Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
104.Wajar Dong


__ADS_3

Memandang lekuk tubuh istrinya, hampir saja air liur Evan menetes. Gaun merah cerah yang membalut tubuh Via tidak menunjukkan jika wanita ini adalah seorang ibu dari tiga anak.


Setelah melahirkan, Via semakin cantik dan terlihat sangat dewasa. Sungguh, Evan sangat tergoda melihat istrinya malam ini.


"Kau melihat Via?" tanya Arlan.


"Menurut mu siapa lagi hah?"


"Via semakin cantik saja. Kenapa tidak aku saja yang di jodohkan dengannya?"


Plaaak,...


Evan menonjok lengan Arlan.


"Jangan coba-coba membayangkan istri ku. jika kau ingin, cari istri sana!" ujar Evan kemudian menghampiri istrinya.


Evan merengkuh pinggang ramping istrinya, memamerkan pada tamu jika dia adalah laki-laki yang paling beruntung. Memiliki istri cantik dan tiga anak kembar.


"Selamat malam Evan. Selamat atas kelahiran si kembar," ucap salah seorang rekan bisnis Evan.


"Terimakasih pak, anda sangat luar biasa."

__ADS_1


Pria paruh baya dengan kepala plontos dan perut buncit itu mengulurkan tangan pada Via. Evan yang melihat tatapan nakal dari rekannya itu langsung menepis tanganya.


"Maaf pak, tangan istri ku kotor!" ujar Evan mencari alasan agar istrinya dan pria paruh baya itu tidak saling bersentuhan.


"Sepertinya halus dan lembut. Tapi, sudahlah. Saya mengerti...!" ucapnya kemudian berlalu pergi.


Ingin sekali Evan menyentil kepala pria tersebut.


"Dasar mata keranjang. Apa tidak lihat jika aku suami mu?"


"Sudahlah, jangan diperbesar. Malu di dengar tamu!"


Lihatlah pasangan suami istri ini, mereka hanya sibuk menikmati pesta sedangkan ketiga anaknya di urus oleh mami Gitta dan pak Theo yang sedang asyiknya membanggakan ketiga cucu mereka.


"Kita bahas di kamar saja!" bisik Via lagi.


"Aku tidak percaya, kau suka mengerjai ku."


"Bee, anak-anak kita baru berumur satu bulan lebih. Tapi kau sudah sibuk dengan ranjang mu...!"


"Wajar dong, namanya juga lelaki...!"

__ADS_1


"Astaga, bahasan kalian ini sungguh mengerikan. Aku pergi saja...!" ujar Arlan yang ternyata menguping di belakang Evan dan Via.


Via benar-benar malu pada Arlan, ingin sekali rasanya menghajar Evan sekarang. Suaminya ini tidak mengenal tempat jika membahas masalah ranjang.


Pesta mewah yang hanya di hadiri tamu-tamu berkelas, baby Zay, Ray dan Kay sama sekali tidak rewel. Semua orang yang melihat mereka merasa gemas ingin mencubit pipi gembul mereka.


"Evan, kasih tipsnya dong biar bisa kembar tiga gini?" tanya seorang ibu-ibu.


"Banyak di goyang saja bu, pasti jadi...!" jawab Evan tanpa memiliki rasa malu. Via yang mendengarkan jawaban suaminya hanya ingin bersembunyi di sarang semut karena malu.


"Tuh ibu-ibu, denger apa gak? harus banyak di goyang!"


Mereka semua tertawa, wajah Via benar-benar tebal di buat suaminya sendiri. Pak Theo yang melihat hal tersebut hanya bisa bergeleng kepala.


Selesai acara, mereka langsung kembali ke rumah karena Evan dan Via tidak berniat untuk menginap di hotel. Via tersenyum ketika melihat ketiga anaknya yang tidak rewel sama sekali malam ini.


Untuk malam ini, mami Gitta tidak membantu Via mengurus ketiga anaknya karena sekarang kaki mami Gitta mengalami keram akibat kelamaan berdiri.


"Aku akan membersihkan riasan ku sebentar!" ujar Via kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak butuh waktu lama, Via kemudian keluar dari kamar mandi. Mata Evan nyaris lepas dari sarangnya ketika melihat sang istri yang sangat menggodanya malam ini. Ada yang tegang di bawah sana, Evan menyentuh adik juniornya.

__ADS_1


Dengan senyum lebarnya, sedikit memainkan rambutnya, Via berusaha menggoda suaminya yang sudah haus akan pelepasan.


__ADS_2