
Kembali ke rutinitas biasa,Evan dan Via berangkat ke kantor sama-sama begitu juga dengan pak Theo dan mami Gitta. Sejak di meja makan tadi hingga di perjalanan Via terus saja memakan apa yang bisa di makan. Tentu saja ini membuat Evan heran dengan sikap istrinya.
"Bee, berhenti di minimarket depan," pinta Via.
"Mau beli apa?" tanya Evan penasaran.
"Mau beli makanan ringan!" jawab Via benar-benar membuat Evan bertambah bingung.
Evan menepikan mobilnya, Via hanya keluar seorang diri berbelanja. Tak butuh waktu lama wanita itu sudah kembali masuk kedalam mobil dengan membawa banyak makanan ringan dan minuman.
"Sayang ku, kau mau jualan ya?"
"Tidak, ini akan ku makan di kantor nanti," jawab Via dengan santainya.
Terserah Via, Evan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sebagai suami yang baik, Evan juga membawakan barang belanjaan istrinya.
"Aku tidak mau bekerja, kau saja yang bekerja!" kata Via memilih rebahan manja di sofa tamu dalam ruang kerja suaminya.
"Kenapa begitu?" tanya Evan.
"Ngapain aku sibuk bekerja jika uang mu saja sudah banyak. Bukankah tugas seorang istri harus menghabiskan uang suaminya?"
"Kau ini pasti kebanyakan belajar dari mami Gitta. Dia sudah meracuni mu!" ujar Evan menghampiri istrinya yang terus memakan camilannya.
"Bee, cium aku...!" rengek Via dengan manjanya.
"Kau ini kenapa hah?"
"Cepat bee,...!"
Tak protes lagi, Evan langsung mencium pipi kiri dan pipi kanan istrinya.
"Nanti makan siang di cafe xxxx ya bee!" ajak Via.
__ADS_1
"Hemmm terserah kau saja."
"Jangan potong gaji ku ya bee...jika tidak akan ku potong ronde mu!" ancam Via.
"Eh jangan. Iya,....iya...!" seru Evan.
Sesekali Evan melihat tingkah istrinya yang sangat berbeda dari biasanya ini. Sejak memasuki ruang kerja Via hanya makan dan memainkan ponselnya saja. Tidak masalah bagi Evan, dirinya juga tidak memaksa istrinya untuk bekerja.
Jam makan siang tiba, Via terus merengek pada suaminya agar mempercepat laju mobilnya. Evan melihat kelakuan istrinya hari ini seperti anak kecil.
"Bee, aku mau makan yang banyak!" ujar Via dengan senyum sumringahnya.
"Iya, pesan apa aja asal di makan. Karena membuang makanan itu tidak baik,"
"Aku mengerti, terimakasih suami ku," ucap Via yang terlihat sangat bahagia.
Evan tersenyum, suka sekali melihat tingkah istrinya ini. Via tidak banyak menuntut untuk di belikan barang mewah atau pun perhiasan, wanita ini lebih senang membeli makanan.
"Masih kurang?" tanya Evan.
"Tidak, sudah cukup. Saatnya menggiling mereka semua!" ujar Via membuat Evan tertawa lucu.
"Jika mau gendut bagaimana?" tanya Evan.
"Sudah nasib. Kenapa, apa kau akan menendang ku?"
"Mana aku berani sayang. Kau belahan jiwa ku, bunga hati ku dan jantung kehidupan ku!" gombal Evan.
"Hih, menggelikan!" seru Via.
"Wah, ya ampun. Rakus sekali istri mu ini Van! apa kau tidak malu membawa makan di luar seperti ini?" tegur Lili tiba-tiba ada di samping mereka.
"Van,...Van,...perempuan urakan seperti ini kau pelihara!" timpal Rania.
__ADS_1
"Aku makan dengan mulut ku sendiri, perut ku sendiri dan nyawa ku sendiri. Kenapa kalian yang repot hah?" sentak Via.
"Jika aku jadi kau Van, aku akan sangat malu memiliki istri yang rakus seperti Via," Lili mencoba mengompori Evan.
"Sudah selesai kah?" tanya Evan membuka suara, "jika sudah silahkan pergi. Aku dan istri ku mau makan!"
"Van, apa perempuan seperti ini selera mu?" cibir Rania.
"Memangnya kenapa hah?" bantak Evan sudah emosi, "di bandingkan kau, istri ku jauh lebih baik. Jadi, pergilah sebelum aku marah!"
"Hem, pergilah sebelum aku marah juga!" timpal Via masih nampak santai.
"Van, oh Van, ayo lah. Aku jauh lebih baik dari dia!" ucap Rania penuh percaya diri.
Via sudah mulai gregetan, wanita mengambil dua sepotong ayam lalu menumpahkan saos pedas ke atasnya.
"Lihat, jorok sekali istri mu ini. Apa dia tidak pernah makan ayam?" ujar Lili mencibir.
Via berdiri, menatap tajam ke arah dua wanita di depannya lalu menyodorkan dua potong ayam penuh saus tersebut kedalam mulut Lili dan Rania.
Tentu saja Lili dan Rania terkejut, mereka langsung berteriak histeris.
"Sialan, perempuan sial!" umpat Rania.
"Pergi atau aku akan melakukan yang lebih parah lagi...!" ancam Via.
"Awas saja kau Via. Aku akan membalas mu!" ancam Lili.
"Awas kau jika istri ku sampai kenapa-kenapa. Akan ku hilangkan nyawa mu!" Evan mengancam keduanya.
Lili dan Rania yang sudah kepedasan pada akhirnya pergi. Untung saja cafe ini belum terlalu ramai jadi tidak banyak yang menonton perdebatan mereka tadi.
Via tidak peduli, selesai membersihkan tangan wanita ini langsung menyantap Makannya yang hampir dingin. Evan terus tertawa lucu melihat adegan istrinya tadi.
__ADS_1