
"Ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Nabila, sesaat setelah ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi yang berhadapan dengan lawan bicaranya.
"Tentu saja aku ingin membahas tentang pria yang paling kucintai. Aku tak ada urusan denganmu selain masalah dengan Denis" Ucap Jenica sombong.
"Denis itu suamiku, lantas apa urusan wanita lain sepertimu dengan pria yang sudah beristri? Atau memang kamu sudah terbiasa untuk sibuk dengan urusan pria-pria beristri", kata Nabila dengan senyum mengejek.
"Istri?" Jenica pun tersenyum tak kalah sinis. "Apa kamu yakin Denis sudah mengganggapmu istri yang sebenarnya? Sementara di depan teman-temannya saja dia mengenalkan dirimu sebagai saudaranya, kamu sendiri malah mengenalkan dirimu sebagai pembantunya. Pernikahan macam apa itu?" Kata Jenica yang kemudian menyeruput minuman yang ada di depannya.
Nabila tidak terima dengan apa yang diucapkan mantan pacar suaminya itu, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosinya. "Lalu kamu mau apa?" Tantang Nabila.
"Tinggalkan Denis! Mintalah cerai padanya!" kata Jenica tegas. "Untuk apa kamu mempertahankan pernikahan yang tak dilandasi cinta di dalamnya? Asalkan kamu tau, Denis masih sangat mencintaiku", imbuhnya.
"Jika memang suamiku masih sangat mencintaimu, kenapa kamu tidak minta saja sendiri kepadanya agar segera menceraikanku? Jika ia memang ingin bercerai dariku, maka dengan senang hati aku akan menerimanya", kata Nabila yang tetap berusaha untuk menunjukkan ketenangannya.
"Karena sebagai seorang perempuan, aku kasihan padamu. Bukankah ditinggalkan itu lebih sakit daripada meninggalkan? Makanya biar kamu nggak sakit-sakit amat, lebih baik kamu yang minta cerai. Bukankah kamu juga tidak mencintai Denis?" Ucap Jenica yang kemudian dengan santainya menyeruput minuman yang ada di hadapannya.
Pertanyaan Jenica yang terakhir membuat Nabila terdiam. Apa yang dikatakan Jenica tidak semuanya salah, karena pada faktanya Nabila sendiri tidak tau bagaimana perasaannya terhadap suaminya, meski ia sudah berjanji pada suaminya kemarin untuk belajar mencintai pria yg baru menikahinya beberapa bulan itu.
Jenica melihat kegelisahan yang menyembur di wajah Nabila. Sejenak keningnya berkerut nampak memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya kembali. "Atau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta padanya?" Tanya Jenica penuh selidik.
"Pria seperti Denis memang akan dengan mudah membuat banyak wanita jatuh cinta. Ia tampan, mapan dan sangat menghargai wanita. Tapi, mereka harus tau bahwa ia bukan pria yang mudah jatuh cinta dan menyerahkan hatinya pada wanita. Jadi jika Denis berbuat baik padamu, jangan terlalu percaya diri bahwa dia sudah mencintaimu. Karena Denis memang akan perhatian kepada wanita-wanita yang ada disekitarnya. Tapi hanya sebatas itu, bukan cinta", ujar Jenica diikuti senyum sinis pada Nabila.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu? Apa perhatiannya kepadaku selama ini juga memang hanya sekedar perhatian biasa seperti halnya ia memperlakukan wanita-wanita lainnya?" Tanya Nabila dalam hati. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghampiri perasaannya.
"Jadi kumohon padamu, Nabila, tolong menjauhlah darinya! Lepaskan dia ! Biarkan dia hidup bahagia denganku! Aku tau selama ini Denis tak bahagia dengan pernikahan kalian, jadi biarkan aku membahagiakannya. Aku sangat mencintainya dan aku tau dia juga masih sangat mencintaiku", kata Jenica penuh pengharapan. Suaranya sudah merendah dibanding sebelumnya.
Nabila tersenyum getir mendengar ucapan Nabila. Tak bisa dipungkiri bahwa perasaannya kali ini benar-benar kacau. Antara marah, kecewa, dan takut bercampur jadi satu. Matanya kini nampak berkaca-kaca, tapi dia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh.
"Jika kamu mau Denis kembali padamu, mintalah sendiri padanya. Jika memang dia memilihmu, aku akan berlapang dada karena berarti aku memang tak pantas untuknya. Tapi jika Denis lebih memilihku, maka pergilah dari kehidupan kami", tantang Nabila.
Nabila berniat untuk meninggalkan tempat itu, namun belum sampai dirinya berdiri, tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja berbunyi. Layar ponsel itu menampilakan sebuah nama yang sebenarnya asing bagi Nabila, karena ia merasa tak pernah menyimpan nomor dalam ponsel dengan nama "suamiku sayang".
