Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
48.Aku Menolak


__ADS_3

"Papah menyuruh kita pulang," ucap Evan yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Em,....!" jawab Via tanpa membuka mulutnya.


"Kenapa kau tidak menggunakan handuk seperti di hotel lagi?" tanya Evan yang benar-benar mengejutkan Via.


"Van, mesum sekali kau ini...!" seru Via.


"Aku lelaki dewasa, wajar saja!" sahut Evan dengan santainya.


Guguplah Via, wanita ini langsung mengajak Evan pergi karena takut terjadi sesuatu yang belum siap Via lakukan.


Di mobil, sepasang pengantin baru ini tidak saling bicara. Via hanya sibuk memandang kearah luar jendela. Hal ini tentu saja membuat Evan merasa tidak nyaman.


"Aku lapar!" seru Evan.


"Aku juga lapar!" sahut Via.


"Lalu kenapa kau diam saja?" tanya Evan.


"Kau laki-laki, seharusnya kau lebih peka apa yang di butuhkan seorang perempuan."


"Kita makan di restoran depan!" ujar Evan mempercepat laju mobilnya.


Evan dan Via masuk kedalam restoran dan langsung memilih menu makan malam.

__ADS_1


"Kau ingin makan apa?" tanya Evan membolak balik buku menu.


"Apa saja, yang murah karena aku miskin!" jawab Via membuat Evan langsung mendongakkan wajahnya.


Pria ini meletakan buku menu lalu membuka dompetnya. Evan mengambil satu kartu tanpa batas lalu memberikannya pada Via.


"Kau istri ku sekarang. Jangan bilang miskin lagi jika tidak.....!"


"Jika tidak apa?" tanya Via memotong ucapan suaminya.


"Aku akan menggigit bibir mu!" sambung Evan membuat wajah Via merona merah, "bayar nanti...!"


"Aku menolak, kau saja!" ujar Via.


"Jika kau tidak mau, aku akan memberikannya pada perempuan lain!" ancam Evan.


"Eh, yang bilang mau menikah siapa?" tanya Evan.


"Tidak ada. Tapi, perkataan mu mengarah ke sana!"


Evan bergeleng kepala, pria ini membuka buku menu lagi dan memesan beberapa makanan.


"Via.....!" sapa suara yang sangat di kenali Via dan Evan.


"Randi,....!"

__ADS_1


Randi melirik kearah Evan lalu memukul wajah Evan hingga membuat Evan terjatuh. Via yang syok langsung menghampiri suaminya dan mendorong Randi yang hendak memukul Evan lagi.


"Randi, kau ini kenapa?" tanya Via marah.


"Bajingan ini, dia juga yang menyuruh ku untuk mengejar mu tapi dia juga yang menikahi mu. Apa maksud dari semua ini hah?"


Evan berdiri sambil mengusap wajahnya, pria ini menarik istrinya kebelakang.


"Bukan urusan mu!" ujar Evan.


"Via, kenapa kau mau menikah dengan laki-laki seperti ini hah?" sentak Randi emosi.


"Apa hak mu melarang ku hah? aku mencintai Evan, apa salahnya jika aku menikah dengan Evan?" ujar Via yang maju ke depan suaminya.


"Pergilah, kami sedang makan. Kau sudah membuat keributan di sini," usir Evan.


"Pernikahan kalian penuh dengan sandiwara. Aku yakin jika sebentar lagi Evan akan membuang mu. Sadar Via, kau dan Evan tidak pantas bersanding. Kau hanya si miskin yang berharap menjadi orang kaya!" cibir Randi sungguh menyakitkan hati Via.


"Aku menerima Via apa adanya. Kau tidak berhak menghakimi istri ku!" sahut Evan yang sudah emosi langsung memukul wajah Randi. Pertengkaran tidak bisa di hindarkan lagi, petugas keamanan langsung menyeret mereka keluar.


Via membawa suaminya masuk kedalam mobil, wanita ini mencoba menenangkan Evan.


"Maaf, aku terbawa emosi," ucap Evan dengan wajah lebamnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah membuat mu malu," ucap Via dengan suara bergetar, "wajah mu terluka, kita tidak usah pulang. Tidak enak jika di lihat papah!"

__ADS_1


"Aku akan memberitahu papah dulu jika kita akan menginap di apartemen," ujar Evan buru-buru mengirim pesan pada papahnya.


Mereka tidak jadi makan, Evan dan Via kembali ke apartemen. Via merasa tidak enak hati pada suaminya, meskipun sekarang hatinya sangat sakit atas penghinaan dari Randi.


__ADS_2