
"Jika ku dekat dengan Randi, akan ku laporkan pada papah!" ancam Evan malah membuat Via tertawa, "kenapa kau tertawa?"
"Tidak, kau ini lucu. Randi adalah teman dekat ku dulu. Kami hilang kontak sejak dia memutuskan untuk kuliah di luar negeri,"
"Apa pun alasannya, aku tidak suka kau mempermainkan papah ku!"
"Terserah kau ingin bicara apa. Kau tidak ada hak untuk melarang ku!" ucap via langsung keluar dari mobil Evan.
Ada sepasang mata yang memandang panas ketika melihat Via keluar dari mobil Evan.
"Evan, kok bisa kamu berangkat sama dia?" tanya Lili penasaran.
"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Evan dengan wajah ketusnya.
"Dia calon ibu mu, sangat tidak pantas jika kau dekat Via," ujar Lili.
"Hampir setiap hari Via berada di rumah ku. Jadi, papah ku sendiri yang menyuruh ku berangkat bersama dia,"
Evan berlalu pergi, meninggalkan Lili yang masih syok dengan perkataan Evan barusan.
"Apa, Via hampir setiap hari berada di rumah Evan?"
Belum hilang syok Lili, mobil Theo tiba-tiba berhenti lalu berjalan mengacuhkannya. Nafas Lili naik turun tak beraturan, selama hidupnya bekerja baru sekarang ada atasan yang sangat cuek dan acuh padanya.
__ADS_1
"Loh pah, katanya tidak pergi ke kantor?"
"Papah akan mengajak Via pergi, kenapa?" tanya Theo.
"Pergi kemana?" tanya Evan penasaran.
"Papah berencana ingin memajukan pernikahan menjadi bulan depan. Jadi, papah akan mengantar Via untuk memilih gaun sekarang." Jelas Theo membuat mata Evan terbelalak lebar.
"Pah, Evan mohon pikirkan lagi. Bagaimana bisa papah menikah dengan perempuan yang usianya saja lebih muda dari ku,"
"Cinta tidak mengenal usia Van. Kebahagiaan akan kita dapatkan jika kita saling melengkapi dalam sebuah hubungan. Papah sudah lama menduda Van, jadi jangan halangi papah untuk mencari kebahagiaan," tutur Theo panjang lebar.
"Oh pah, hantu mamah akan tertawa dan menangis ketika melihat papah menikah dengan bayi," ujar Evan.
"Pah,....!"
"Diamlah, kau membuat papah tuli saja!" ujar Theo lalu keluar dari ruangan anaknya.
Evan mengikuti papahnya yang ternyata benar jika sang papah mengajak Via pergi.
"Gaun, pernikahan, malam pertama!"
sssst,...Evan membayangkan sesuatu yang belum pernah dia bayangkan. Tiba-tiba pria merinding geli membayangkan papahnya sendiri.
__ADS_1
"Usia ku dua puluh sembilan tahun, masa iya aku akan memiliki seorang adik?"
Hah, ingin sekali Evan berguling di loby kantor ini. Rasanya sudah tidak bisa di ungkapkan lagi ketika Evan membayangkannya.
"Ku lihat papah mu pergi bersama Via, kemana mereka?" tanya Lili yang penasaran.
"Kenapa kau ingin sekali tahu masalah orang hah? apa kau tidak memiliki pekerjaan?" tanya Evan yang benar-benar kesal.
Lili terdiam tidak berani bertanya lagi, Evan terlihat kacau pagi ini. Pria ini sudah hilang semangat untuk bekerja dan lebih memilih pergi menemui sahabatnya.
Lagi-lagi, kopi yang di minum Arlan kembali tersembur ketika mendengar cerita Evan. Buru-buru lelaki itu mengusap mulutnya yang sangat panas.
"Heh, seharusnya kau yang memberikan papah mu cucu. Bukan malah papah mu memberikan mu adik," ujar Alan.
"Aku harus apa?" tanya Evan lesu.
"Aku tidak tahu, masalah mu terlalu rumit. Tapi, aku ada ide untuk mu!"
"Apa itu?" tanya Evan kembali bersemangat.
"Ada baiknya kau menikahi calon ibu mu itu. Katakan saja kau sangat mencintai dia, jadi papah mu akan mengalah dan tidak jadi menikah,"
plaaak,...
__ADS_1
Evan memukul kepala Arlan yang sudah memberikannya ide tidak masuk di akal.