
"Kalau masalah ranjang itu jangan terlalu di umbar, aku malu!" omel Via.
"Lah kenapa, kenyataannya memang begitu. Lihatlah, aku anak tunggal tapi bisa membuat keturunan kembar. Hebat kan aku!"
Shiiit,..... "Sombong sekali...!" seru Via.
Evan mengusap perut buncit istrinya, "Sayang daddy, kalian benar-benar luar biasa!"
Geram dengan tingkah suaminya, Via masuk begitu saja kedalam mobil.
"Pak, cari tempat makanan paling enak!" titah Evan yang belum makan sejak pagi.
Belum ada dua menit mobil melaju, Via merasa jika kepalanya sangat pusing. Wanita ini langsung bersandar di pundak suaminya.
"Kenapa?" tanya Evan.
"Pusing,...!" lirih Via memejamkan mata.
Setelah beberapa saat mencari restoran, pada akhirnya pilihan Evan jatuh pada restoran ala timur tengah. Hanya Evan yang memesan makanan, Via tidak tertarik dengan makanan yang di pesan suaminya.
"Sayang, kau benar tidak ingin makan?" tanya Evan.
"Tidak, aku hanya ingin pergi supermarket dan memborong semua buah-buahan!" jawab Via dengan senyum lebarnya.
"Tunggu sebentar, aku makan dulu," kata Evan tanpa membuang waktu langsung menyantap makanannya.
"Makan yang pelan-pelan bee."
__ADS_1
"Papah pasti sangat senang jika dia tahu kau hamil anak kembar," ucap Evan sambil mengunyah makanannya.
"Iya, pasti mami dan papah sangat senang sekali sekali."
"Tapi,....!"
"Tapi apa Bee?" tanya Via curiga.
"Pasti saja semua warisan akan jatuh atas nama si kembar. Kita berdua tidak akan dapat apa-apa," jawab Evan membuat Via langsung melotot.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Jahat sekali,...!"
"Hih, aku hanya bercanda!" seru Evan kembali fokus pada makanannya.
Selesai makan, Evan dan Via langsung pergi ke supermarket. Via sangat terlihat kuat sedangkan Evan yang berjalan sedikit saja sudah lesu.
"Anak-anak ini, belum juga lahir sudah menyiksa daddy-nya. Jika sudah brojol, mati lah aku!" keluh Evan.
"Aku sebagai istri, harus banyak-banyak mengucapkan terimakasih pada mu bee," ujar Via langsung menunduk memberi hormat pada suaminya.
"Kau mengejek ku hah?"
"Tidak juga. Tapi, lihat anak-anak mu ini, belum lahir saja di sudah berpihak pada ku, jika sudah lahir mereka akan lebih memihak pada ku!" kata Via benar-benar mengejek suaminya.
Sambil mengobrol, Via dan Evan sambil memilih buah-buahan segar. Via mendorong troli dengan semangatnya ketika mendapatkan buah yang sudah di impikannya.
"Suami anda ini bagaimana sih?" tegur salah satu ibu-ibu.
__ADS_1
"Memangnya kenapa ya bu?" tanya Via bingung.
"Troli ini penuh dengan buah-buahan, istri sedang hamil di suruh mendorong sedangkan suaminya berjalan santai. Dasar suami jahat!" kata ibu-ibu tersebut membuat Evan dan Via saling pandang.
Evan yang merasa tersinggung langsung mengambil alih troli tersebut.
"Pergi sana....!" usir Evan kesal.
Ibu-ibu itu kemudian pergi sambil mengomel. Via terus mengejek suaminya. Wajah Evan cemberut tidak terima. Dirinya benar-benar lelah meskipun hanya berjalan-jalan sebentar seperti ini.
Selesai berbelanja, Evan dan Via langsung pulang. Setibanya di rumah Evan tidak mau berbicara, hatinya sakit mendengar ucapan ibu-ibu tadi.
"Kau ini malah marah pada ku. Aneh....!" kata Via.
"Kau pun sama saja!" seru Evan kesal.
"Aku kenapa hah? kau ini semakin hari semakin aneh. Sana, jangan tidur di kamar ini," usir Via berbalik marah.
Evan mengerutkan keningnya bingung, dia yang marah kenapa sekarang malah gantian istrinya marah.
"Sayang kau menangis kah?" panik lah Evan ketika mendengar suara tangisan istrinya dari balik selimut.
"Pergi, jangan ganggu aku!"
Evan berusaha merayu istrinya, baru sekarang Evan melihat istrinya menangis sesegukan. Di banding dengan penculikan beberapa waktu lalu, kejadian hari ini lah yang membuat Via bisa menangis sesegukan seperti ini.
Evan membuang selimut tersebut sembarangan, pria ini langsung menggendong istrinya seperti menggendong anak kecil yang sedang merajuk.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang, aku hanya bercanda. Jangan menangis, nanti kedua anak kita juga ikut menangis," bujuk Evan namun tetap saja Via masih sesegukan.