Tanpa diberi tahu, Nabila bisa menebak siapa orang yang memberi nama demikian dalam ponselnya. Ia pun menyunggingkan seulas senyuman, merasa konyol dengan ulah suaminya itu. Sebaliknya, Jenica yang sempat sekilas melihat nama sesorang yang berusaha menghubungi Nabila lewat video call itu, terlihat geram. Tangannya meremas kuat ujung pakaiannya.
"Assalamu'alaikum, mas!" Sapa Nabila, setelah tombol hijau ia geser sehingga memperlihatkan wajah orang yang menghubunginya.
Jenica dengan kasar meletakkan gelas yang baru saja ia teguk isinya, sehingga membuat sebagian isinya memercik keluar. Ia merasa panas dengan fakta yang ia lihat saat itu. Laki-laki yang ia cintai, mengucapkan kata sayang kepada orang lain yang tak lain adalah istrinya sendiri.
"Kamu sudah selesai belum makan siangnya, kalau belum aku susul kesana ya?" Tanya Denis.
"Aku sudah mau balik, mas. Jadi mas Denis nggak usah nyusul kesini", kata Nabila.
" Ya udah, aku makan bekal yang kamu buatin aja kalau begitu. Kamu langsung pulang ya sayang, jangan mampir kemana-mana", ucap Denis.
__ADS_1
"Iya mas, met makan siang ya mas", seru Nabila.
"Bye, sayang. Hati-hati pulangnya!" Seru Denis sebelum ia menutup jendela ponselnya, dengan diiringi senyum manis dari sang istri.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas, Nabila beranjak dari duduknya. Ia tak acuh dengan wajah Nabila yang begitu memerah karena menahan marah. "Permisi", ucap Nabila tegas, sebelum kemudian ia benar-benar beranjak pergi dari restoran itu, meninggalkan Jenica yang sibuk dengan rasa irinya.
*****
Jam tengah menunjukkan pukul 20.35, ketika Nabila baru saja membersihkan diri karena hendak beristirahat. Ia naik ketempat tidur dan berusaha memejamkan matanya, namun ternyata rasa kantuk tak kunjung datang. Ia hanya membalik-balikkan badannya saja di tempat tidur. Ada perasaan aneh menghinggapi kala ia harus tidur sendiri, karena beberapa hari ini Denis selalu menemani tidurnya.
Merasa bosan, ia pun bangkit dan mengambil sebuah buku dari dalam kamarnya sendiri. Setelah mendapatkan buku yang diinginkannya, ia kembali ke atas tempat tidur yang ada di kamar Denis. Dia berniat untuk menunggu suaminya pulang saja, sambil membaca buku. Meski suaminya berpesan agar tidak perlu menunggunya pulang malam ini.
Setelah membaca beberapa puluh halaman buku, fokus Nabila teralihkan tatkala ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan yang baru masuk. Ia pun meletakkan buku yang tadi ia baca di atas nakas dan beralih kepada ponselnya yang baru saja diraih tangan kanannya. Sekilas terlihat gurat bahagia di wajah Nabila, karena ia yakin bahwa pesan yang baru saja masuk ke ponselnya adalah pesan dari sang suami.
Namun, seketika wajah Nabila berubah. Tatkala ia melihat nama si pengirim pesan, terlebih ketika ia berhasil membuka isi pesannya. Butiran air seketika jatuh dari pelupuk matanya ke pipinya yang mulus.
Dua buah foto yang masih terbuka di ponselnya, memperlihatkan orang yang berusaha untuk ia cintai, sedang bersama wanita yang tadi siang ia temui di restoran.
Memang foto itu tidak menunjukkan aktivitas mereka berdua sedang bermesraan atau dalam posisi sangat dekat, bahkan salah satu foto hanya menunjukkan Denis yang sedang ngobrol dengan seseorang, berdiri memunggungi Jenica. Namun, dimana latar belakang foto itu dibuat, membuat Nabila kecewa dengan suaminya.
Dalam foto itu sangat jelas bahwa mantan sepasang kekasih itu ada di salah satu area hotel. Istri mana yang tidak curiga mendapati suaminya bersama wanita lain yang jelas-jelas menginginkan suaminya, sedang ada di hotel, itu situasi yang sedang terjadi pada Nabila.
__ADS_1
Nabila nampak sekali terpukul dan kecewa melihat foto-foto itu. "Ini kenapa kamu melarangku untuk menunggumu pulang mas? karena kamu akan pulang larut karena keasyikan dengan wanita lain. Apakah benar memang sudah saatnya aku melepasmu?"
Tangisan Nabila pecah seketika. Cukup lama itu terjadi, hingga kelelahan menyergapnya dan ia pun tertidur dalam kondisi masih sesenggukan.