Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
31.Tumben


__ADS_3

Evan menarik tangan Via ketika seorang pria mencoba menarik tangan Via yang satunya. Tentu saja hal ini membuat Via dan lelaki itu terkejut.


"Mau apa kau Van?" tanya Randi tidak suka.


"Kenapa kau berbuat kasar pada Via?" tanya Evan yang tidak suka dengan Via.


"Ini urusan ku, aku hanya ingin mengajaknya bicara!"


"Aku tidak mau bicara pada mu," tegas Via, "sudah ku bilang jika aku hanya menganggap mu sebagai seorang teman. Tidak lebih!"


"Semua gara-gara kau Van!" ucap Randi, "kau juga yang menyuruh ku untuk mengejar Via, tapi kenapa sekarang kau malah membelanya?"


"Heh,...apa maksud kalian hah?" tanya Via tidak mengerti.


"Ya, Evan meminta ku untuk mengejar mu agar kau tidak jadi menikah dengan papahnya. Tapi kenapa sekarang dia malah bersikap seperti ini?"


"Van, apa benar kau seperti itu?" tanya Via mulai kesal.


"Anu,...!"


"Jawab Van!" sentak Via.


"Ya ini kan wajar, aku tidak setuju jika kau menikah dengan papah ku. Kau tahu akan hal itu," ujar Evan.


"Tapi gak gini caranya Van!" kata Via lalu menepis tangan Evan dan Randi.

__ADS_1


Wanita itu berlalu pergi begitu saja. Randi dan Evan berusaha mengejar Via namun wanita itu sudah naik taxi.


"Aku tidak suka laki-laki yang bersikap kasar pada seorang wanita. Jika Via tidak mau dengan mu, seharusnya kau tidak usah memaksa!" ucap Evan malah berbalik kesal pada Randi.


"Hubungan itu harus di perjuangkan, kenapa kau jadi sewot begini?" tanya Randi.


Evan tidak menjawab, laki-laki ini memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan pergi begitu saja.


Malam telah berganti pagi, Evan baru saja turun untuk sarapan. Lelaki ini celingukan sedang mencari seseorang. Pak Theo yang sudah duduk di meja makan sambil membaca berita melalui ponselnya sudah bisa menebak apa yang sedang di cari anaknya ini.


"Sarapan Van, biar kuat!" ujar pak Theo.


"Tumben Via gak datang kesini pah?" tanya Evan.


"Ngapain kami nanyain calon istri papah?" pak Theo menatap penuh selidik pada anaknya.


"Evan langsung berangkat pah. Ada kerjaan mendadak!" pamit pria itu.


"Gak sarapan?"


"Nanti saja!" seru Evan.


Setibanya di kantor, Evan masih celingukan mencari keberadaan Via. Tidak menemukan Via pada akhirnya Evan memilih kembali ke ruang kerjanya.


"Tidak ada Lili, tenang juga hidup ku ternyata. Gak lagi-lagi mengikuti ide si Arlan sialan itu," ujar Evan.

__ADS_1


Semua orang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hingga jam istirahat tiba barulah semua karyawan keluar untuk makan siang termasuk Via.


Evan buru-buru keluar dari ruangannya agar bisa berselisih dengan Via seperti biasanya. Ya, benar saja. Evan dan Via juga pak Theo bertemu di lift.


"Papah mau makan siang?" Evan pura-pura bertanya.


"Ya, kenapa memangnya?" tanya pak Theo balik.


"Kalau begitu Evan ikut!"


"Hih, tumben!" seru Via acuh.


Evan menggaruk kepalanya tak gatal ketika melihat wajah acuh Via yang tidak seperti biasanya.


Di restoran, Via langsung memilihkan menu untuk pak Theo dan dirinya sendiri. Sedangkan Evan merasa tidak adil akan hal seperti ini.


"Kenapa kau tidak memilihkan ku menu?" tanya Evan.


"Memangnya kau siapa yang meminta ku harus memilih kan mu menu juga?" Via bertanya balik.


"Ya karena aku adalah calon anak mu!"


"Aku tidak mengakui kau sebagai calon anak ku. Calon anak ku masih sedang dalam perjalanan dari atas langit sana!" sahut Via membuat pak Theo tertawa.


"Sudah Via, jangan dengarkan Evan. Dia memang seperti itu, sebaiknya kita makan saja!" ujar pak Theo.

__ADS_1


Entah sengaja atau tidak, Via mengeluarkan jurus perhatiannya pada pak Theo. Pak Theo juga mengikuti permainan Via hingga membuat Evan seperti cacing kepanasan sekarang.


__ADS_2