Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Jalan-Jalan


__ADS_3

Denis masuk kembali ke kamar Nabila, setelah ia mandi dan berganti pakaian. Semalam Denis tidur di kamar Nabila, karena Nabila tidak mau ditinggalkan sendirian.


Ia duduk di pinggiran tempat tidur, disamping Nabila yang dilihatnya dari tadi hanya diam melamun. "Nab", panggil Denis sambil mengusap punggung istrinya itu. Sentuhan Denis membuat Nabila sadar dari lamunannya.


Nabila melihat ke arah Denis sambil tersenyum tipis yang sedikit dipaksakan. Wajah Nabila nampak sembab karena terlalu banyak menangis. "Kamu, nggak kerja, mas?", tanyanya lirih. Denis hanya menjawab dengan menggeleng.


Mas? Denis berasa asing dengan panggilan itu, karena jarang bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah selama ini Nabila memanggil sekedar namanya, tiba-tiba dia menyebut kata mas. Asing, tapi Denis suka dengan panggilan itu.


"Kenapa nggak kerja?", tanya Nabila, sambil mengikat rambutnya asal.


"Aku akan berangkat kerja, kalau kamu sudah baikan, sudah bisa kutinggal", sambil menyelipkan rambut Nabila yang menutupi pipinya ke belakang telinga.


"Aku nggak apa-apa, mas. Kamu nggak usah kuatir. Berangkatlah kerja biar aku siapkan bekal makan siang, ya.. ", Nabila berusaha meyakinkan.


Denis tidak menanggapi ucapan Nabila. Ia berdiri dan menarik tangan Nabila "Ayo sarapan dulu, Bi Atik sudah siapin sarapan". Denis menggandeng Nabila sampai di meja makan. Ia menarik sebuah kursi untuk Nabila, setelah Nabila duduk ia menarik sebuah kursi untuk dirinya duduk.


Mereka berdua menikmati sarapan buatan Bi Atik. Beberapa kali Nabila masih nampak melamun, dan setiap kali melamun Denis akan menegurnya agar kembali makan.


"Ayo Nab, kita jalan-jalan!", ajak Denis. Namun Nabila tak menjawab, justru bertanya balik pada Denis, "Kamu beneran nggak kerja hari ini?". Denis hanya menggeleng.


Setelah selesai dengan sarapannya, Denis berdiri dari duduknya. "Gantilah pakaianmu, kutunggu di bawah, jangan lama-lama", Denis memasukkan kedua tanggannya ke saku celana kemudian berjalan menjauhi meja makan.


Nabila yang sudah berganti pakaian, membuka pintu apartemen dan melangkah keluar, ketika hendak menutupnya kembali, ia dikagetkan dengan keberadaan Denis yang ada di sebelahnya. "Katanya mau nunggu di bawah?", mukanya heran melihat Denis. Denis tak menjawab, ia berjalan ke lift diikuti Nabila di belakangnya.

__ADS_1


Mereka sudah ada di dalam mobil yang melaju. Tiba-tiba Denis bersuara, membubarkan lamunan Nabila. "Selama kamu belum benar-benar pulih, Bi Atik akan datang setiap hari untuk mengerjakan pekerjaan rumah".


Nabila yang duduk bersandar di punggung kursi, memiringkan sedikit badannya sehingga menghadap Denis. "Aku sudah nggak apa-apa, nggak usah terlalu berlebihan". Denis tidak menanggapi, ia masih fokus ke depan dengan kemudinya, membuat Nabila cemberut dan mengerucutkan bibirnya.


Mereka sudah sampai tempat tujuan. Denis mematikan mesin mobil, setelah memperoleh tempat parkir. Nabila melihat penuh tanya ke arah Denis, " Kita mau apa kesini?". Denis tersenyum melihat ke arah Nabila, "Ayo turun", kemudian dia keluar dari mobil.


Nabila keluar dari mobil, ia nampak cemberut. Denis yang melihat hanya tersenyum saja. Dia menyambar pergelangan tangan Nabila lalu melangkahkan kaki ke loket. Nabila terus menggerutu, tapi tak menolak mengikuti langkah Denis.


Mereka segera masuk ke dalam tempat itu, setelah memperoleh tiket. Setelah beberapa meter melangkah, tiba-tiba Nabila mendudukkan badannya di sebuah bangku panjang dengan kesal. Nabila melirik ke arah Denis, "Kita sebenarnya mau apa kesini? Aku kan bukan anak kecil lagi. Ngapain juga diajak kesini", ucapan Nabila dengan nada yang agak keras.


Denis melihat ke arah Nabila kemudian tersenyum. Dia lalu ikut duduk di sebelah Nabila, "Tadi aku sudah tanya, kita mau kemana, kamu bilang terserah, ya udah kuajak kesini aja, kok kamunya malah ngambek" Ucap Denis lembut.


