
Denis, Nabila, dan Jenica telah ada di ruang tunggu pemeriksaan dokter spesialis kandungan.
Tadi, tanpa izin Denis, Nabila memutuskan untuk mengangkat panggilan dari Bi Atik. Dan benar saja, keputusannya untuk mengangkat panggilan di ponsel suaminya, tidak salah. Mereka mendapatkan kabar bahwa Jenica mengeluarkan tetesan darah di jalan lahir.
Setelah mendapatkan kabar kurang baik tersebut, pasangan suami istri itu bergegas untuk datang ke tempat Jenica. Pelayan di rumah orang tua Denis, sebenarnya sudah menawarkan diri mengantarnya ke rumah sakit, namun Jenica menolak, karena dia memang bukan karakter orang yang mudah percaya dengan orang lain.
Tak perlu menunggu lama, untuk Jenica mendapatkan pelayanan bertemu dokter, karena memang sebelumnya Nabila sempat menghubungi dokter tersebut dan menceritakan kondisi Jenica, sehingga ia mendapat prioritas untuk diperiksa terlebih dahulu.
Setelah asisten dokter memanggil nama Jenica, ketiga orang tadi segera berjalan menuju ruangan pemeriksaan. Denis berjalan lebih dulu mendahului Jenica yang dituntun berjalan hati-hati oleh Nabila.
"Denis!" Seru sang dokter, saat melihat pengantar pasien adalah orang yang dia kenal. Dokter itu bangkit dari tempat duduknya. Ada gurat bingung nampak di wajah tampannya.
Denis hanya membalas sapaan sang dokter dengan senyum kecil. Dalam hati kecilnya, sebenarnya ia enggan bertemu sahabat lamanya itu, apalagi kini ia sedang bersama istrinya juga.
Tak bisa dipungkiri, masih ada perasaan cemburu, melihat istrinya harus bertemu dengan cinta lamanya.
Ya, Denis sudah mengetahui hubungan istrinya dengan Andre di masa lalu, saat ia memutuskan menyelidiki hubungan istrinya dengan sahabatnya itu, saat diam-diam ia mendengar sedikit dialog diantara istrinya dengan Andre di pesta Andre tempo hari.
Perhatian Andre teralihkan, tatkala Jenica masuk ke ruang periksakan bersama Nabila. Tak bisa di pungkiri, pesona Nabila belum bisa menghilang sepenuhnya dari pikiran dokter tampan itu, meski ia sudah berusaha menghilangkannya.
Tentu saja tatapan Andre kepada Nabila, membuat sang suami panas. Meskipun, di pertemuannya yang terakhir dengan Andre, Andre telah mengatakan kepadanya, bahwa dia sudah menghapuskan nama Nabila dari hatinya.
"Sayang, kamu disini saja", kata Denis, menahan langkah Nabila untuk memperpendek jaraknya dengan Andre, dengan melingkarkan tangannya ke pundak istrinya.
"Biar asisten Andre yang membantu Jen", ucap Denis lagi.
"Kamu kenapa, Jen?" Tanya Andre sambil mengatur duduknya di dekat Jenica, yang sedang berbaring.
Belum sempat Jenica menjawab pertanyaan Andre, Andre lebih dulu membuka mulutnya kembali. "Stres?" Tanya Andre, yang refleks matanya tiba-tiba melihat ke arah Denis dan Nabila.
Andre meletakkan sebuah alat di perut Jenica, yang baru saja di olesi cream tertentu oleh asistennya. Pria itu memutar-mutar alat tersebut, sehingga kondisi dalam rahim Jenica bisa diamati di monitor besar, yang terpasang di tembok ruangan itu.
Dengan hati-hati Andre menjelaskan kondisi Janin dan kandungan Jenica, yang nampak di layar monitor. Tak lupa pria itu juga memberikan nasihat-nasihat kepada Jenica agar pendarahan itu tak berulang.
Setelah memeriksa Jenica, Andre berganti tempat duduk. Kini ia berhadapan langsung dengan Denis dan Nabila yang masih berdiri, tak mau duduk.
"Mana suaminya?" Tanya Andre ke sembarang orang. Ia sengaja melontarkan pertanyaan itu, untuk menjawab rasa penasarannya yang muncul sejak dari Denis masuk ke ruangannya.
Nabila dan Denis kompak tak bicara. Mereka memberikan Jenica kesempatan untuk bicara sendiri.
"Jen?" Kini Andre menekankan pertanyaannya tadi pada Jenica, sambil memutar sedikit kursinya sehingga ia bisa melihat Jenica yang baru saja turun dari tempat tidur pemeriksaan dibantu oleh asistennya.
Sambil merapikan pakaiannya, Jenica berjalan menuju meja Andre. Wanita itu kemudian duduk di kursi, yang ada di seberang Andre. "Suamiku ada di luar negeri", kata Jenica.
Apa yang diucapkan Jenica membuat Andre bisa bernafas lega, karena apa yang dipikirkannya ternyata salah.
__ADS_1
Seolah tau apa yang dipikirkan Andre sebelumnya, Denis tersenyum sinis saat Andre sempat mencuri lihat kepadanya.
Setelah sesi konsultasi selesai, tiga orang tadi undur diri. Namun, belum sampai ketiganya keluar dari ruangan itu, langkah terhenti karena suara Andre.
"Denis, bisa kamu tinggal sebentar? Aku ingin bicara", kata Andre.
Denis sejenak menengok ke belakang, ke arah Andre, sebelum ia memutuskan tetap tinggal diruangan itu dan meminta istrinya menunggunya di luar.
