
Seorang wanita yang berpenampilan anggun namun terlihat centil. Usianya sudah memasuki empat puluh enam tahun tapi belum pernah menikah. Wajahnya awet muda, kulitnya masih sedikit kencang terawat.
"Oh haiii.... sayang!" pak Theo berdiri, mereka melakukan cipika cipiki. Evan, Via dan Arlan saling pandang kebingungan.
"Haiii semua.....!" sapa perempuan itu.
Via mengangkat tangannya, membalas sapaan perempuan tersebut.
"Kenalkan, namanya Brigitta. Calon istri papah!" pak Theo memperkenalkan.
"Panggil aja mami Gitta, karena mulai minggu depan mami akan segera menikah dengan my honey!"
"Astaga Van, aku yakin jika sekarang hidup mu yang semula dingin akan berubah panas!" ujar Arlan.
"Kalian pergi liburan saja, papah tidak masalah jika pernikahan papah tidak di hadiri kalian berdua!" kata pak Theo.
"Papah mengusir aku dan Via?" tanya Evan.
"Bukan begitu Evan anakku, sebagai pengantin baru kalian butuh waktu untuk berdua. Dan kami pun juga sama, butuh waktu untuk berdua!" tutur mami Gitta yang sok akrab.
"Astaga, yang tua begini saja ada pasangannya lalu siapa pasangan ku?" Arlan menepuk kepalanya.
__ADS_1
"Pah, kok Via tidak pernah tahu?"
"Ini urusan orangtua Via. Kamu tidak usah pusing memikirkannya!" jawab pak Theo.
"Ah, sudahlah. Terserah papah! kami pergi dulu, penerbangan sore ini," ujar Evan.
"Evan, Via,...jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh cucu ya. Jika tidak kami yang akan memberikan kali adik!" ucap mami Gitta membuat Evan dan Via bergidik ngeri.
"Terus, Arlan kemana om?" tanya Arlan bingung sendiri.
"Pergi sana, ganggu aja!" usir pak Theo.
"Mamah pasti sedang menangis sekarang," ucap Evan.
"Lah, menangis kenapa?" tanya Via.
"Melihat kelakuan papah yang sungguh menggelikan ini,"
"Jangan seperti itu, papah juga butuh kebahagiaan di masa tuanya. Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri."
"Aku sih tidak masalah jika dia menikah lagi. Untung saja sama-sama tua, jika masih muda seperti mu akan ku nikahi dia!"
__ADS_1
Plaaaak....
Via mentoyor tangan suaminya.
"Berani kau memadu ku, akan ku patahkan urat keturunan mu!" ancam Via.
"Jangan dong, aku kan belum puas menikmati uh ah uh ah nya!" ujar Evan membuat Via geli.
"Sayang, istri ku, nanti kalau udah tiba di luar negeri, kita gak usah keluar dari kamar ya...!" kata Evan membuat wajah Via kembali memerah.
"Katakan sekali lagi akan ku tendang kau!"
"Kau ini sangat galak. Tapi, jika di atas tempat tidur pasrah aja gitu!" ejek Evan benar-benar membuat Via malu setengah mati.
Via memalingkan wajahnya, menutup kedua telinganya karena Evan terus menggodanya. Laki-laki ini sudah jatuh kedalam hati Via, nyatanya sejak pagi Evan lebih senang menggoda istrinya.
Setibanya di apartemen, Evan dan Via langsung berkemas. Beberapa barang-barang Evan juga sudah di antar supir ke apartemen. Tak banyak yang di bawa mereka, karena Evan bilang akan membeli semua perlengkapan jika sudah sampai.
Mereka langsung pergi ke bandara, tidak usah memikirkan masalah pasport Via, semua sudah di urus oleh pak Theo dari jauh hari.
Di bandara, Evan terus menggenggam tangan istrinya tak mau lepas. Sesekali juga Evan memeluk Via di depan banyak orang. Via mungkin merasa malu, tapi tidak dengan Evan yang sangat menyukai aroma tubuh istrinya.
__ADS_1