Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
86.Tidak Ada


__ADS_3

"Itu kan mantan Evan. Kenapa mereka ada di sini?" tanya mami Gitta berbisik pada suaminya.


"Biarkan saja, mungkin mereka penasaran!"


"Gak punya muka ya, sudah janda baru mau balik sama Evan lagi. Ih, gemes deh!" ucap mami Gitta.


"Heh,...!" pak Theo memanggil anak buahnya, "awasi dua perempuan itu, jangan sampai mereka menyentuh menantu ku!" titah pak Theo.


"Baik tuan!"


Di pesta ini, kelihatan sekali Rania berusaha mencari perhatian Evan. Namun, Evan dan Via semakin terlihat sangat romantis.


Lili nampak biasa saja, wanita ini sebenarnya hanya terobsesi untuk mendapatkan Evan saja. Sifatnya hampir sama seperti Randi, cuma penasaran. Berbeda dengan Rania yang kembali ingin bersama dengan Evan.


"Aku muak melihat perempuan itu, seperti sengaja memanasi ku!" ucap Rania yang sudah panas hatinya.


"Bilang saja kau cemburu!" seru Lili.


"Diam kau!" sentak Rania.


"Kau bilang Evan tidak akan mencintai Via, nyatanya sekarang dia hamil anak kembar!" cibir Lili.


Semakin dongkol hati Rania, apa lagi menurut berita pak Theo lah yang membuatkan acara pesta seperti ini.


"Mau kemana kau?" tanya Lili.


"Ke toilet sebentar!" jawab Rania yang sudah tidak tahan melihat kemesraan Evan dan Via.

__ADS_1


Ternyata, Rania pergi mencari seseorang pelayan yang bisa di ajak kerja sama. Dengan membayar sedikit uang, Rania berhasil menyogok seorang pelayan.


Entahlah, apa yang sudah di lakukan Rania, pelayan tersebut datang kemeja Evan dan Via lalu memberikan segelas minuman pada Via.


"Silahkan di minum nona!" ucap pelayan tersebut, Evan dan Via tidak merasa curiga karena minuman Via juga hampir habis.


"Terimakasih," ucap Via.


"Tunggu...!" seorang pria yang berpakaian serba hitam menghentikan langkah pelayan tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Evan curiga.


"Maaf tuan, minuman ini sudah bercampur racun!" jawab anak buah pak Theo yang tadi sempat di beri perintah untuk mengawasi Rania dan Lili.


Rania yang melihat pelayan tersebut tertangkap, langsung panik dan berniat hendak pergi.


"Ada apa ini?" Lili yang tidak tahu menahu mulai bingung.


Evan melirik gelas minuman di depannya lalu mengambil gelas tersebut dan menghampiri Rania.


"Tunggu di sini," pesan Evan pada istrinya.


Pak Theo dan mami Gitta yang sejak tadi mengawasi langsung berpindah duduk ke meja Via.


"Apa yang akan di lakukan Evan pah?" Via khawatir.


"Duduk dan jadi lah penonton yang baik!" ujar pak Theo.

__ADS_1


Evan menatap Rania dengan sorot mata tajam. Lili tahu betul jika laki-laki yang ada di depannya ini sedang marah besar.


"Van, aku benar-benar tidak tahu apa yang di lakukan Rania. Aku hanya duduk dan menikmati pesta ini," ujar Lili menjelaskan karena wanita ini benar-benar tidak tahu.


"Minum ini,...!" titah Evan menyodorkan gelas tersebut.


"Van, kau ini kenapa. Aku sudah memiliki minum ku sendiri," kata Rania berusaha menolak.


"Cepat minum!" seru Evan.


"Aku akan minum milik ku sendiri," ucap Rania panik.


"Pegang dia...!" titah Evan pada anak buah papahnya.


Evan yang geram dan marah langsung memaksa Rania menghabiskan minuman tersebut. Rania berusaha berontak, namun tetap saja minuman tersebut habis di teguknya.


pelayan suruhan Rania juga ketakutan, tubuhnya bergetar hebat melihat kemarahan Evan.


"Untuk dia, lempar ke penjara!" titah Evan pada anak buah yang lain.


"Rania, minuman apa ini?" tanya Lili penasaran.


"Kau, kau ingin mencelakai anak dan istri ku. Berkata jujurlah, apa yang sudah kau campurkan?" tanya Evan dengan wajah dinginnya.


"Tidak ada Van. Tidak ada,...!" Rania berbohong.


"Kau, pergilah!" Evan mengusir Lili, Lili yang tahu sifat Evan langsung bergegas pergi, "bawa dia ke gudang!" titah Evan.

__ADS_1


Rania berontak, namun tenaganya kalah kuat. Niat hati ingin mengerjai Via malah dirinya yang kena. Para tamu mulai bertanya-tanya penasaran dengan apa yang sudah terjadi, namun Evan tidak ingin menjelaskannya. Evan kembali menghampiri Via lalu mengajak sang istri untuk pulang. Jujur saja, sejak kedatangan Rania dan Lili pria itu sudah merasakan firasat yang kurang baik.


__ADS_2