"Kamu tunggu aku di luar dulu ya, sayang. Hati-hati!", kata Denis, yang kemudian memberi kecupan ringan di kepala istrinya sebelum mereka berpisah.
"Ada apa lagi?" Kata Denis, melangkahkan kaki mendekati Andre, sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Benarkah yang di katakan Jenica tadi?", kata Andre, membuat Denis mengerutkan keningnya.
"Yang mana?" Tanya Denis, pura-pura tak tahu.
"Suaminya ada di luar negeri?" Ucap Andre hati-hati.
Denis tersenyum sinis, "Maksudmu?"
"Aku mengenalmu dan mengenal Jen cukup lama, termasuk tahu hubungan kalian dulu", kata Andre.
"Lalu?" Tanya Denis malas.
"Benarkah kamu sama sekali tak ada hubungan dengan anak yang dikandung Jen?" Tanya Andre.
Tiba-tiba saja Denis menarik kerah baju Andre dan mendorongnya dengan keras di dinding. "Brengsek! Picik sekali pikiranmu! Aku tak seba*****n itu, brengsek!"
"Tenang Nis, tenang!" Kata Andre sambil memegangi tangan Denis. "Aku hanya memastikan kau tidak menyakiti Nada", katanya lagi.
Denis sudah bersiap akan melayangkan tinjunya ke muka Andre, namun ia urungkan keinginannya itu. Dia pun melepaskan cengkraman tangannya dari baju Andre.
"Jangan pernah campuri lagi urusanku dan istriku!" Dengan muka marah, Denis memperingatkan Andre, sebelum akhirnya ia keluar ruangan itu sambil membanting pintu, sehingga orang-orang yang ada di sana kaget.
"Mas, mas Denis, Ada apa?" Nabila memanggil Denis sambil menggandeng Jenica.Ia mempercepat jalannya mengekori suaminya yang sama sekali tidak menghiraukan panggilannya.
Brakkkk....Denis menutup pintu mobil dengan kencangnya, sesaat setelah ia masuk ke dalam mobil hitamnya yang terparkir di klinik Andre. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di kursi mobil, menengadahkan kepalanya sambil menutup matanya.
Nabila yang baru saja menyusul masuk mobil bersama Jenica, dengan sabar mengusap - usap lengan Denis, mencoba menenangkan suaminya itu.
"Ada apa, sayang?" Tanya Nabila lembut. Kenapa marah begitu?" Tanya Nabila lagi. Namun Denis tidak merespon.
"Jen, kita naik taksi aja ya. Pak sopirnya ngambek", gurau Nabila.
"Jangan!" Kata Denis keras, membuat Nabila dan Jen menahan tawa.
__ADS_1
"Kukira ngambek, nggak mau nyetirin kita lagi", Goda Nabila lagi.
Denis menatap Nabila sayu. "Sini mendekat!", perintah Denis.
"Mau apa?" Tanya Nabila sambil melirik Jenica.
"Nggak usah, tanya-tanya. Sini!" Perintah Denis lagi.
Karena Nabila tak kunjung mendekat, Denis yang menggeser tubuhnya mendekati Nabila. Lalu dengan cepat ia menarik tubuh istrinya dan memeluk tubuh mungil istrinya sambil menghujaninya dengan banyak ciuman di kepala.
"Mas, lepasin!" Cicit Nabila. "Malu!" Lanjutnya, sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Namun tenaga Denis yang lebih besar, membuatnya tak bisa menghindari perbuatan suaminya yang kelewat jahil itu. Ia pun, hanya bisa memukul-mukul pelan punggung Denis.
Muaaachhh....Denis baru melepas pelukannya, setelah ia memeberikan kecupan di pipi istrinya.
Begitu pelukan itu lepas, Nabila menjadi salah tingkah. Merasa malu dengan Jenica yang kini memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Denis pada istrinya yang nampak wajahnya masih memerah, menahan malu. Namun membuatnya justru semakin menyukai ekspresi istrinya itu.
Nabila hanya mengganggukkan kepalanya, bersamaan dengan dinyatakannya mesin mobil oleh Denis.
Jalanan yang cukup ramai membuat kendaraan yang dikemudikan Denis, melaju tidak terlalu kencang. Gemerlapnya lampu jalan, pertokoan, dan gedung-gedung bertingkat, semakin menyemarakkan suasana malam yang baru saja lepas diguyur air hujan.
Nabila menggoyangkan pelan lengan suaminya, hingga pria itu kini melihat ke arahnya. "Ada apa?" Kata Denis, tapi suaranya tak muncul.
"Aku pengen puding almond sama vla stoberi di tempat biasanya", kata Nabila.
"Ok nona, kita kesana sekarang", kata Denis.
"Bisa nggak kita pulang saja langsung, badanku rasanya sudah capek dan lemas banget", kata Jenica, dengan pandangan masih tertuju dengan pemandangan di luar kaca jendela.
"Iya, setelah kita beli puding buat Nabila kita langsung pulang", kata Denis.
"Tapi aku sudah bener-bener nggak kuat kalau harus mampir-mampir", kata Jenica yang memang wajahnya nampak pucat saat itu.
"Kalau kamu nggak mau, naik taksi aja", kata Denis sebal.
"Mas, jangan begitu! Kita bisa beli nanti aja kalau pulang. Kita antar Jenica dulu ya?", kata Nabila menenangkan suaminya.
"Menyebalkan!", gerutu Denis pelan.
******
Happy reading😘
Ditunggu like, comment, vote, saran dan kritiknya ya🤗
__ADS_1