
"Apa ini,....?" Randi melempar ponselnya ke sembarang arah ketika melihat beberapa foto pernikahan Evan dan Via yang saat ini sudah tersebar luas.
Lelaki ini tidak terima jika Via menikah dengan Evan. Begitu juga dengan Lili yang merasa tertipu. Sepengetahuan Lili, Via akan menikah dengan pak Theo kenapa sekarang malah menikah dengan Evan.
Lili mencoba pergi ke hotel tempat di mana pesta pernikahan Evan dan Via berlangsung. Namun sayang, pesta itu telah usai hingga membuat Lili mengumpat kesal.
Sementara itu, Via yang sudah berpakaian tidur sedang bersiap-siap untuk berlayar di atas pulau mimpi. Baru juga mau memejamkan mata, bel kamarnya berbunyi.
"Aku benar-benar lelah. Siapakah yang sudah mengganggu ku sekarang?"
Dengan sangat terpaksa Via membuka pintu kamarnya.
"Selamat malam Via,...!" sapa pak Theo dengan senyum lebarnya. Pria paruh baya ini datang ke kamar Via sambil menyeret Evan.
"Pah, ada apa?" tanya Via bingung.
pak Theo mendingan Evan pada Via hingga membuat sepasang pengantin baru itu hampir terjungkal kebelakang.
"Ini malam pertama kalian, sudah seharusnya kalian tidur berdua. Jadi, selamat menikmati...!" ucap pak Theo membuat Via terperangah.
Dengan santainya pak Theo meninggalkan kamar anak dan menantunya.
__ADS_1
"Umur ku akan panjang," ucap Via.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Evan.
"Karena aku punya mertua yang memiliki selera humor yang tinggi. Waktunya tidur, terserah kau mau tidur di mana aku tidak peduli asal jangan di tempat tidur ku saja!" ujar Via langsung naik ke atas tempat tidur.
"Enak saja kau ini, maksud mu aku tidur di lantai gitu?"
"Jadi kau mau tidur di mana hah?"
"Kau tidur di sofa, aku tidur di situ?" tunjuk Evan pada tempat tidur.
"Wah, bajingan ini tidak tahu diri. apa kau lupa jika kamar ini milik ku?"
"Kalau begitu tidur saja di sini," ujar Via sambil memberi batas pada kasurnya.
"Jika aku menyentuh mu bagaimana?" tanya Evan yang mulai memiliki pemikiran nakal.
Via menunjukan kepalan tangan yang tak seberapa itu.
"Coba saja, akan ku patahkan urat batang mu!" ancam Via, "jika kau berani macam-macam, aku akan menendang mu keluar!"
__ADS_1
Wanita itu kembali merebahkan diri, meskipun Via masih sangat canggung berada satu kamar dengan Evan, tapi wanita ini sadar jika mereka sudah menikah.
Evan yang benar-benar lelah langsung naik ke atas tempat tidur. Namun, lelaki ini tidak bisa tidur karena masih penasaran dengan satu pertanyaan yang sangat mengganjal hatinya.
"Via, aku tidak bisa tidur!" ucap Evan.
"Bukan urusan ku!" seru Via dengan mata terpejam.
"Apa semua karyawan tahu jika yang menikah itu aku bukan papah?" tanya Evan sangat penasaran.
"Em,....!" jawab Via tanpa membuka mulutnya.
"Tapi kenapa mereka semua tutup mulut dari ku?"
"Karena pak Theo mengancam akan memecat siapa pun yang berani membuka mulut. Pak Theo juga mengancam akan menarik semua kerjasama rekan bisnis yang coba-coba memberikan ucapan selamat terlebih dahulu pada mu. Para pembantu mu di rumah juga sama," jelas Via panjang lebar.
"Randi termasuk salah satu rekan bisnis papah. Kenapa dia tidak tahu?" Evan semakin penasaran.
"Karena pak Theo tidak mengundang dia. Ingin mengundang papahnya pun percuma, dia ada di luar negeri...!"
"Kerjasama kalian memang hebat.Aku yang pintar ini bisa termakan jebakan kalian!"
__ADS_1
"Diam kau!" sentak Via, "aku mau tidur. Aku benar-benar lelah Van,"
Seketika Evan terdiam, lelaki ini juga ikut memejamkan mata. Tubuh yang membuat mereka sama-sama tertidur dengan guling sebagai pembatas.