
"Apa papah tahu jika calon istri papah itu pergi dengan laki-laki lain?" tanya Evan setelah selesai makan malam.
"Kenapa memangnya?" tanya Theo yang nampak santai.
"Pah, apa papah tidak takut jika mereka berselingkuh di belakang papah?"
"Terus, papah harus apa?" tanya Theo.
"Papah tidak terkejut gitu?" Evan bertanya balik.
"Wah, papah sangat terkejut!" seru Theo seakan mengejek anaknya.
Evan mengacak rambutnya frustasi, papahnya ini benar-benar sudah gila sekarang.
"Pah, calon istri pergi bersama laki-laki lain papah biasa saja gitu?"
"Harus cemburu gitu?" tanya Theo, "kamu kali yang cemburu!" timpal Theo.
"Evan cemburu?" Evan menunjuk dirinya sendiri, "bukan siapa-siapa kenapa harus cemburu?"
"Jadi, kenapa kau sibuk sekali mengurusi Via?"
__ADS_1
"Ya karena dia calon istri papah. Apa kata orang nanti pah?"
"Bodoh amat kata orang. Kebahagiaan papah bukan orang lain yang menentukan termasuk kamu!"
"Heh, papah menyinggung Evan?"
"Iya, kenapa? tidak suka?"
Evan menarik nafas panjang, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Evan benar-benar gila, bagaimana bisa dia melihat papahnya sesantai ini.
Pagi seperti biasanya, Via menyiapkan sarapan pagi di bantu pembantu di rumah Evan. Bangun pagi seharusnya semangat namun berbeda dengan Evan yang sangat tidak bahagia.
"Yah tidak apa-apa, jadi papah dan Via bisa tinggal bareng di sini. Semuanya bakal papah ganti atas nama Via!" sahut Theo membuat Evan melongo sedangkan Via hanya bisa menahan tawanya.
"Papah benar-benar sudah di buta kan oleh cinta!"
"Kata siapa papah buta?" tanya Theo, "Papah masih bisa membedakan mana yang bening mana yang keriting! tidak seperti kamu, lapuk seperti kayu!"
"Wah, di makan rayap dong!" sahut Via.
"Ya, Evan sudah lapuk di makan rayap. Sampai sekarang tidak menikah juga!"
__ADS_1
"Aduh kasihan, apa mau calon ibu mu ini yang mencarikan jodoh?" tawar Via.
Dongkol sekali Evan, pria ini buru-buru menghabiskan sarapannya kemudian pergi. Via dan pak Theo tertawa keras setelah Evan pergi.
"Temani aku makan siang nanti," ucap Evan sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Lili melayang, wanita ini langsung membayangkan hal yang indah-indah.
"Evan tadi serius kan?" Lili masih tidak percaya.
Sejak di rumah hingga sekarang Evan belum lagi bertemu dengan Via. Mereka masih sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sampai sekarang, Evan hanya memegang jabatan sebagai Direktur utama karena status kepemimpinan masih di pegang oleh papahnya. Tidak masalah bagi Evan, toh sama saja uangnya untuk dia juga.
Menjelang makan siang, Evan benar-benar mengajak Lili pergi. Ini adalah kali pertama Lili duduk didalam mobil Evan setelah sekian bulan bekerja.
Lili tidak akan banyak bertanya kemana mereka akan pergi makan, wanita ini sudah bisa menebak jika Evan akan mengajaknya di restoran mewah.Benar, Lili tidak salah tebak. Dengan bangganya wanita itu masuk kedalam restoran meskipun Evan tidak menggandeng tangannya.
Mereka berdua memesan makanan, namun tanpa sadar di belakang kursi Evan ternyata ada Via dan Randi yang juga makan siang di sana.
"Dunia benar-benar sempit. Ya Tuhan,...kenapa perempuan ini ada di mana-mana?" ucap Evan pelan. Selera makan pria ini lenyap begitu saja, apa lagi ketika mendengar dan melihat kemesraan Via dan Randi yang lagi-lagi sedang membahas masa lalu.
__ADS_1