Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
103.Benar Juga!


__ADS_3

Tidak bisa di hindari oleh Evan, lelaki ini mau tidak mau kembali pada rutinitas biasanya yaitu pergi bekerja. Meskipun sangat melelahkan, namun Evan harus tetap melaksanakan tanggung jawabnya.


Pak Theo sebenarnya sudah melarang Evan untuk pergi bekerja, tetapi Evan tidak ingin terlalu membebankan pada orangtuanya.


Rasa lelah Evan terbayarkan ketika melihat ketiga anak-anaknya yang setiap kali pulang kerja selalu menyambutnya.


Evan memeluk Via, menyandarkan dagunya di pundak sang istri.


"Sayang, aku sangat lelah. Butuh asupan tenaga!''


"Kau seorang suami dan ayah, kau harus memiliki pundak yang kuat. Tapi, mengeluh itu wajar saja sih!"


"Aku tidak mengeluh tentang pekerjaan apa lagi anak-anak kita. Yang membuat aku mengeluh, kapan kita bisa bergoyang bersama lagi?"


"Hih, sudah ku tebak kemana tujuan bicara mu ini...!" ujar Via.


"Sayang,...aku butuh vitamin...!" rengek Evan.


"Bee, apa kau tidak malu di dengar anak-anak mu hah?"

__ADS_1


"Mereka tidak akan mengerti, apa kau tega membiarkan ku bermain sendiri di kamar mandi?"


Sudahlah, Via tidak mau mendengar keluh kesah suaminya ini. Via tidak mau pikiran anak-anaknya di kacau oleh Evan yang suka membahas hal intim tentang ranjang.


Pesta untuk si kembar tiga akan di laksanakan dua hari lagi, pak Theo sengaja membatasi jumlah tamu undangan demi kenyamanan para cucunya.


Evan gemas sendiri ketika melihat kemeja Zay dan Ray yang sama seperti kemejanya. Terlihat lucu dan mungil, membuat Evan tidak sabar untuk melihat anaknya mengenakan kemeja tersebut.


Begitu juga dengan Via yang melihat gaun lucu untuk baby Kay. Suami istri ini terus cekikikan tidak percaya jika mereka sekarang sudah menjadi orangtua dari tiga anak kembar.


"Pilihan mami memang tidak pernah mengecewakan. Aku tidak sabar untuk melihat mereka bertiga mengenakan pakaiannya," kata Via.


"Dan kau akan menjadi bahan gosip sejagat kota. Tidak akan ada perempuan yang mau dengan mu,...!"


Via menertawakan suaminya, masih ingat betul bagaimana pasrah nya Evan ketika mengetahui sang papah akan menikah dengan daun muda.


"Aku akan pindah dari rumah ini. Sumpah, aku tidak akan pulang sebab aku malu!" ujar Evan.


Tanpa di sadari oleh Evan dan Via, sejak tadi pak Theo yang menguping hanya bisa menahan tawanya. Tidak salah memang jika pak Theo menjodohkan Evan dan Via dulu.

__ADS_1


Malam semakin larut, sudah biasa Evan dan Via terbangun tengah malam. Mereka saling membantu mengurus ketiga anak mereka jika terbangun malam.


Meskipun mata Evan masih sangat berat untuk di buka, tetapi pria ini harus tetap semangat dalam mencari rezeki. Sejak dua minggu belakangan, Evan sudah menggantikan jawaban sang papah. Sedangkan Arlan di tarik untuk bekerja di perusahaan Evan menggantikan posisinya yang dulu.


"Sejak memiliki anak dan kembali bekerja, aku melihat mu semakin dewasa dan berwibawa," kata Arlan memuji Evan.


"Tentu saja, aku adalah ayah dari tiga orang anak. Aku harus terlihat wibawa dan juga tegas!"


"Dulu aja gak mau nikah, sekarang malah memuji diri sendiri. Dasar kau Van...Van...!"


"Ya kan beda, coba dari awal papah dan Via berkata jujur," protes Evan.


"Jika mereka berkata jujur, apa kau akan setuju?"


"Em, benar juga. Mungkin sampai detik ini aku masih sama seperti mu."


"Sama seperti ku, apanya yang sama?" tanya Arlan tidak mengerti.


"Sama-sama jomblo!" seru Arlan kemudian pergi begitu saja.

__ADS_1


Arlan kesal sendiri dengan sikap Evan yang sejak menikah banyak omong. Evan yang sekarang juga suka mengejeknya, mengatai Arlan seorang bujang lapuk.


__ADS_2