Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Tamu


__ADS_3

Denis dan Nabila sudah ada di dalam taksi menuju apartemen. Mereka saling menjaga jarak. Keduanya termenung menatap keluar jendela, ntah apa yang keduanya sedang fikirkan, hingga akhirnya taksi sampai ke tempat yang mereka tuju.


Nabila segera membuka pintu mobil yang ada disebelahnya, begitu taksi berhenti di depan pintu masuk apartemen. Keningnya berkerut, bertanya-tanya mengapa suaminya tidak kunjung turun juga, padahal supir taksi sudah membuka bagasi mobil untuk mengambil barang bawaannya.


"Kopernya Kok Tidak Diturunkan Sekalian, Pak?" Tanya Nabila kepada sopir taksi yang memberinya sebuah tas dan membiarkan koper Denis tetap di dalam bagasi.


"Tuan itu tidak turun disini, nona", ucap sopir taksi itu sopan.


Setelah mendengar jawaban sopir itu, Nabila segera membuka kembali pintu taksi yang tadi ia tutup. Kemudian membungkukkan badannya agar bisa melihat isi dalam taksi. "Mas kok nggak ikut keluar?", tanyanya pada suaminya. Namun, Denis sama sekali tidak bergeming.


"Pak, kita berangkat sekarang!" Perintah Denis pada sopir taksi yang sudah duduk kembali di belakang kemudi.


Sopir taksi itu mengangguk, sembari berucap, "Baik, tuan"


"Mas, mau kemana?" Tanya Nabila dan lagi-lagi tidak mendapat jawaban dari suaminya


Sopir memutar sedikit badannya kekiri. "Nona, tolong tutup kembali pintunya!" Pinta sopir taksi itu sopan.


Dengan berat hati, Nabila menutup pintu taksi itu kembali. Kakinya mundur beberapa langkah ke belakang, matanya masih fokus dengan taksi warna biru yang sudah mulai terdengar mesinnya menyala.


Perlahan namun pasti, taksi itu menjauh dan akhirnya tak terlihat oleh matanya. Tesss... tanpa ia bisa kontrol, air mata lolos dari pelupuk matanya, namun dengan cepat ia seka dengan jari-jari tangannya. Sesaat dia masih berdiri termenung. Ketika pikirannya sudah kembali, ia melangkah masuk ke apartemen.


Nabila merebahkan diri diatas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit. Pikirannya kembali kepada peristiwa malam terakhir mereka di kamar hotel di Lombok, ketika Denis meninggalkan dirinya sendiri dimalam itu.


"Apa iya kesalahanku begitu fatal hingga Denis harus bersikap seperti ini", gumam Nabila dalam hati. Dia membolak balikkan badannya, sekejap dia kembali ke posisi semula. "Kenyataannya aku memang belum bisa melupakan andrean, tapi aku juga tidak siap jika harus kamu tinggalkan, mas", Nabila bermonolog.


Tak terasa ujung matanya basah, dan air mata tumpah begitu saja. Entah mengapa Nabila begitu cengeng kali ini, padahal selama ini dia dikenal sebagai pribadi yang kuat dan berani.


Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 16.50, ketika baru saja Nabila keluar dari kamar mandi. Ia segera menuju dapur untuk memasak makan malam. Nabila masih berharap Denis akan pulang malam ini, sehingga dia harus menyiapkan makanan untuk suaminya itu.


Kali ini ia memasak gulai ikan kesukaan suaminya. Beberapa bulan menikah, dia sudah belajar tentang apa makanan yang disukai dan tidak disukai suaminya. Tak butuh waktu lama untuk Nabila menyelesaikan kegiatannya Di dapur karena memasak sudah menjadi kegiatan sehari-harinya sejak remaja.


Sambil menunggu Denis pulang, Nabila menyibukkan diri dengan membaca buku yang baru diambilnya dari lemari buku. Namun sampai lewat jam makan malam, Denis tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Karena perutnya sudah sangat lapar dan berfikir suaminya tak akan pulang malam ini, Nabila memutuskan untuk makan sendiri. Baru beberapa sendok nasi masuk ke mulutnya, tiba-tiba bel berbunyi. Nabila meletakkan sendok yang dipegangnya ke atas piring, sejenak berfikir apa mungkin orang yang diluar sana adalah suaminya. Jika suaminya kenapa harus menekan bel segala, bukankah dia sudah hafal kode masuk apartemen.


Tak mau banyak menduga-duga, Nabila bergegas membuka pintu. Besar harapannya bahwa yang datang memang suaminya, meskipun peluangnya sangat kecil.

__ADS_1


Saat pintu sudah terbuka, Nabila tertegun dengan pemandangan yang ada di depannya. Dia mengerutkan keningnya, mencoba menerka siapa wanita yang ada di depannya itu. Namun, dengan cepat ia mengubah mimik wajahnya, dan tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu?", ucap Nabila sopan.


Wanita itu tersenyum, kemudian menjawab pertanyaan Nabila, "Apa Denis ada?"


"Mari silahkan masuk dulu, nona", ajak Nabila.


Wanita itupun masuk diikuti oleh Nabila dari belakang, setelah ia menutup kembali pintu apartemen yang ia tinggali.


