Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
71.Cepat Katakan


__ADS_3

"Apa yang kau bawa bee?" tanya Via yang syok melihat barang belanjaan suaminya, "kau pergi berbelanja apa mengurus pekerjaan hah?"


"Dua-duanya. Aku akan memakan mereka semua. Apa kau mau sayang?" tawar Evan.


Evan membeli banyak buah-buahan dan juga berbagai macam camilan pedas. Tidak hanya itu, Evan juga membeli beberapa jenis cookies.


"Sejak kapan kau membeli makanan pedas seperti ini?" tanya Via bingung.


"Entahlah, yang jelas sekarang aku sangat ingin memakan mereka semua!"


"Ya ampun Van, kau ingin membuka toko ya di rumah ini?" tanya mami Gitta yang melihat banyak makanan.


"Ini kuaci, untuk apa?" tanya pak Theo heran.


"Ya untuk di makan, masa untuk bercocok tanam!" jawab Evan dengan santainya.


"Hebat, ini yang di namakan suami mengidam!" ucap mami Gitta bergeleng kepala.


"Dari mana mami tahu?" tanya Via.


"Meskipun mami gak pernah hamil, tapi mami tahu itu."


"Tapi kenapa saat mamah Evan hamil Evan aku tidak seperti Evan ya..?"


Pak Theo mulai berpikir keras.

__ADS_1


"Sudah, jangan di pikirkan. Jangan ganggu mereka!" ujar mami Gitta mengajak pak Theo masuk kedalam kamar.


"Sayang, aku ingin makan melon itu," tunjuk Evan.


"Oh, sebentar. Aku akan memotongnya!"


"Kenapa harus kau, kenapa tidak bibi saja?" protes Evan.


"Tapi,....!"


"Biarkan bibi saja. Tugas mu membantu ku mengupas kuaci ini," kata Evan membuat istrinya geram.


"Adakah yang lebih menyebalkan dari mengupas kuaci?" tanya Via kesal.


"Masih ku pikirkan!" seru Evan.


"Jangan lupa minum vitamin mu sayang. Jangan lupa juga makan yang banyak!" kata Evan terus menggiling makanannya.


"Aku masih kenyang. Apa lagi sudah kau wakilkan untuk makan banyak seperti ini,"


"Apa anak ku itu tidak ingin memakan sesuatu?" tanya Evan melirik kearah perut istrinya.


"Tidak, dia sudah mendapatkan transferan makanan dari mu!"


Evan mengerutkan keningnya bingung, "Masuknya lewat mana?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Lewat batin...!!" jawab Via gemas sendiri dengan suaminya, "sudah, aku lelah!" ujar Via menghentikan aktifitasnya mengupas kuaci.


Di tempat lain, Kiran mengepalkan tangannya tidak terima dengan berita kehamilan Via. Itu artinya Evan dan Via saling mencintai.


"Kau bilang mereka di jodohkan. Bagaimana bisa Via hamil?"


"Ya aku tidak tahu. Bisa saja Evan berbohong!"


"Tidak mungkin berbohong. Jika dia bohong lalu kenapa wajah mu sampai babak belur seperti itu hah?"


"Sialan!" umpat Randi, "yang aku tahu, Via itu tidak pernah pacaran. Mana mungkin dia mencintai seseorang dengan begitu mudahnya!"


"Itu kan menurut mu, mana kau tahu hati orang. Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kiran.


"Perusahaan keluarga ku terus menurun akibat pak Theo membatalkan kerjasamanya. Papah menyalahkan ku, semua gara-gara Via!" ucap Randi malah menyalahkan Via.


"Via memang perempuan pembawa sial. Sebenarnya, aku dan ibu ku sedang merencanakan sesuatu,"


"Rencana apa itu?" tanya Randi penasaran.


Kiran tersenyum, wanita ini tiba-tiba mendapatkan ide, "Jika Randi mau bergabung dalam rencana aku dan ibu, maka kami tidak usah memusingkan masalah uang!" batin Kiran.


"Heh, cepat katakan!" sentak Randi mengejutkan Kiran.


"Ah, gak lah. Nanti kau akan memberitahu Via. Kau kan temannya!"

__ADS_1


"Cepat beritahu aku. Aku harus membalas mereka, sebab mereka papah ku sekarang menurunkan jabatan ku!"


Kiran tersenyum tipis, wanita ini kemudian memberitahu rencana mereka dengan sebuah perjanjian yang langsung di setujui oleh Randi.


__ADS_2