh ih...apa gak ada orang lain gitu? sopir aja kalau gak security rumah kita aja gitu,"


"Van, kamu mau jadi gelandang ya?" ancam pak Theo.


"Pah, Evan mohon!" pria ini menangkupkan kedua tangannya memohon pada sang papah.


"Papah tidak main-main Van!" seru pak Theo, "urus dia...!" titah pak Theo pada dua orang penata busana.

__ADS_1


Evan menghela nafas panjang, mau tidak mau lelaki ini menuruti semua permintaan papahnya. Pukul tujuh pagi, Arlan juga tiba di hotel. Pria itu masuk kedalam kamar Evan dengan santainya.


"Nah, untung ada kau!" ujar Evan.


"Eh, apaan? mencurigakan!"


"Bagaimana jika kau saja yang mendampingi papah ku berjalan di altar?" tawar Evan.


"Enak saja, yang menikah papah mu kenapa harus aku yang berada di sana?"


"Ayo lah, bantu aku. Aku malu,...!" mohon Evan.


"Gak ada. Jika aku membantu mu, yang ada papah mu akan menendang semua usaha ku," tolak Arlan membuat Evan kesal.


"Katanya sahabat, bantu gini aja gak mau!" gerutu Evan.


Sudahlah, mau tidak mau Evan mengikuti permintaan sang papah. Evan melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul setengah delapan, Evan dan Arlan bergegas pergi ke gereja yang berada tak jauh dari hotel.


"Evan,...!" sapa Rania dengan senyum manisnya.


"Woh, kalau jandanya bentukan begini aku juga mau!" bisik Arlan pada Evan.


"Ambil sana. Aku tidak butuh!" seru Evan.

__ADS_1


"Van, kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Rania menunjukkan wajah sedihnya.


"Kenapa memangnya?" tanya Evan dengan wajah datarnya.


"Kau sangat tampan. Kalau boleh tahu, kau ingin menghadiri acara apa?" tanya Rania sok akrab.


"Pernikahan.....!"


"Pernikahan ku....!" Evan memotong ucapan Arlan.


"Kau akan menikah?" tanya Rania tidak percaya.


"Em iya. Evan hari ini akan menikah. Jadi, ada baiknya kami pergi sekarang. Nanti terlambat!" ujar Arlan lalu menarik Evan pergi.


Rania terdiam bingung masih mencerna ucapan Evan dan Arlan. Wanita ini masih belum percaya jika hari ini Evan akan segera menikah.


"Rania akan tertawa sampai ke akhirat jika dia tahu bukan kau tapi malah papah mu yang akan menikah hari ini," ujar Arlan.


"Aku tidak peduli. Dia bukan siapa-siapa ku jadi dia tidak berhak protes tentang hidup ku!" balas Evan.


Tak berapa lama mereka tiba di gereja, Evan benar-benar menarik nafas panjang lalu merapikan tuxidonya.


"Papah benar-benar gila, masa iya dia mengundang semua rekan bisnisnya seperti ini. Aku ingin mengubur diri dalam-dalam rasanya," ujar Evan yang sekarang memiliki wajah tebal.

__ADS_1


"Sabar Van, anggap saja ini cerita sebagai pelengkap dalam hidup mu. Kau bisa menceritakan kenangan ini pada anak cucu mu nanti jika sang kakek buyut pernah menikah dengan daun muda," tutur Arlan membuat Evan semakin kesal dan emosi.


Melihat para tamu silih berganti masuk kedalam gereja, apa lagi tamunya orang penting semua yang berhubungan dengan bisnis. Evan menimbang diri untuk masuk, lelaki ini bertambah bingung apa lagi Arlan terus mengompori pria ini.


__ADS_2