Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
16.Maaf Evan


__ADS_3

Pemandangan yang sangat merusak mata Evan, pagi ini Via kembali hadir di rumahnya dengan melakukan aktifitas yang sama seperti biasanya. Evan menguyah rotinya dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Oh calon suami ku, makan yang banyak ya. Biar cepat gemuk!" ujar Via kembali meletakan satu roti lagi ke piring Theo.


"Terimakasih Via ku," balas pak Theo.


Evan langsung memutar bola matanya jijik, pria ini buru-buru bangkit dari duduknya karena jika lama-lama nanti ginjalnya bisa saja keluar.


"Mau kemana kau Evan?" tanya Theo.


"Ya mau kekantor, mau kemana lagi?"


"Pergi bersama Via. Papah hanya ingin beristirahat di rumah hari ini," titah Theo langsung di tolak Evan.


"Dia kan bisa menyetir sendiri. Kenapa harus berangkat dengan ku?" protes Evan.


"Bersikap baiklah pada calon ibu mu Van. Apa kau mau di cap sebagai anak durhaka?"


Evan melirik tajam wanita yang sekarang sedang mengejeknya. Mau tidak mau Evan dan Via berangkat bersama. Theo tersenyum manggut-manggut ketika melihat anaknya yang sangat penurut itu.


Mobil meninggalkan kediaman mewah Evan, sepanjang perjalanan meraka hanya diam tak saling berbicara.

__ADS_1


Tiba-tiba Evan menghentikan mobilnya di pinggiran jalan yang cukup sepi.


"Turun!" titah Evan.


"Van, ini sepi. Kemana aku akan mencari taxi?"


"Aku tidak peduli, turun!"


Via mendengus kesal lalu memilih turun tanpa protes lagi. Evan tertawa puas sudah mengerjai Via. Terlihat sekali Via yang sedang berjalan sendiri itu sedang mengumpat kesal.


Tawa Evan terhenti ketika melihat mobil yang cukup mewah berhenti tepat di samping Via.


"Via, kenapa kau berjalan sendirian?" tanya Randi yang baru keluar dari mobilnya.


"Tidak, aku hanya ingin berjalan kaki saja!" bohong Via.


"Apa kau ingin berangkat bekerja?" tanya Randi lagi.


"Tunggu, kenapa kau ada di sini?" tanya Via penasaran.


"Oh, rumah ku tidak jauh dari sini. Bagaimana jika aku mengantar mu?" tawar Randi.

__ADS_1


Via tersenyum licik, wanita ini sudah mendapatkan ide untuk menjatuhkan Evan di depan papahnya nanti.


Evan panas ketika melihat Randi dan Via yang mengobrol begitu akrab, pada akhirnya Evan keluar dari mobilnya lalu berjalan kearah Via dan langsung menarik tangan wanita itu.


"Cepat masuk, jangan seperti anak kecil yang suka merajuk!" ucap Evan yang ingin mempermalukan Via.


"Siapa yang merajuk?" tanya Via, "bukankah kau menyuruh ku untuk keluar dari mobil mu dan menyuruh ku berjalan kaki ke kantor?"


Jleb,...Evan menelan ludahnya kasar.


"Maaf Evan, aku tahu kau adalah laki-laki dingin yang tidak terlalu menyukai perempuan. Tapi, tindakan mu menurunkan seorang perempuan di jalan sepi sangat tidak pantas bagi seorang pria!"


Senang sekali rasa Via ketika melihat wajah Evan yang tidak bisa berkata apa pun.


"T-tidak, aku hanya bercanda tadi. Ayo calon ibu ku, silahkan masuk kembali," ujar Evan dengan senyum lebat terpaksanya.


"Maaf Randi, aku akan ikut bersama Evan. Sebagai calon ibu yang baik, aku hanya ingin bersikap apa adanya di depan calon anak ku," Ucap Via lagi-lagi membuat Randi bingung.


Randi terdiam, bahkan pria ini hanya berdiri seperti patung membiarkan mobil Evan melaju meninggalkan jalanan sepi.


"Masa iya sih Via calon istri pak Theo?"

__ADS_1


Randi mulai penasaran dengan Via yang sekarang. Bukan apa-apa, Via yang dia kenal memang Via yang suka bercanda. Jadi, Randi takutnya Via dan Evan hanya mengerjainya saja.


__ADS_2