Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
89.Apa Itu?


__ADS_3

Selesai berbelanja, Evan dan Via langsung pulang. Ternyata mami Gitta dan pak Theo sudah pulang dari kantor karena hari ini mereka hanya bekerja setengah hari saja.


Evan memberikan vitamin untuk Via lalu membiarkan istrinya beristirahat. Setelah itu barulah Evan pergi untuk melihat keadaan Rania.


Kali ini Rania sudah terlihat bersih meskipun pakaian tidak di ganti karena anak buah Evan hanya menyiramkan air saja.


"Lepaskan aku Van!" pinta Rania.


"Apa jaminannya jika kau bebas kau tidak akan mengganggu aku dan istri ku lagi?" tanya Evan membuat Rania tertawa.


"Tidak ada jaminan. Van,kita bisa bekerjasama!"


Evan mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Rania.


"Apa maksud mu hah?" tanya Evan.


"Kita bisa menjalin hubungan seperti dulu lagi, aku mau jadi yang kedua Van. Aku yakin kau masih memiliki rasa pada ku!" ucap Rania begitu percaya diri.


"Dasar perempuan ******!" umpat Evan, "sekarang aku baru tahu jika kau memiliki wajah ganda. Di masa lalu, pasti banyak kebohongan yang sudah kau perbuat pada ku!"


"Van, hidup mu akan jauh lebih bahagia jika kau memiliki dua orang wanita dalam hidup mu. Ayolah Van, jangan munafik!" Rania berusaha merayu Evan.

__ADS_1


Cuiiih,....


Evan membuang ludahnya beberapa kali. Laki-laki ini sangat jijik melihat dan mendengar ucapan Rania. Sejenak Evan bingung mau di apakan mantannya ini. Bukannya apa-apa, Evan sudah bisa menebak jika Rania pasti akan tetap mengganggu dirinya jika di bebaskan nanti.


"Perempuan najis...!" umpat Evan.


"Aku jauh lebih cantik dari istri mu Van. Seharusnya kau merasa bersyukur karena aku mau kembali pada mu!"


Sungguh menjijikan.


"Istri ku adalah segalanya bagi ku meskipun aku dan dia di jodohkan. Istri ku bisa membuat aku bahagia setiap hari. Ketahuilah Rania, yang tinggal lama di hati belum tentu menetap. Kau dan aku sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, jika kau masih bersikeras juga, jangan salahkan aku jika aku akan bersikap keras pada mu!"


"Ciiih,....kau mengancam ku?" tanya Rania, "aku tidak takut Van. Di banding kau, main ku sudah sangat jauh!"


"Siap tuan, ada apa?"


"Bersihkan dia, setelah itu terserah mau kalian apa kan. Sisanya kalian tahu sendirikan harus di apakan?" tanya Evan tersenyum licik.


"Mengerti tuan,...!"


"Mau apa kalian hah?" tanya Rania mulai panik.

__ADS_1


"Jangan sampai perempuan gila ini menampakkan wajahnya di kota ini lagi. Kalian pasti tahu apa yang harus kalian lakukan?"


Evan kemudian pergi, meninggalkan Rania yang terus menjerit histeris ketika beberapa anak buah Evan menyeretnya dan menelanjanginya. Wanita ini di mandikan, di guyur air sabun agar wangi dan bisa di nikmati. Sebenarnya Evan tidak mau jahat, hanya saja Rania terus menantangnya.


Setelah membereskan Rania, Evan menemui Arlan di cafenya. Arlan masih begitu penasaran atas kejadian tentang Rania, karena pria ini tidak menghadiri acara pesta tersebut.


Evan menceritakan semuanya, Arlan hanya menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya ini.


"Menurut mu, apa yang aku lakukankan ini sudah benar?" tanya Evan.


"Jika ini terbaik untuk keluarga mu, aku mendukung mu Van. Menurut ku, tidak kan mu ini sudah benar. Masa lalu meskipun di paksakan dia akan tetap berada di masa lalu, di catatan paling awal buku mu. Semoga Via bisa menjadi catatan terakhir dari buku kehidupan mu Van."


"Tapi, terkadang aku masih suka kesal jika melihat Via dan papah. Ingin rasanya aku menggantung mereka yang sudah mengerjai ku,"


Arlan tertawa, pria ini tiba-tiba menunjukkan ponselnya pada Evan.


"Apa itu?" tanya Evan panik.


"Rekaman suara mu tadi sudah aku kirim ke Via. Bersiaplah,...!" kata Arlan dengan tawa mengejeknya.


"Brengsek, bajingan kau!" umpat Evan, "Habislah aku....!" serunya tanpa aba-aba langsung beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Arlan terus tertawa, senang juga rasanya mengerjai Evan yang ternyata takut pada Via.


__ADS_2