
Dengan kuat Denis mengetuk pintu rumah, orang tuanya. Tiga kali ketukan pintu rumah terbuka, namun baru saja ingin menyapa si pembuka pintu, tiba-tiba bukk.....bukkk..... bukk... Sebuah tangan besar memukul wajah dan perutnya bergantian, tanpa bisa melawan.
"Dasar anak kurang ajar! Anak tidak tau diri! Baj****n kamu", triak papa Denis marah.
Nabila yang tadinya masih belum sampai di teras rumah, karena melihat kejadian itu, mempercepat jalannya, bahkan kini menjadi setengah berlari. "Papa jangan pa...papa!" Teriaknya histeris.
Ia menghambur memeluk tubuh suaminya yang tengah tersungkur. Menghalangi mertuanya agar tak kembali memukul suaminya. "Pa, cukup, pa. Jangan pukul mas Denis lagi", tangis Nabila pecah.
"Pergilah masuk, sayang! Jangan kau kasihani anak bodoh ini. Suami brengsek seperti dia, tak pantas kau bela seperti itu", kata Papa Denis sambil berkacak pinggang.
Nabila menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku minta maaf, jika mas Denis punya salah, Pa", kata Nabila.
Sambil mengarahkan telunjuk ke arah Denis, Papanya berkata, "Kutunggu kamu di dalam, jangan coba kabur dari tanggung jawabmu!" Pria itu kemudian masuk ke dalam rumah.
"Kamu nggak apa-apa mas?" Tanya Nabila yang masih terisak, sementara tubuhnya semakin erat memeluk suaminya.
Denis mengusap darah yang ada di sudut bibirnya. Kemudian membelai kepala istrinya dengan sayang. "Aku nggak apa-apa, sayang. Jangan khawatir!", katanya.
Ia mendorong pelan tubuh istrinya, hingga pelukan itu terlepas. Menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya. " Jangan menangis ya, aku nggak apa-apa" Kata Denis sembari mencium beberapa kali wajah istrinya.
"Ayo kita masuk!" Ajak Denis, yang kemudian membantu istrinya untuk berdiri.
Sambil meyampirkan tangannya ke pundak istrinya, Denis dan Nabila melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Langkah kaki pasangan suami itu tiba-tiba terhenti, tatkala mendapati siap yang kini ada di hadapan mereka. Seorang wanita yang kini sedang menangis, dan coba ditenangkan oleh mama Denis, juga melihat ke arah mereka.
Melihat Denis dan Nabila wanita itu semakin memperkeras tangisnya dan menyembunyikan wajahnya ke pundak mama Denis.
Entah mengapa melihat pemandangan itu tubuh Nabila bergetar, kembali menangis. Dipeluknya tubuh Denis yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Denis pun membalas pelukan itu dengan erat, seolah ingin mengabarkan bahwa ada badai di depan mereka dan jangan sampai badai itu memisahkan mereka. Namun mereka harus saling melepaskan pelukan itu tatkala suara mama Denis mengisi ruangan itu.
"Apa mama, pernah mengajari kamu berbuat sekurang ajar itu, Denis!" Kata Mama Denis dengan air mata terurai. "Mama malu dengan kelakuanmu", tambahnya.
"Apa lagi yang kamu cari, dengan istri yang begitu cantik dan baik. Masih saja kamu sibuk mencari perempuan lain. Mama benci kamu", kata Mama Denis.
"Ma, Denis bisa jelaskan!" Kata Denis sambil berjalan mendekati orang tuanya.
"Mau kamu jelaskan apalagi!" Bentak papa Denis sambil berdiri, akan memukul anaknya lagi. Namun dengan cepat Nabila menghalanginya, sehingga papa Denis mengurungkan niatnya.
"Aku tidak sadar ketika melakukannya karena di bawah pengaruh obat yang sengaja diberikan oleh seorang klien", kata Denis sembari menunduk. Tangannya masih erat menggenggam tangan istrinya.
"Aku tak pernah sekalipun berniat untuk menghianati pernikahanku dengan Nabila karena aku sangat mencintainya", ucap Denis.
"Tapi kenyataannya kamu telah menghamili wanita lain. Kamu harus bertanggung jawab!" Kata Papa Denis.
"Kamu harus menikahinya!" Kata Papa Denis.
"Tapi__"
Belum sempat Denis menyelesaikan kata-katanya, Papanya memotong ucapannya, "Tidak ada tapi-tapian. Kamu harus memikirkan bagaimana nasib anak yang ada di kandungannya, jika kalian tidak menikah", kata Papa Denis.
