Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
57.Kenapa?


__ADS_3

Kembali dari bulan madu, hubungan Evan dan Via semakin lengket saja. Pak Theo senang melihatnya, apa lagi sekarang di rumah dirinya sudah di temani oleh istri barunya.


"Gimana Van rasanya?" tanya pak Theo berbisik. Sedangkan para istri mereka sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Sumpah pah, enak banget. Bikin nagih, pantesan aja papah mau nikah lagi,"


"Kamu aja yang bodoh. Hanya karena satu orang perempuan jomblonya kok mau seumur hidup!"


"Terimakasih untuk semuanya pah," ucap Evan, "Pah, Evan jadi penasaran."


"Penasaran dengan apa Van?" tanya pak Theo lebih penasaran dengan pertanyaan anaknya.


"Emmm,...itu mami Gitta perawan ting-ting, bagaimana rasanya pah?" tanya Evan benar-benar penasaran.


"Rasanya legit dan sempit Van, namanya juga perawan," jawab pak Theo tanpa memiliki rasa malu pada anaknya.


Beda lagi dengan para perempuan yang sibuk sedang membuat sarapan pagi seperti roti bakar dan menu pendamping lainnya. Via dan mami Gitta nampak akrab meskipun ini pertemuan kedua mereka.


"Bagaimana rasanya Via, pasti enakkan menikah dengan pria seperti Evan? secara dari segi umur sudah mau memasuki kepala tiga."


"Di goyang terus mami, tapi asyik loh!" jawab Via, "Lalu bagaimana dengan mami?"


"Mami menyesal menikah di umur segini, ternyata di goyang suami itu enak!" ucap mami Gitta.

__ADS_1


Via dan mami Gitta terkekeh geli dengan obrolan mereka. untung saja tidak ada pembantu yang mendengarkan obrolan mereka.


"Pak Theo meskipun sudah berumur, tapi jiwanya masih muda. Gak kalah deh sama anaknya!" ujar mami Gitta.


Dua perempuan berbeda umur ini kemudian keluar sambil membawa sarapan untuk suami masing-masing.


"Jangan lupa buatkan adik untuk ku dan Via pah!" ujar Evan.


"Doakan saja,....!" seru mami Gitta membuat ekspresi wajah pak Theo dan Evan mendadak gugup.


"Kenapa dengan wajah mu bee?" tanya Via.


"Tidak sayang, tidak kenapa-kenapa.Mana sarapannya?"


Mereka sarapan bersama-sama, Evan tidak malu menunjukkan sikap manjanya di depan sang papah dan ibu barunya.


"Gak ah, bulan madu di kamar setiap malam juga udah cukup!" jawab mami Gitta.


"Perkasa...!" seru Evan.


"Memangnya kamu doang yang bisa? papah juga bisa kali. Lihat, tenaga papah masih kuat!" kata pak Theo menyombongkan diri.


"Pagi om, pagi mami....!" sapa Arlan yang tiba-tiba bertamu ke rumah Evan.

__ADS_1


"Ngapain kesini?" tanya Evan.


"Minta sesuap nasi. Ya ngambil oleh-oleh lah. Kau kan sudah janji," jawab Arlan kesal.


"Duduk sana, kami sedang sarapan. Jika kau belum sarapan minta sana sama bibi," kata Evan.


Mau tidak mau Arlan duduk seorang diri sambil menikmati pemandangan pagi yang sungguh membuatnya ingin muntah.


"Van, sejak kapan kau jadi bayi seperti ini?" tanya Arlan yang geli melihat sikap Evan.


"Sejak dia menjadi suami ku!" jawab Via.


"Aku jijik melihat sikap Evan."


"Kenapa?" tanya Evan tidak terima.


"Jijik aja, biasanya kau bersikap dingin dan acuh. Semua orang akan muntah jika melihat kelakuan mu ini," ujar Arlan.


"Kau akan lebih geli lagi jika melihat sikap papah dan mami Gitta," bisik Evan.


"Kenapa bawa-bawa kami...?" pak Theo tidak terima.


"Biasanya, yang muda akan kalah dari yang tua. Sepertinya perkataan Evan ada benarnya juga!"

__ADS_1


"Pergi kau sana....!" usir pak Theo.


Melihat ketiga lelaki ini, Via dan mami Gitta hanya bisa bergeleng kepala dan tertawa. Hidup mereka sungguh banyak lawaknya.


__ADS_2