Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
35.Bayi


__ADS_3

"Heh, apa kau serius?" tanya Evan malah membuat Via tertawa, "dasar penipu!" umpat Evan ketika melihat Via yang menyuap makanannya.


"Kau saja yang bodoh!"


"Kau ini benar-benar menyebalkan!"


"Jika aku menyebalkan, kenapa kau datang kesini dan mengemis makanan pada ku hah?"


"Wah, mulut mu ini. Sambar geledek!"


"Sudahlah, aku sudah lapar. Cepat habiskan makanan mu dan pergi sana!"


"Sialan memang!" seru Evan, "Tapi aku serius loh, masakan mu ini sangat enak!"


"Terimakasih atas pujian anda wahai calon suami," ucap Via tanpa sengaja.


"Heh,...apa maksud mu?" tanya Evan tidak mengerti.


"Salah, maksud ku calon anak!"


"Oh, nanti aku akan memasak untuk mu. Masakan ku juga enak loh!" ujar Evan.


"Iya, setelah kita tinggal satu rumah kau akan memasak untuk ku!" sahut Via.


"Kau pikir aku babu mu?"


"Sudah tugas mu begitu, jangan protes cepat habiskan makan mu dan pergi. Aku mau tidur!"


Selesai makan Evan langsung di usir oleh Via. Anehnya Evan tidak pergi menyimpang kemana-mana dan malah langsung pulang. Pria ini pulang dengan wajah dan senyum yang cerah. Membuat pak Theo merasa curiga pada anaknya.


"Wah, lebar sekali senyum mu Van. Ada apa?" tanya pak Theo membuat Evan ingat jika dia baru saja numpang makan di rumah Via.


"Eh anu pah, gak ada!" bohong Evan.


"Kamu habis jalan sama cewek ya?" tanya pak Theo penuh selidik.


"Gak ada, papah jangan mengada-ada!" ujar Evan kemudian buru-buru masuk kedalam kamarnya.


Di kamar, Evan langsung mengusap dadanya merasa lega karena dia sudah berbohong dari sang papah.


"Aduh, jika papah tahu matilah aku. Van,...Van,...ngapain juga kamu makan di rumah Via?"


Evan menggerutu pada dirinya sendiri. Evan berguling-guling di atas tempat tidur, bingung memikirkan alasan jika papahnya tahu jika dirinya makan di tempat Via.

__ADS_1


Malam telah berganti pagi, lagi-lagi pagi ini Evan tidak sarapan bersama pak Theo karena takut di tanyai yang bukan-bukan. Evan berangkat pagi sekali ke kantor, bahkan hari ini Evan tidak keluar sama sekali dari ruangan.


Jantung Evan mendadak hampir copot ketika melihat Via yang baru saja masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"Mengejutkan ku saja!" sentak Evan.


"Hanya mengantarkan makan siang untuk mu. Kata karyawan mu, kau tidak pergi makan siang tadi," ujar Via sambil meletakan paper bag berisi makanan.


"Heh, apa kau memberitahu papah jika aku numpang makan tadi malam?" tanya Evan berbisik.


"Kenapa memangnya?" tanya Via mendadak penasaran dengan sikap Evan.


"Aku takut jika papah akan salah paham pada kita. Mati aku, bisa-bisa aku di tendang dari daftar ahli waris!" ujar Evan membuat Via tertawa.


"Jika menyangkut tentang diri ku, papah mu tidak akan berani marah. Percaya pada ku!" ucap Via.


"Aneh saja kau ini. Sana keluar, bahaya jika ada karyawan yang melapor pada papah nanti,"


"Lah kenapa, ini juga atas perintah pak Theo untuk mengantar makanan dan harus menunggu mu makan sampai habis,"


"Heh, aku bukan anak kecil lagi,"


"Tapi kau belum makan sejak pagi. Jika kau mati kelaparan bagaimana, nanti gak jadi nikah loh!" ujar Via keceplosan.


"Maksudnya aku dan papah mu pasti tidak akan jadi menikah. Jika kau mati otomatis pernikahan kami akan di undur. Jadinya aku gak bisa dapat warisan secepatnya dong!" canda Via membuat Evan kesal.


"Kau mendoakan ku mati?"


"Tidak, aku tidak berani. Aku belum siap, karena mencari jodoh sekarang agak susah!" ujar Via, "sudahlah, ayo makan. Demi perintah papah mu aku juga belum makan siang."


"Lah kenapa?"


"Ya itu karena kau yang belum makan sejak pagi,"


"Ngomong-ngomong, kenapa kau mulai jarang pergi ke rumah?" tanya Evan penasaran.


"Tidak kenapa-kenapa, kau kan tidak menyukai ku. Jadi, aku tidak akan pergi lagi," jawab Via yang entah kenapa membuat Evan merasa bersalah.


Pria ini makan sambil menatap wajah Via, wanita ini cukup cantik. Hanya saja sikap menyebalkannya membuat Evan harus banyak-banyak membuka mulut.


"Makan yang banyak. Biar kau cepat besar!" ucap Evan lalu mengambilkan lauk untuk Via.


"Kau pikir aku masih bayi apa?"

__ADS_1


"Ya memang kau bayi, suka mengoceh!"


"Aku bayi yang bisa bikin bayi. Kau mau bayi berapa hah?" ucap Via membuat Evan keselek makanannya.


Via panik, wanita ini langsung mengambilkan air minum untuk Evan. Setelah minum beberapa teguk, Evan mulai merasa baik kan.


"Kau ini kalau bicara suka ngasal!"


"Nanti juga akan menjadi kenyataan. aku gak asal bicara kok!" ujar Via.


"Habiskan makanan mu dan cepat pergi dari ruangan ku!"


"Kau membalas ku kah?"


"Sepertinya begitu...!" seru Evan.


"Semoga saja anak mu nanti tidak ada yang menurun sifat mu," ucap Via berdoa.


"Apa maksud mu, kau mengatakan jika sifat ku ini jelek kah?"


"Ya, kau yang di sanjung pendiam dan dingin nyatanya mulut mu seperti toa."


Eeeeh,...Evan geram sekali dengan Via, laki-laki ini ingin sekali menggerus mulut Via.


"Heh, apa kabar dengan Sekretaris mu itu?" tanya Via penasaran.


"Tidak tahu dan tidak mau tahu tentang dia!" jawab Evan.


"Hih, kau ini kenapa? sepertinya kau sangat mencintai dia,"


"Jaga mulut mu! dia bukan tipe ku!"


"Jadi, tipe mu yang bagaimana?" tanya Via iseng.


"Seperti kau! puas?"


Via tertawa, membuat makanannya hampir tersembur keluar, "Kalau begitu aku tidak salah pilih."


"Apa maksud mu?"


"Tidak ada!" seru Via kembali melanjutkan makannya.


Selesai makan dan membereskan semuanya, Via langsung kembali ke ruangan. Sedangkan Evan sudah tidak fokus lagi untuk melanjutkan pekerjaannya karena laki-laki ini masih terngiang-ngiang dengan ucapan Via mengenai bayi tadi.

__ADS_1


__ADS_2