
"Maaf om, apa bisa Randi bicara pada Via?" tiba-tiba Randi muncul di restoran tempat di mana Via dan pak Theo makan siang.
"Kalian saling kenal?" tanya pak Theo.
"Kami teman dekat sejak sekolah pak. Randi adalah kakak kelas saya!" Via memperjelas.
"Oh, silahkan!" Theo mempersilahkan.
"Terimakasih om!"
Via dan Randi sedikit menjauh dari keramaian. Sebegitu penasarannya Randi hingga membuat pria ini mengikuti Via sejak tadi pagi.
"Katakan pada ku dengan jujur, apa kau benar-benar akan menikah dengan pak Theo?" tanya Randi yang berharap jika Via mengatakan tidak.
"Ya, kenapa?" tanya Via sebegitu singkatnya.
"Via, apa kau tidak salah?" tanya Randi memastikan.
"Tidak, lagian kami sudah melakukan fitting gaun tadi. Aku serius Ran, kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Via, kau yang benar saja?" Randi masih tidak percaya, "Jika ada yang memaksa mu menikah dengan pak Theo, katakan saja. Aku bisa membantu mu, kasihan kau masih sangat muda!"
Via malah tertawa, membuat Randi bingung di buatnya.
"Yang muda belum tentu membuat kita bahagia. Lalu kenapa aku harus sibuk mempermasalahkan umur. Rand, aku pergi dulu. Tidak enak sama pak Theo."
Via berlalu pergi, meninggalkan Randi yang masih belum percaya jika Via akan menikah dengan seorang bapak-bapak.
"Ini akan lebih seru!" ucap pak Theo terkekeh sendiri.
Siang telah berganti malam, sejak tadi memandang papahnya dengan tatapan yang penuh selidik. Bahkan, nasi di piring pun hampir saja basi menunggu Evan untuk menguyahnya.
"Pah, masa iya Evan yang hampir tiga puluh ini mau punya adik?" tanya Evan yang masih sibuk memikirkan pernikahan papahnya.
"Lah kenapa, apa salahnya?"
"Apa kata orang pah? apa kata teman-teman papah juga rekan bisnis papah?"
"Mereka bahkan sangat mendukung. Bahkan, ada sebagian teman papah merasa iri karena papah bisa mendapatkan daun muda. Kamu harusnya bangga sama papah Van!"
__ADS_1
Semakin hilang selera makan Evan, laki-laki ini memutuskan untuk pergi. Evan memutari jalanan yang terlihat ramai malam ini. Tidak berniat untuk bertemu Arlan karena Evan masih sangat kesal.
"Itu kan Randi,...!"Evan menepikan mobilnya lalu menghampiri Randi yang sedang duduk galau di cafe yang tepat berada di pinggir jalan.
Tanpa permisi dan basa basi Evan langsung duduk di kursi depan Randi hingga membuat Randi sedikit terkejut.
"Ada apa dengan mu tuan Evan?" tanya Randi yang sangat penasaran dengan wajah kusut Evan.
"Kau teman Via, tolong bantu aku!" ujar Evan yang sudah tidak tahu lagi ingin mengadu kemana.
"Masalah Via yang akan menikah dengan papah mu?"
"Em, ku lihat kau menyukai Via. Masih ada waktu satu bulan untuk kau mengejar Via. Tolong bantu aku, mau kau suka atau tidak dengan Via, tolong bantu aku agar mereka tidak menikah!"
"Jujur saja, aku sudah menyukai Via sejak dulu. Hanya saja saat itu aku tidak menyatakan perasaan ku karena aku tidak ingin membuat Via sedih," Randi mulai mengungkapkan isi hatinya pada Evan.
"Orang menyatakan cinta itu malah bahagia,bukannya sedih," sahut Evan.
"Itu karena aku harus melanjutkan pendidikan ku keluar negeri,"
__ADS_1
Evan mengerti, untuk sekarang pria ini bisa bernafas lega karena Randi juga ingin membatalkan pernikahan Via dan pak Theo. Jadi malam ini Randi dan Evan saling mengobrol, banyak hal tentang Via yang di ketahui Randi. Sedikit banyaknya mendengar cerita Randi, membuat Evan merasa gusar.