Nabila menunduk, "iya terserah tapi juga nggak gini-gini amatkan", lirih Nabila tapi masih bisa didengar oleh Denis.


"Ya udah, kita balik aja kalau gitu, kita kesini lagi kalau udah punya anak", goda Denis yang membuat wajah Nabila memerah karena malu. Denis berdiri dari duduknya, kemudian mengambil pergelangan tangan Nabila untuk ikut dengannya.


Denis berjalan kemana saja langkah kaki istrinya menuntunnya. Sesekali mereka berhenti karena Nabila ingin difoto dengan satwa tertentu. Senyum Nabila terpancar sepanjang langkahnya, membuat hati Denis menjadi tenang.


Mereka tiba di kandang Gajah. " Mas naik itu yuk", pinta Nabila sambil menunjuk ke arah Gajah.


"Nggak ahh, kamu aja", Denis lalu duduk di bangku yang ada di dekat tempat itu. Nabila menarik tangan Denis, memaksa Denis untuk ikut naik Gajah bersamanya. Terjadi diskusi yang cukup alot diantara mereka, hingga akhirnya Denis menyerah dan mengikuti keinginan Nabila.


Denis naik ke punggung Gajah lebih dulu, diikuti Nabila yang duduk di depannya. Nabila sangat menikmati moment, senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Beberapa kali dia meminta Denis mengabadikan moment itu dengan kamera ponsel.

__ADS_1


*****


Denis melihat sekilas jam tangannya. "Sudah hampir jam 1, kita makan dulu ya?", ucap Denis sembari tetap fokus dengan kemudinya. "He'em", Nabila menjawab singkat sambil menganggukkan kepalanya.


Denis membawa mobilnya masuk ke area sebuah mall. Mereka masuk ke sebuah restoran yang ada di dalam mall. Tak beberapa lama setelah memesan makanan, pelayan mengantarkan makanan di atas meja mereka.


Nabila makan tampak begitu lahap, hingga Denis tak henti menatapnya sambil tersenyum. Nabila yang menyadari suaminya sedang menatapnya, mengangkat kepalanya "Kenapa mas?kamu mau?", tanpa mendengar jawaban Denis, Nabila mengambil spageti dengan sumpit lalu mengarahkan ke mulut Denis. " Aaakkk", Nabil meminta Denis membuka mulutnya, Denis pun menurut.


Setelah makan siang, Denis mengajak Nabila jalan-jalan di mall. Saat melewati toko ponsel, dia teringat sesuatu, ia pun masuk ke dalamnya. Nabila tetap setia mengikutinya dari belakang.


Pegawai toko itu menyambut mereka dengan ramah. "Yang mana ponsel terbaru dan tercanggih?" Tanya Denis pada pegawai itu. Pegawai itupun menyodorkan ponsel seperti yang diminta Denis kemudian menjelaskan fitur ponsel tersebut.


Setelah dirasa cocok, Denis segera meminta karyawan itu membungkus ponsel tersebut kemudian membayarnya.


Waktu semakin sore, mereka memutuskan untuk pulang. Setelah perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di parkiran apartemen. Setelah Denis mematikan mesin mobil, Nabila memegang handle pintu mobil, hendak keluar. Tapi, dia mengurungkannya. Dia membalikkan tubuhnya menghadap ke Denis yang sibuk melepas safety belt.


"Mas, makasih ya untuk hari ini", sambil tersenyum hangat.


Denis menghadap ke arah Nabila, meraih jemari istrinya dan meletakkan di pangkuannya. "Nab, ini belum apa-apa, aku masih belum bisa menebus kesalahanku, karena aku tak bisa menjagamu dengan baik, hingga orang lain dengan mudahnya melukaimu"


Nabila meletakkan jarinya ke bibir Denis. "Jangan bilang begitu mas, bukan salahmu. Aku yang kurang berhati-hati dengan diriku sendiri"


"Aku janji akan menjagamu, tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu seperti itu lagi", sambil Denis membelai lembut wajah Nabila. Kemudian dia mencium lembut kening Nabila dan kedua pipinya. Tak berhenti sampai di situ. Melihat bibir Nabila yang ranum dia tak ingin melewatkannya.

__ADS_1


Denis mencium dengan hangat bibir Nabila. Tak seperti sebelumnya, kali ini Nabila membalas ciuman Denis tak kalah hangat. Lama bibir mereka saling berpaut, menikmati manisnya bibir satu sama lain. Hingga akhirnya suara ponsel Denis, membuyarkan romantisme diantara keduanya.


Muka Nabila nampak bersemu merah, ia tak berani mengangkat kepalanya. Dia terburu-buru untuk keluar mobil, dan meninggalkan Denis yang hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya itu sambil masih merasakan kenikmatan yang baru saja di dapatkan dari bibir Nabila.


__ADS_2