
"Kau, duduk di depan!" tegur Evan ketika Lili hendak masuk ke dalam mobil.
"Masa aku harus duduk bareng supir?" protes Lili.
"Lebih baik kau duduk di depan dari pada calon istri papah ku ini kenapa-kenapa. Otomatis di coret dari daftar ahli waris," kata Evan membuat Lili kecewa.
"Biarkan dia duduk bersama mu. Aku akan duduk di depan!" ucap Via mengalah.
"Tidak. Papah menitipkan mu pada ku. Jika kau luka secuil pun, mati lah aku. Apa kau tidak kasihan pada calon anak mu ini?"
"Evan, kau ini terlalu berlebihan!" seru Lili.
"Diam kau. Cepat masuk!" titah Evan.
Evan masuk ke dalam mobil, Lili langsung menatap Via dengan wajah marahnya. Tidak peduli, Via langsung masuk ke dalam mobil duduk di samping Evan. Perjalanan kali ini cukup jauh, butuh waktu tiga jam.
Cukup memuakkan bagi Via karena sepanjang perjalanan Lili terus menceritakan masa-masa mereka kuliah dulu. Evan terlihat cuek, hanya sesekali menjawab. Via tahu betul maksud Lili yang mencoba membuatnya panas.
Ketika Via lebih memilih tidur, barulah Lili berhenti menceritakan masa lalunya. Melelahkan memang, pada akhirnya mereka bertiga tiba di salah satu hotel yang sudah di persiapkan.
__ADS_1
"Selamat datang tuan Evan," sapa manajer hotel.
"Apa kamar ku sudah di siapkan?" tanya Evan.
"Tuan Theo sudah menyiapkan semuanya. Tuan Evan dan nona Via akan tinggal di kamar lantai pertama. Sedangkan nona Lili akan tinggal di lantai tiga,"
"Hah, kenapa tidak adil begini?" protes Lili, "Kenapa hanya Via yang berada satu lantai dengan Evan?"
"Maaf nona, semua kamar di lantai pertama hanya di khusus untuk tamu ekslusif saja."
"Aku sekretaris Evan. Via juga sekretaris. Bagaimana bisa kami mendapatkan pelayanan yang berbeda?"
"Sekali lagi maaf nona, tuan Theo akan membunuh kami semua jika calon istrinya tidak mendapatkan pelayanan yang terbaik!"
Lili menarik nafas panjang, mengepalkan kedua tangannya geram. Evan tidak peduli, laki-laki ini langsung masuk ke dalam hotel.
"Makanya, cari calon suami yang kaya raya dan anak tunggal. Hidup mu pasti terjamin," ejek Via.
"Kau lihat saja, sebentar lagi aku dan Evan akan segera menikah!" ucap Lili dengan percaya diri.
__ADS_1
Via tertawa, geli sekali rasanya, "Aduh, kasihan. Halu mu terlalu tinggi sayang," cibir Via lalu menyusul Evan.
Lili benar-benar tidak terima, Via adalah orang ke dua yang akan menghalangi dirinya untuk mendapatkan Evan.
Menjelang malam, Lili turun dan pergi ke kamar Evan. Evan membuka pintu, wajah lelahnya masih nampak terlihat.
"Ada apa?" tanya Evan.
"Aku belum makan malam, ayo kita makan malam bersama!" ajak Lili.
Evan melirik pintu kamar yang berada di depan kamarnya lalu melangkah maju dan mengetuknya. Bukan Via yang terkejut, melainkan Lili yang sangat terkejut karena mendapati kamar Evan dan Via saling berhadapan.
"Apa kau sudah makan?" tanya Evan.
"Belum, nanti saja. Aku hanya ingin tidur," jawab Via.
"Katanya kau akan memberi ku seorang adik, cepat makan jika tidak aku akan melaporkan mu pada papah!" ancam Evan.
"Van, kenapa kau berlebihan seperti ini?" tanya Lili tidak terima.
__ADS_1
"Dia calon ibu ku, aku harus bersikap baik padanya jika tidak papah akan mencoret ku dari kartu keluarga!" kata Evan membuat Lili tercengang sedangkan Via hanya tertawa.
Mereka bertiga makan malam bersama. Meskipun Lili mencoba mendekati Evan namun Evan lebih menghindar dari Lili atau pun Via. Via tidak masalah, wanita ini hanya sibuk dengan makanannya dari pada mengurus Lili dan Evan.