Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
88.Jambang Ketampanan


__ADS_3

"Duh, bagaimana kabar si Rania bodoh itu ya?" sepanjang malam sampai pagi ini Lili kepikiran dengan Rania.


"Apa aku harus menemui Evan? aaah,...tidak. Aku tidak ingin Evan malah menjadikan ku makanan binatang!" Lili bergidik ngeri sendiri membayangkan wajah dingin dan marah Evan tadi malam.


Selesai sarapan, Lili langsung pergi untuk mencari informasi tentang Rania yang sejak malam sudah tidak ada kabarnya.


Berbeda lagi dengan Randi yang memohon pada papahnya untuk menjamin kebebasannya. Pak Doni tidak habis pikir dengan anak keduanya ini yang ternyata memiliki sifat jelek.


"Setelah kau masuk penjara, sifat jelek mu semuanya keluar. Papah dan mamah benar-benar malu dengan kelakuan mu Randi," ucap pak Doni yang sangat kecewa pada anaknya ini.


"Randi janji akan berubah pah. Tolong bantu Randi bebas dari sini pah!" Randi terus memohon.


"Bisnis papah hancur akibat ulah mu ini. Kau sudah sangat mencoreng nama keluarga kita. Papah tidak bisa membebaskan mu Ran, papah sudah melakukan perjanjian dengan pak Theo!"


"Papah lebih sayang dengan pekerjaan dari pada dengan Randi, anak papah sendiri."

__ADS_1


"Hanya karena satu anak kurang ajar seperti mu, apa papah harus mengorbankan banyak hal? tidak Randi, belajarlah dari kesalahan mu. Papah pergi dulu...!"


Randi mengacak rambutnya frustasi ketika melihat papahnya yang pergi begitu saja. Sekarang semua orang menjauhinya bahkan teman-temannya tidak ada satu pun yang datang menjenguk dirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Via sudah merasa baikan. Melihat wajah pucat dan lelah istrinya, Evan berharap jika dirinya saja yang mengalami gejala kehamilan.


Rumah ini nampak sepi, mami Gitta dan pak Theo sudah berangkat ke kantor setelah selesai sarapan. Para pembantu masih sibuk dengan pekerjaannya. Evan dan Via saling pandang merasa kesepian.


"Apa yang akan kita lakukan wahai suamiku?" tanya Via bingung.


"Mau pergi bagaimana, jalan dikit aja udah lelah. Apa kau tega melihat ku seperti ini?"


"Nanti kita beli kursi roda khusus ibu hamil. Jadi, kau tidak akan merasa lelah lagi."


"Uh, suamiku memang pengertian!" puji Via mencubit pipi suaminya, "tapi, sebelum pergi cukur dulu jambang mu ini. Aku geli melihatnya!"

__ADS_1


"Ini jambang ketampanan, banyak perempuan yang meleleh melihatnya!" ucap Evan bangga pada dirinya sendiri.


"Oh,pantas saja aku bisa menikah dengan mu. Ternyata jambang mu sudah memikat hati ku."


"Akhirnya kau mengakuinya!"


Evan tertawa, ini lah yang membuat Evan senang bisa menikah dengan Via. Istrinya ini sangat nyambung jika di ajak bicara serius maupun bercanda. Yang lebih penting lagi, hari-hari Evan penuh canda tawa.


Satu jam kemudian, Evan dan Via kemudian pergi. Melihat pasangan romantis ini, Banyak orang yang merasa iri melihat cara Evan memperlakukan istrinya.


Mereka melihat-lihat perlengkapan bayi yang membuat Evan dan Via merasa gemas. Namun, mami Gitta melarang mereka untuk membelinya terlebih dahulu.


Berhubung tubuh Via semakin melar dan banyak pakaian yang sudah tidak cukup untuk di kenakan, Evan memilih langsung pakaian untuk istrinya.


Ternyata, banyak barang yang beli. Sebenarnya Via merasa ini sangat boros, namun suaminya yang sudah terlanjur cinta itu rela melakukan apa saja untuk Via.

__ADS_1


__ADS_2