
"Lihatlah Van, seru bukan menemani para istri belanja? mereka akan menghabiskan uang mu!" ujar pak Theo.
"Tapi, ini adalah aktifitas yang sangat membosankan!"
"Oh ayo lah Van. Mereka akan semakin menurut jika kita memperlakukan seorang istri bagai ratu."
"Aku sangat lapar pah. Sampai kapan mereka akan memilih pakaian itu?" Evan menghela nafas panjang.
"Sabar, lima menit lagi mereka akan selesai." Tebak pak Theo.
"Dari mana papah tahu?"
"Lihat saja!"
Ternyata benar, belum ada lima menit Via dan mami Gitta akhirnya keluar. Evan langsung membuang nafas lega.
"sayang, aku lapar!" rengek Evan.
"Ya sudah, kalau begitu kita cari makan!" kata Via.
"Mana belanjaan mu?" tanya Evan yang melihat istrinya tidak membawa barang belanjaan.
"Tidak ada. Hanya mami yang berbelanja."
"Kenapa, apa uang ku kurang banyak?" tanya Evan tidak terima.
"Aku tidak terbiasa berbelanja. Sebaiknya uangnya kita tabung saja!" jawab Via membuat Evan tercengang.
"Istri mu bukan seorang wanita penggila shopping Van. Jadi, pertahankan dia," kata mami Gitta.
Mereka kemudian pergi mencari tempat makan. Evan terus merengek kelaparan seperti bayi.
__ADS_1
"Bee, jika aku tidak berbelanja, apa boleh aku memesan banyak makanan?" tanya Via.
"Kau mau membeli restorannya juga boleh asal kau bahagia!" jawab Evan membuat senyum Via mengembang.
"Duh, jalan sama anak muda serasa kembali muda. Suami ku, bagaimana jika kita melakukan operasi plastik saja?" ujar mami Gitta.
"Untuk apa? wajah boleh tua tapi jiwa tetap muda," sahut pak Theo.
"Evan....!" sapa Rania, "siang om, siang tante...!" hanya Via yang tidak di sapa oleh Rania.
Evan langsung memutar bola matanya malas, "Mau apa kau?" tanya Evan tidak suka.
"Maaf, Van. Apa boleh kita bicara berdua?" tanya Rania tanpa malu.
"Tidak bisa. Apa kau tidak lihat jika suami ku sedang makan?" ketus Via.
"Ini siapa Van?" tanya mami Gitta penasaran.
Byuuuur.....
Tiba-tiba saja Via menyiramkan segelas jus ke wajah Rania.
"Apa yang sudah kau lakukan hah?" Rania langsung mengusap wajahnya.
"Di mana kau menyimpan wajah mu? Evan suami ku, bukan kekasih mu!" ucap Via dengan menekan kata suami.
"Jangan membuat kegaduhan di sini, sebaiknya kau pergi...!" usir pak Theo.
Evan tetap saja santai menikmati makanannya karena pria ini benar-benar kelaparan.
"Om, aku dan Evan tidak ada kata putus. Itu artinya kami masih memiliki hubungan, perempuan ini lah yang sudah merebut Evan dari ku!" ucap Rania dengan percaya diri.
__ADS_1
"Kata siapa kita masih memiliki hubungan?" tanya Evan menatap tajam ke arah Rania, "pergilah, aku tidak ingin melihat mu!" usir Evan.
"Kau pergi atau aku akan ......!" Via mengangkat semangkuk sup daging panas.
"Aku akan pergi,....!" ujar Rania buru-buru pergi.
Evan mengusap rambut istrinya, memuji sikap Via yang berani.
"Kau harus memberi ketegasan pada Rania Van. Papah tidak suka jika dia terus mengganggu mu!"
"Baik pah!"
"Ya sudah, cepat makan." Tegur mami Gitta.
Selesai makan, pak Theo dan mami Gitta langsung pulang karena sudah sangat kelelahan. Sedangkan Evan dan Via masih ingin berkeliling di pusat perbelanjaan meskipun tidak ada barang yang mereka beli.
"Sayang, aku ingin beli sesuatu...!" kata Evan langsung membawa Via ke outlet jam tangan.
"Mau beli jam?" tanya Via.
"Gak, mau beli penjaganya!" jawab Evan.
"Coba saja, akan ku cabut urat batang mu!" ancam Via berbisik.
"Hehe, tidak akan berani....!" Evan cengengesan.
Evan kemudian memilih beberapa jam tangan couple. Via menolak karena harga jam tangan tersebut sangat lumayan. Wanita ini menganjurkan agar suaminya membeli satu saja.
"Kau mau aku samaan dengan perempuan lain?" tanya Evan membuat Via langsung menunjukkan wajah marahnya.
"Coba saja kalau berani...!" kata Via geram, "ya sudah. Sepasang saja!"
__ADS_1
Senyum Evan langsung melebar. Via tidak pelit, hanya saja wanita ini tahu betul bagaimana susahnya mencari uang jadi dirinya tidak ingin berfoya-foya meskipun suami kaya.