
Pulang ke rumah, Evan membantu istrinya keluar dari mobil dengan sangat hati-hati. Ternyata, ada pak
Doni yang sudah menunggu sejak tadi.Melihat wajah pak Doni, tangan Evan kembali mengepal emosi.
"Mau apa anda ke sini?" tanya Evan dengan wajah dinginnya.
"Saya dan istrinya datang kesini untuk meminta maaf. Pak Theo, bisa kita bicarakan masalah ini baik-baik," kata pak Doni.
"Lihat wajah istri ku, babak belur di hajar anak mu. Untuk saja calon anak ku baik-baik saja. Jika tidak, akan ku habisi anak kalian !" ucap Evan begitu geramnya.
Pak Doni dan istrinya ngeri sendiri melihat wajah Via, mereka langsung meminta maaf pada Via namun Evan langsung membawa istrinya masuk kedalam kamar.
Pak Theo dan pak Doni mencoba berbicara tentang masalah anak-anak mereka. Pak Doni juga tidak membela sikap jahat anaknya. Masalah Randi, biar hukum yang menyelesaikannya namun pak Doni memohon untuk melanjutkan kerja sama perusahaan mereka.
Pak Theo meminta waktu untuk berpikir, setelah mendapatkan sedikit penjelasan dari pak Theo, pak Doni dan istrinya langsung pulang.
Di dalam kamar, Evan tidak mau meninggalkan istrinya dan selalu menempel pada Via.
"Sayang ku, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Evan.
"Tidak, aku hanya ingin istirahat!" jawab Via.
"Sayang, rumah mu sudah bisa kudapatkan kembali," kata Evan memberitahu.
"Aku tahu itu, semua kerjaan papah. niatnya awalnya, papah ingin menjebak mereka. Tapi, malah seperti ini kejadiannya!" kata Via memberitahu.
__ADS_1
"Kau dan papah ini memang suka seperti itu. Suka bermain tanpa membawa ku!" rajuk Evan.
"Sebenarnya aku dan papah hanya ingin memberi mereka pelajaran saja. Eh, kebablasan seperti ini,"
"Jangan melibatkan diri mu dalam bahaya lagi. Jika tidak,....!"
"Jika tidak apa?"
"Aku akan mengurung mu di kamar dan terus memangsa mu!"
"Akibat kau, lihat sekarang perut ku sudah belendung. Siap-siap saja kau berpuasa nanti," ujar Via membuat Evan bingung.
"Apa maksud mu dengan berpuasa?" tanya Evan tidak mengerti.
"Tidak ada bee. Aku hanya bercanda!" kata Via tidak mau memberitahu maksudnya.
"Kau laki-laki baik, makanya aku mau di jodohkan dengan mu!" ucap Via dengan memaksakan senyumnya.
"Jangan tersenyum, itu pasti sangat sakit!"
"Berdosa jika aku tidak tersenyum pada suami ku!" sahut Via.
Suami istri ini saling mengobrol, tanpa sadar Via juga sudah terlelap tidur. Evan membenarkan posisi tidur istrinya lalu keluar kamar mencari sang papah yang ternyata ada di ruang kerja.
"Ada apa Van?" tanya pak Theo masih fokus dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Evan penasaran pah!"
"Penasaran apa lagi?"
"Jika papah benar-benar menjodohkan Evan dan via, lalu kenapa papah membiarkan Evan menjalin hubungan dengan Rania?" tanya Evan penuh selidik.
"Ya agar kau memiliki pengalaman yang bisa kau jadikan pelajaran. Papah memang membiarkan mu menjalin hubungan dengan Rania, tapi tidak untuk merestuinya. Kau tahu itu bukan?"
"Lalu kenapa papah baru menjodohkan Evan dan Via sekarang? bahkan membuat sandiwara seperti ini?"
"Selama ini papah berusaha mencari Via. Sejak ayahnya meninggal Via hidup berpindah-pindah.Sandiwara yang papah buat semata-mata untuk mempercepat perjodohan ini mengingat umur mu yang sudah bangkotan ini," jelas pak Theo membuat Evan bergeleng kepala.
"Ada-ada aja pah, kurang kerjaan atau apa sih?" Evan menggaruk kepalanya tak gatal.
"Ya untungnya kau dengan legowo menerima pernikahan ini. Jika tidak, papah akan menjalankan rencana kedua!" ujar pak Theo membuat Evan syok mendengarnya.
"Memangnya, ada berapa rencana sih pah?"
"Mau tahu saja. Sana keluar!" usir pak Theo.
Evan benar-benar tidak habis pikir dengan permainan papahnya.
"Seharusnya aku menentang, jadi aku bisa tahu rencana apa saja yang papah lakukan?"
"Sana keluar...!" sekali lagi pak Theo mengusir Evan.
__ADS_1
Evan hanya bisa membuang nafas kasar, keluar dari ruang kerja papahnya lalu kembali ke kamar menjaga istrinya yang masih terlelap tidur.
"Tunggu saja setelah anak mu lahir nanti...!" ucap pak Theo tertawa sendiri.