
"Sialan....!" umpat Lili, "bisa-bisanya mereka sekarang pergi bulan madu."
"Tahu dari mana kau?" tanya Rania yang mengenal Lili. Mereka juga dulunya berada di satu kampus yang sama.
"Aku bertanya dengan karyawannya,"
"Kau masih mengejar Evan?" tanya Rania penasaran.
"Tentu saja, apa salahnya?" tanya Lili kesal, "Evan tampan dan kaya raya, hidup ku akan terjamin jika aku bisa menikah dengan dia!"
Rania menertawakan Lili, membuat Lili semakin bertambah kesal.
"Kenapa kau tertawa hah? dasar janda buangan!"
"Sialan mulut kau ini...!"
"Memang kenyataannya begitu kan? kau meninggalkan Evan dan memilih menikah dengan laki-laki lain yang lebih kaya. Setelah suami mu bangkrut dan banyak utang kau menceraikannya. Menyedihkan!"
"Seharusnya memang seperti itu, ngapain kita hidup dengan laki-laki miskin!"
"Evan mana mau kembali pada mu. Barang sisa!" cibir Lili.
"Aku adalah cinta pertama Evan. Kami berpacaran hampir tujuh tahun, aku yakin jika dia masih mencintai ku!" ucap Rania dengan bangganya.
"Jika Evan mencintaimu, kenapa dia pergi bulan madu bersama perempuan udik itu hah. Mikir?"
__ADS_1
Rania terdiam, panas juga hatinya mendengar perkataan Lili.
Berbeda lagi dengan Kiran dan ibunya yang tak kalah panas ketika mengetahui kabar tentang pernikahan Via dan Evan. Anak dan ibu ini terus mengumpat pada Via.
"Pernikahannya sudah beberapa hari yang lalu, kenapa kita baru tahu sekarang?" ujar Sinta kesal.
"Ibu kan tahu sendiri, ponsel ku baru saja selesai di perbaiki dan aku juga baru tahu kabarnya. Keberuntungan apa yang menempel pada Via, sehingga dia bisa menikah dengan seorang pewaris tunggal seperti ini?"
"Jadi, laki-laki yang waktu bersama Via ternyata anak orang kaya. Bodohnya kita tidak mengetahui hal itu," Sinta menggerutuki dirinya sendiri.
"Bu, aku punya cara untuk menghancurkan pernikahan Via...!" kata Kiran dengan senyum liciknya.
Anak dan ibu itu kemudian mengatur rencana untuk merusak rumah tangga Via. Kiran yang merasa sangat cemburu dengan Via terus mengumpat pada saudara tirinya itu.
"Ternyata kau bisa romantis juga!" puji Via.
"Memangnya selama ini aku bagaimana?"
"Menyebalkan!" seru Via.
"Sayang ku, aku juga punya sesuatu untuk mu!" ujar Evan membuat Via penasaran.
"Sesuatu apa itu?" tanya Via benar-benar penasaran. Bukan apa, selama ini Via tidak pernah mendapatkan kejutan apa pun dalam hidupnya.
Dari kepalan tangannya Evan mengeluarkan sebuah kalung berlian yang sangat cantik sekali.
__ADS_1
Via mengapa kalung tersebut, hatinya terenyuh matanya juga berkaca-kaca.
"Kenapa kau memberi ku kalung?" tanya Via penasaran.
"Sejak mengenal mu, aku tidak pernah melihat mu mengenakan kalung atau perhiasan lainnya. Jadi, aku ingin melihat kau semakin cantik dengan pemberian pertama ku selain cincin pernikahan kita!" jawab Evan membuat Via semakin terharu.
Evan beranjak dari duduknya lalu memakaikan kalung tersebut pada istrinya.
"Terimakasih bee," ucap Via terdengar manis di telinga Evan.
"Kau semakin cantik. Uh, manisnya!" puji Evan lalu mengecup kening istrinya.
Makan malam kali ini membuat Via dan Evan benar-benar merasa bahagia. Meskipun cinta suka datangnya tiba-tiba, nyatanya dia mampu membuat orang bahagia.
"Wah, cantiknya perempuan itu," canda Evan membuat Via langsung mengangkat pisau potong daging dan garpunya.
"Mulai nakal kah?"
"Tidak sayang, hanya bercanda. Turunkan pisaunya!" ujar Evan tertawa kecil.
"Coba saja, akan ku kurangi jatah mu!" ancam Via.
"Jatah apaan?" tanya Evan tidak mengerti.
"Cepak...cepak...jeder!!" jawab Via membuat Evan langsung merengek minta ampun.
__ADS_1