Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
36.Evan...!


__ADS_3

"Evan, anak papah paling tampan. Bersiap-siap lah nak," ucap pak Theo yang baru saja masuk kedalam kamar anaknya.


"Memangnya kita mau pergi kemana pah?" tanya Evan penasaran.


"Hari ini hari jum'at, besok papah dan Via akan menikah malam minggunya akan ada acara resepsi dan hari minggunya akan pergi bulan madu," pak Theo memperjelas acaranya.


Sejenak Evan termenung, bagaimana dia bisa melupakan jika besok adalah hari pernikahan papahnya. Entah kenapa ada sesuatu yang tidak bisa Evan jelaskan.


"Van, cepat sedikit. Ayo lah Van, jangan seperti anak kecil.Papah juga ingin bahagia, kapan kau akan memberikan papah kebahagiaan di masa tua ini?"


Evan mengangkat wajahnya, memaksa senyumnya yang terlihat sangat dingin, "Evan mengerti pah. Sebentar, Evan akan bersiap-siap dulu."


Senyum pak Theo melebar, pria paruh baya ini kemudian keluar dari kamar anaknya sambil bersenandung kecil.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Evan hanya diam saja. Pria ini seakan kehilangan semangat. Jangankan untuk senyum, untuk sekedar membuka suara saja rasanya Evan sangat malas.


"Nah, besok pemberkatan akan di langsungkan di gereja ini loh," ujar pak Theo memberitahu.


"Ya, terserah papah saja!" seru Evan.


"Kau ini kenapa Van, apa kau tidak bahagia melihat papah bahagia?"

__ADS_1


"Evan bahagia pah. Jadi, sekarang papah ada yang mengurus."


"Kau mau bayi berapa Van?" tanya pak Theo berusaha mengajak anaknya bercanda.


"Bayi apa sih pah?"


"Ya bayi lah, biar papah gak kesepian nanti," ujar pak Theo.


Belum sempat Evan menjawab, mobil sudah terparkir di loby hotel. Evan langsung keluar dan menuju kamarnya sendiri. Rasanya hampa, Evan berjalan lunglai menuju kamarnya.


"Aaaaa......!"


"Maaf,...maaf...!" ucap Evan hendak menolong wanita yang baru saja di tabraknya.


"Evan,....!"


Deg,....


Mata Evan menatap tajam kearah wanita yang baru saja di bantunya berdiri ini. Jantung Evan langsung berdegup sangat kencang.


"Rania,....!" ucap Evan pelan.

__ADS_1


"Evan apa kabar?" tanya Rania dengan mengulurkan tangannya. Senyum manis wanita ini masih sama seperti dulu.


Evan melirik tangan Rania, lelaki ini tidak berniat untuk membalas uluran tangan Rania. Evan malah memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.


Rania juga langsung menarik tangannya kembali. Namun, senyum wanita ini tidak sekali pun padam.


"Aku pergi dulu!" ucap Evan dengan wajah dinginnya.


"Van....!"


Rania mencoba Memanggil Evan, namun lelaki itu acuh pura-pura tak mendengar. Evan langsung masuk kedalam kamarnya, Rania hanya tertunduk melihat sikap acuh Evan.


"Dulu kau tidak seperti ini Van!" ucap Rania lalu memutuskan untuk pergi.


Semakin galau lah Evan, lelaki ini duduk di balkon kamarnya. Sudah sekian tahun tidak bertemu dengan Rania, kenapa hari ini mereka harus bertemu.


Rania adalah mantan kekasih Evan dulu, mereka cukup lama berpacaran. Sejak sekolah menengah atas hingga kuliah semester akhir. Tanpa penjelasan apa pun, Rania meninggalkan Evan. Wanita itu memilih bertunangan dengan anak pengusaha yang ada di kota sebelah.


Evan sangat kecewa, benar-benar sangat kecewa. Evan yang dulu memiliki sifat suka bercanda dan tertawa, nyatanya berubah menjadi dingin dan acuh pada setiap perempuan yang berusaha mendekatinya.


Evan merogoh ponsel dalam sakunya, pria ini menghubungi Arlan untuk segera datang ke hotel. Laki-laki ini butuh teman untuk bercerita sekarang.

__ADS_1


__ADS_2