Tanpa dipersilahkan, wanita itu langsung duduk di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu. Nabila masih berdiri memandangi wanita yang ada di depannya itu. Wanita itu terlihat cantik, meskipun sebenarnya Nabila lebih cantik daripadanya. Wanita itu memakai dress selutut tanpa lengan, memperlihatkan kulitnya yang putih.


Wanita itu memutar matanya, memperhatikan ruangan yang nampak oleh matanya. "Ternyata tempat ini tak banyak berubah, masih sama", ucapnya, kemudian senyum kembali nampak di wajahnya.


Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Nabila yang masih berdiri di depannya. Sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Nabila, wanita itu berucap " Kamu?"


Nabila yang tak siap dengan pertanyaan wanita itu, menjawab dengan gugup. "Sa_saya Nabila", ucapnya.


"Apa kamu menggantikan bi Atik disini?", ucap perempuan itu.


"Saya Jenica, panggil aja Jen", ucap wanita itu.


"Oh ya saya lupa, Nona Jen mau minum apa?" Tanya Nabila.


"Ehmmm....Nggak usah Nabila, saya nggak begitu haus. Oh ya, Denis mana?" Ucap Jen sambil mengarahkan pandangannya ke arah ruang bagian dalam.


"Tuan Denis sepertinya tidak pulang, nona", Jawab Nabila.


"Kemana?" Tanya Jen.


Nabila hanya menggelengkan kepala untuk merespon pertanyaan Jen.


"Aku lupa, kamukan cuma ART", ucap Jen, sambil tersenyum dan menutup mulutnya dengan jari-jarinya. Tentu saja ucapan Jen membuat Nabila tersinggung, tetapi ia mencoba bersikap biasa.


"Nona, ehmmm..... Apa nona sudah makan malam? Kalau belum, kalau tidak keberatan, bagaimana kalau anda makan malam disini? Saya tadi sudah memasak, tapi ternyata Tuan Denis tidak pulang", kata Nabila


"Baiklah", Jen bangkit dari duduknya. "Aku sebenarnya kesini mau ngajak Denis makan malam, tapi ternyata dia nggak ada", ucap Jen sambil berjalan menuju ruang makan. Jen sangat hafal ruangan apartemen itu, jadi tanpa Nabila tunjukkan, ia bisa menemukan dengan mudah dimana ruang makannya.

__ADS_1


Nabila berjalan di belakang Jen. Ada banyak pertanyaan yang kini menghantui fikirannya. Tapi ia berusaha untuk bersikap wajar.


Jen sudah duduk di kursi dan mengambil makanan. Sementara Nabila kembali melanjutkan makanan yang ada di piring yang tadi sempat di tinggalkannya.


Selain makan, mereka juga ngobrol-ngobrol.


"Apa bi Atik sudah nggak pernah kesini?" Tanya Jen.


"Masih nona, tapi jarang sekali", Jawab Nabila


"Jangan panggil nona, dong Nab. Panggil saja Jen", seru Jen, yang kemudian memasukkan sesuap makanan kedalam mulutnya. "Kita kayaknya seumuran, jadi nggak perlu sungkan", imbuhnya, kemudian ia tersenyum.


"Anda sepertinya sudah sangat hafal tempat ini?" Tanya Nabila penasaran.


Jen mengulas senyum, kemudian tampak ia menerawang mengingat-ingat sesuatu. "Aku dulu sering kesini Nab, kalau Denis lagi liburan ke Indonesia. Kita akan banyak menghabiskan waktu berdua disini", ucapnya lalu tersenyum.


"Berduaan di sini, apa saja yang mereka lakukan?", gumam Nabila dan hati. Mendengar ucapan Jen, nafsu makan Nabila tiba-tiba menjadi hilang. Ia berusaha mengontrol diri, agar Jen tak curiga.


*******


Sementara di rumah keluarga Gumilang. Denis sejak datang ke tempat itu hanya mengurung diri dikamarnya. Saat ini kondisi kamarnya sangat berantakan, pecahan kaca dan perabot berserakan di lantai karena tadi Denis sempat mengamuk.


Ia membuang apa saja benda yang ada di dekatnya, meninju cermin yang ada dikamar itu hingga darah mengucur dari punggung tangannya. Ntah setan apa yang merasukinya kala itu.


Beberapa pelayan yang mendengar keributan di dalam kamar Denis, sempat mendekat ke arah terjadinya keributan. Mereka kuatir terjadi hal buruk pada majikannya itu, karena tau bagaimana watak majikannya yang tempramental itu.


Melihat beberapa pelayan berkumpul di dekat kamar tuan mudanya, Pak Damar, kepala pelayan segera membubarkan mereka. Kemudian ia melangkah masuk menuju kamar Denis.


Sejak kecil, Denis sering ditanggal ke dua orang tuanya ke luar negeri. Di saat itu, kasih sayang Pak Damar lah yang selalu ada untuknya. Tak hanya sebagai pelayan, Denis menganggap pak Damar seperti orang tuanya sendiri.


Disaat kondisi Denis marah, biasa Pak Damar lah yang mampu menenangkannya. Tapi ntah kenapa usaha pak Damar menenangkan majikannya kali ini tak berhasil.


____________


Maaf beberapa hari ini author sangat sibuk jadi baru sempet up hari ini. selamat membaca😉


jangan lupa beri dukungan dengan like, coment dan vote ya.

__ADS_1


__ADS_2