
Untuk yang pertama kalinya Evan berjalan-jalan seperti ini, berbaur dengan banyak orang saling berpasangan. Via nampak senang sekali, wanita ini menggenggam tangan suaminya erat.
"Mereka terlihat sangat bahagia. Padahal, hanya duduk-duduk seperti ini saja!" ujar Evan.
"Aku juga sangat bahagia sekarang. Biasanya aku hanya melihat saja, tapi sekarang ada kau di samping ku,"
"Kita duduk di sana...!" Evan menunjuk cafe yang berada di sebarang jalan.
Lalu lalang kendaraan cukup membuat Evan khawatir, pria ini terus menggenggam tangan Via lalu mengajaknya menyebrang.
Mereka sengaja memilih meja yang berada di pinggir jalan. Menikmati secangkir cappuccino hangat sambil melihat keramaian.
"Apa kau tidak pernah pergi ketempat seperti ini?" tanya Via penasaran.
"Tidak pernah. Sekali pun nongkrong ya cuma berdua sama Arlan di cafe milik dia."
"Main mu kurang jauh sayang. Jadi, masa muda mu kau gunakan untuk apa saja?"
"Berhubung aku anak tunggal, jadi papah selalu menekan aku untuk belajar mengelola bisnis sejak aku kuliah."
"Tapi kan kau memiliki kekasih saat itu, mustahil bagi mu tidak melakukan apa pun?"
__ADS_1
"Tentu saja ada, tapi aku dan Rania tidak pernah pergi ketempat seperti ini. Dia lebih senang dinner di tempat mahal, lebih romantis katanya,"
Via tertawa, aneh saja rasanya jika masih ada orang lain yang menakar keromantisan di tempat yang mahal.
"Tempat mahal tidak menjamin kita
puas. Berbaur seperti ini jauh lebih menyenangkan. Kita bisa melihat langsung kebahagiaan orang lain,"
Evan mantap wajah Via, kesederhanaan yang dimiliki Via lah yang membuat Evan semakin mencintai Via. Di balik sikapnya yang tengil itu yang bisa membuat Evan terhibur.
"Jangan melihat ku seperti itu, aku malu!" ucap Via menutup wajahnya dengan tangan.
"Katanya orang kaya, kenapa malah duduk di pinggir jalan seperti ini?" tanya suara yang sangat di kenali Evan dan Via.
"Apa urusannya dengan mu hah?" Evan bertanya balik dengan wajah emosi.
"Via,...Via,...kenapa kau mau saja di ajak pergi ke tempat seperti ini?"
"Aku yang mengajak, bukan Evan. Lagian, apa urusannya dengan mu hah. Suka-suka kamilah!" kata Via geram.
"Ya setidaknya Evan mengajak mu pergi ketempat yang lebih wow sedikit,"Randi terus mencibir Evan.
__ADS_1
"Dari pada ku, keluar masuk restoran mewah tapi bersama perempuan yang berbeda!" Via mengejek Randi.
"Apa maksud mu Via?" tanya Randi pura-pura tidak mengerti.
"Kau ini kenapa hah? sana pergi....!" usir Evan tak mau membuat keributan.
"Dasar penjilat....!" umpat Randi menyinggung Evan, "harusnya kau malu pada ku!"
Evan berdiri, lalu memukul wajah Randi hingga pria tersebut jatuh tersungkur ke belakang.
"Bee.....!" Via kaget.
"Sialan!" umpat Randi hendak membalas pukulan Evan namun malah mengenai Via yang berusaha melindungi suaminya.
Via yang terkena pukulan di kepala langsung tidak sadarkan diri. Kehebohan pun mulai muncul. Evan panik melihat istrinya pingsan dan buru-buru membawa Via pergi ke rumah sakit.
"Sayang bangun,....!" Evan menggendong Via dengan panik, apa lagi mereka memarkir mobil cukup jauh tadi.
Randi yang masih berada di sana hanya bisa terdiam sambil memandang tangannya.
"Ah, sialan!" umpat Randi pada dirinya sendiri.
__ADS_1