"Nabila, kemarilah!" Perintah Papa Denis, sambil melambaikan tangannya ke arah menantunya.
Nabila memberanikan diri menatap mertuanya itu, melangkah ragu-ragu menuruti perintah papa Denis.
"Duduklah di sini, anakku!" Kata Papa Denis sambil menepuk sofa yang ada di sebelahnya, ketika sang menantu sudah berdiri dekat dengannya. Nabila pun menurut.
"Papa sangat sayang dengan kamu. Bahkan sebelum kamu menikah dengan Denis sekalipun, mama dan papa sudah sangat sayang kepadamu. Bahkan menganggap kamu adalah anak kami sendiri, kamu ingatkan?"
__ADS_1
"Kami sangat bersyukur ketika ternyata Denis memilihmu untuk dijadikan istri. Kami pun tau Denis, sangat mencintaimu. Tapi, kenyataan yang kami dapat hari ini, harus membuat kami memutuskan sesuatu yang mungkin harus menyakitimu", kata Papa Denis, membuat tangisaan Nabila tak terbendung. Dengan sayang Papa Denis merangkul menantunya.
"Denis harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jangan sampai dia mengulang kesalahan lagi dengan menelantarkan darah dagingnya dan ibu dari anaknya. Denis harus menikahi Jen", kata Papa Denis membuat tangis Nabila semakin kencang.
Melihat kondisi Nabila, Papa Denis tak dapat menahan air matanya untuk jatuh. Begitu juga Mama Denis yang masih setia duduk di samping Jenica.
Kaki Denis sudah terasa sangat lemah. Tubuhnya merongsot ke lantai. Sambil menarik rambutnya, ia pun ikut meneteskan air matanya.
"Kami harap keputusan kami, tidak membuatmu meninggalkan putra kami. Kami tak tau sehancur apa kelak ia, jika kamu meninggalkannya" Kata Papa Denis dengan suara yang berat.
Pria yang rambutnya sudah mulai beruban itu mengambil telapak tangan menantunya, dan menggenggamnya. "Papa mohon, jangan pernah tinggalkan Denis, bagaimana pun kondisinya", kata Papa Denis dengan tangis yang makin deras saja.
"Bukan hanya Denis, tapi Mama juga tak akan hancur jika melihatmu berpisah dengan anak Mama. Jadi Mama juga memohon kepadamu, tetaplah di sisi Denis", kata Mama Denis dengan tangis yang pecah.
"Mama, Papa, aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain. Aku tidak sanggup melihat, suamiku mencintai wanita lainnya. Aku akan mengalah dan melepaskannya____"
Belum sempat Nabila menyelesaikan ucapannya, Denis berteriak, "Tiadak!". Ia berlari ke arah Nabila.
"Tidak sayang, aku tidak akan melepasmu. Aku tak sanggup melanjutkan hidupku jika kamu pergi", tangisan Denis memenuhi ruangan yang besar itu.
"Jangan tinggalkan aku. Jangan, sayang! Kamu boleh menghukumku, mencaciku, memukulmu, atau lakukan apa yang kamu suka. Tapi jangan pernah pergi dariku", suara Denis semakin serak karena tangisnya. Dengan erat pria itu memeluk tubuh istrinya.
Nabila mengelus dengan sayang kepala suaminya. Kemudian, menatap satu persatu orang di dalam ruangan itu. "Aku akan mengalah dan melepaskan mas Denis, jika memang anak yang ada di kandungan Jen adalah anak mas Denis".
Mendengar ucapan Nabila, mata Jenica terbelalak. Begitu juga yang lain, menatap aneh ke arah Nabila yang kini tengah mengusap air matanya.
"Aku bukan perempuan yang kejam yang rela memisahkan anak dengan ayahnya. Aku akan mengalah padamu, dan memberikan sepenuhnya suamiku padamu, jika memang itu adalah anak dari suamiku. Meski aku tau, bahwa aku juga akan hancur berpisah dengan masa Denis", kata Nabila tegas.
"Apa maksudmu? Tentu saja ini anak Denis. Bahkan kamu sendiri tau saat aku dan Denis berada diatas ranjang berdua. Bagaimana, kamu bisa mengingkari itu?" Kata Jenica. Air mata wanita itu turun lagi setelah tadi sempat berhenti.
__ADS_1