
Sejak pagi itu, hampir setiap hari Evan selalu mengalami morning sickness yang di mulai dari jam lima pagi sampai jam enam pagi. Pukul sembilan pagi barulah Evan akan terlihat segar.
Sungguh tersiksa hidup Evan, tapi mau bagaimana lagi? bahkan, untuk sekarang Evan sudah mulai jarang pergi ke kantor.
"Sayang, sepertinya kue itu sangat enak!" tunjuk Evan pada iklan di televisi.
"Di kepala mu isinya cuma makanan saja," ujar Via.
"Dari isinya istri tetangga. Mending kue lah, apa kau mau aku memikirkan istri orang?"
"Coba saja! akan ku penggal kepala bawah mu!" ancam Via.
"Kau ini, hamil bukannya lemah lembut semakin galak saja!" gerutu Evan.
"Masih ingin makan tidak? jika iya aku mau pergi sebentar, aku juga ingin makan cumi bakar yang ada si restoran langganan kita,"
__ADS_1
"Beli lah, jangan lupa beli udangnya juga. Agak pedas sedikit, banyakin undangannya!"
"Kenapa sekarang kau ini snahat cerewet bee?"
"Karena aku suami mu. Cepatlah pergi, minta antar supir. Hati-hati di jalan, bilangin sama pak supir jangan ngebut, jalannya pelan aja. Biarkan dia yang antri nanti, kau jangan lama-lama berdiri. Cepat pulang dan jangan lupa pesanan ku!" cerocos Evan panjang lebar membuat Via pusing sendiri, "maaf tidak bisa menemani mu, kasur ini lebih menggoda ku untuk tidak pergi,"
"Ya,...ya,...aku mengerti wahai suami ku tersayang. Ada pesanan lagi,karena aku hanya akan keluar sekali saja?"
"Itu loh sayang, minuman yang sedang viral itu. Sepertinya enak, kita perlu mencobanya!"
"Baiklah, yang penting kau senang dan bahagia. Istirahat,...!"
"Astaga pak, cepat sedikit. Aku sudah kelaparan," ujar Via tidak sabaran.
Di usia kandungan yang sudah memasuki sebelas minggu, sampai detik ini Via belum pernah merasakan yang namanya mual. Hanya saja wanita ini lebih sering mengidamkan sesuatu yang berupa makanan.
__ADS_1
"Non, tunggu di mobil saja. Biar saya yang pesan!" ucap pak supir.
"Oh iya pak, saya akan membeli minuman di cafe depan," kata Via karena minuman yang di idamkan Evan ada di cafe depan restoran.
"Hati-hati non,...!" ucap pak supir memperingati.
Mereka pun berbagi tugas, pak supir membeli makanan pesanan Evan dan Via sedangkan Via membeli minuman pesanan Evan.
Namun, baru saja hendak menyebrang jalan, tiba-tiba saja Via di seret masuk kedalam sebuah mobil dan langsung pergi begitu saja.
Tidak ada yang melihat, karena kejadian begitu cepat. Di dalam mobil, Via terus berontak namun kepalanya sudah di tutup dengan kain hitam dan juga mulutnya di lakban.
Lima belas menit kemudian, pak supir keluar dari restoran namun tidak mendapati Via yang seharusnya sudah berada di mobil. Pak supir mencoba menyusul ke cafe depan namun ternyata pihak cafe mengatakan tidak ada ciri-ciri yang di sebutkan sang supir.
"Aduh, non kemana non. Matilah aku...!" ucap pak supir.
__ADS_1
Ke sana ke mari berusaha mencari Via namun tidak menemukan wanita itu. Bahkan, ponselnya saja di tinggal. Satu jam, dua jam sudah berlalu namun tetap saja Via tidak kembali.
Pada akhirnya, pak supir menghubungi Evan dan memberitahu jika Via tiba-tiba menghilang. Evan yang masih rebahan santai mendadak panik dan langsung pergi menyusul ke restoran tempat di mana istrinya menghilang.