
Kembali pulang ke rumah, baru dua jam berada di rumah tangis ketiga anak Evan saling bersahutan. Pak Theo hanya bisa duduk menonton istri dan anak menantunya sibuk mengurusi ketiga cucunya.
Arlan yang duduk di samping pak Theo juga hanya bisa diam ikut menonton keributan di depannya.
"Ku pikir kau hanya bisa membuatnya saja, ternyata bisa juga membuat anak mu tidur!" ujar Arlan seolah mencibir Evan.
"Diam kau!" sentak Evan kesal.
"Sebagai seorang suami dan ayah, kita harus pandai membuat istri dan anak kita tidur nyenyak. Terutama istri," sambung pak Theo.
"Bisa bahas yang lain gak om? Arlan belum nikah loh!" protes Arlan.
"Pulang sana kau, biasanya juga gak pernah ke sini." Evan mengusir Arlan.
"Kenapa tidak kalian saja yang pergi semua hah?" sentak mami Gitta, "sejak tadi kalian berisik. Via butuh istirahat,"
Melihat mata mami Gitta yang hampir keluar, pak Theo mengajak Arlan dan Evan keluar.
"Mereka sudah tidur, sebaiknya kau juga ikut tidur Via. Kau harus banyak-banyak beristirahat," ujar mami Gitta yang sangat memperhatikan Via.
__ADS_1
"Terimakasih mi. Sejak ada mami, Via merasakan kembali kasih sayang seorang ibu," mata wanita ini berkaca-kaca.
Mami Gitta mengusap lembut rambut Via, "Mami juga senang, mami gak bisa punya anak. Eh sekarang malah di kasih anak dan tiga cucu sekaligus,"
"Sekali lagi terimakasih mi," ucap Via langsung memeluk mami Gitta.
Mami Gitta juga membalas pelukan Via, "Sekarang istirahatlah. Terlanjur ketiga anak mu tidur,"
Mami Gitta kemudian keluar dari kamar, Via yang benar-benar lelah langsung terlelap begitu saja.
Tak berapa lama Evan masuk kedalam kamar. Memandang istri dan ketiga anaknya yang saat ini sedang terlelap tidur. Jika di pikir, Evan masih belum percaya jika statusnya sekarang adalah seorang ayah dengan tiga anak.
Eva menghampiri anaknya satu persatu, laki-laki ini terus memuji dirinya sendiri yang jago dalam membuat anak.
"Uh, istri ku pasti kelelahan. Duh, besar sekali gunungnya, tapi sayang tidak bisa ku daki,"
Evan sudah gila, pikiran Evan isinya kotor semua. Pada akhirnya Evan memilih tidur di samping sang istri. Tidak di pungkiri jika Evan juga lelah saat ini.
Menjelang sore, mami Gitta membangunkan Evan dan Via yang masih terlelap tidur. Mereka tidak sadar jika baby Ray, sudah bangun namun tidak menangis.
__ADS_1
"Mami sudah menyiapkan perlengkapan mandi mereka. Via, kamu mandi dulu aja, biar mami yang urus mereka,"
"Evan bantu mami. Sayang, ayo ku antar ke kamar mandi," Evan mengantar istrinya ke kamar mandi.
Mami Gitta memandikan satu persatu bayi kembar tiga itu. Sedangkan pak Theo hanya sibuk mengambil dokumentasi dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Sayang, lihat sini...!" ujar pak Theo.
Tidak peduli, mami Gitta hanya fokus memandikan baby Zay, karena masih ada dua lagi yang antri minta di mandikan.
"Sudah selesai mi?" tanya Evan, "biar Evan yang akan menyelesaikan sisanya!"
Dengan cekatan, Evan membantu mami Gitta memakaikan pakaian untuk anak-anaknya. Untung saja Evan sudah banyak belajar tentang merawat anak.
"Melihat Evan seperti ini, aku jadi berpikir ulang dalam rencana ku," ucap pak Theo sedikit berbisik pada mami Gitta.
"Tunggulah sampai dua atau tiga tahun lagi, jika sekarang Evan tidak bisa fokus pada pekerjaannya,"
"Em, padahal aku sudah ingin beristirahat," pak Theo melengos sedih.
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti ketika melihat Via yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Rasanya bersyukur juga Via memiliki mertua dan suami yang sangat perhatian padanya.