
Evan menyelimuti Via, "Ternyata dia bisa sakit juga!" ujar Evan lalu beranjak hendak keluar dari kamar Via.
Evan mencoba menghubungi papahnya untuk memberitahu jika Via sedang sakit. Tapi, jawaban sang papah membuat Evan harus menarik nafas panjang ketika sang papah meminta Evan untuk menjaga dan merawat Via sampai wanita itu sembuh.
"Di lawan orangtua, tidak di lawan lama-lama kelakuannya nyeleneh!" ucap Evan gregetan.
Evan menoleh ke arah nakas yang terdapat foto Via bersama ibunya. Tanpa izin Evan mengambil foto tersebut lalu memandanginya.
"Cantik juga kecilnya!" puji Evan lalu meletakan kembali.
Evan melirik jam yang melingkar di tangannya, pria ini memesan makanan untuk makan malam dan juga pakaian ganti untuk dirinya.
"Papah itu bagaimana sih, calon istri sakit malah aku yang di suruh merawat. Aneh!" gerutu Evan.
"Van,....!" lirih Via tiba-tiba muncul di dapur. Membuat Evan langsung menyemburkan air yang baru saja dia minum.
"Mengejutkan ku saja!" sentak Evan.
"Perasaan tadi aku tidur di mobil mu, kenapa aku ada di kamar?" tanya Via yang lupa.
"Dasar otak udang, aku melihat mu tadi merangkak naik ke sini...!" ujar Evan.
Via duduk di kursi meja makan, kepalanya di rebahkan keatas meja.
__ADS_1
"Aku serius Van!" seru Via dengan suara pelannya.
"Kau ini sakit atau apa sih?" tanya Evan bingung, "Kenapa kau seperti orang gila hah?"
"Sebenarnya besok adalah hari peringatan kematian ibu ku. Aku trauma Van!" lirih Via tanpa sadar. Wanita ini mulai menangis membuat Evan penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Apa maksud mu dengan trauma?" tanya Evan mengulik.
"Ayah melakukan hubungan suami istri dengan tante Sinta di kamar yang biasa ibu ku tiduri. Saat itu ibu sedang mengandung adik ku, ibu syok lalu pendarahan. Ibu dan calon adik ku meninggal. Aku benci laki-laki Van,"
Tanpa sengaja Via menceritakan rahasia keluarganya pada Evan.
"Via bangun,...!" Evan mengguncang tubuh wanita itu.
Evan menarik nafas panjang lagi, laki-laki ini mau tidak mau memindahkan Via ke kamarnya.
"Tapi kenapa kau masih mempertahankan rumah itu?" tanya Evan tanpa jawab lagi.
Mungkinkan Via sakit karena kembali teringat dengan masa lalunya? Evan mulai merasa kasihan pada wanita yang sedang terbaring ini.
Malam semakin larut, pukul sebelas malam Via kembali bangun. Wanita ini turun dari atas tempat tidur lalu berjalan keluar. Via sangat terkejut ketika melihat Evan yang sedang makan seorang diri di ruang tamu.
"Ngapain kau di sini?" tanya Via terkejut.
__ADS_1
"Dasar manusia aneh!" ucap Evan geram, "kau sudah menyusahkan ku malam ini,",
"Memang aku melakukan apa?" tanya Via bingung.
"Kau sakit dan kau menyusahkan ku!" ujar Evan lalu kembali melanjutkan makannya.
Kryuuuuk,....
Perut Via berbunyi lapar, wanita ini langsung mengusap perutnya.
"Bilang saja lapar. Van, apa masih ada makanan untuk ku? apa susahnya bertanya?" ujar Evan lalu memanaskan kembali makanan yang di pesan tadi.
Via hanya terdiam melihat sikap Evan malam ini.
"Nah, makanlah!" ujar Evan.
"Terimakasih," ucap Via.
"Makan yang banyak, biar kau tidak menyusahkan orang lagi,"
"Kau tidak ikhlas ya?" tanya Via kesal.
"Aku selalu ikhlas, jika tidak ikhlas aku tidak akan masuk surga nanti...!" ujar Evan yang juga tak kalah kesalnya.
__ADS_1