
Bel berbunyi ketika penghuni salah satu apartemen ini baru saja selesai dengan sarapannya.
"Itu pasti pak Gugun. Kamu siap-siap ya, biar aku yang buka pintu", ucap Denis yang kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.
Pak Gugun nampak berdiri sigap di depan pintu, ketika Denis membuka pintu apartemennya. "Selamat pagi, tuan muda", sapa Gugun. "Heemm", Denis menjawab singkat sapaan itu sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Nanti setelah kau mengantarkan istriku ke kantor, kau boleh pulang. Kembalilah lagi ketika jam pulang kantor. Hubungi aku jika kau telah menyelesaikan tugasmu. Kabari aku juga kemanapun dia pergi. Dan satu lagi, kau harus menjaga keamanannya", ucap Denis serius.
Pak Gugun menganggukan kepalanya. " Baik Tuan", ucapnya tegas.
"Aku berangkat dulu ya mas", ucap Nabila yang sudah ada di belakang Denis. Nabila lalu mengambil tangan kanan suaminya, dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati, kabari aku jika sudah sampai kantor", ucap Denis yang dianggukkan oleh Nabila. Denis mengecup kening Nabila, sebelum mereka berpisah.
*****
" Selamat pagi nona Nabila", ucap seseorang yang tak lain adalah Arsyad. Ia sedang ada di parkiran apartemen.
Nabila yang berjalan mengikuti Pak Gugun, membalas sapaan Arsyad hanya dengan senyuman kecil. Ia sekilas saja melihat ke arah asisten suaminya itu.
Nabila segera masuk ke dalam mobil, setelah Pak Gugun membukakan pintu mobil untuknya. Tak berapa lama, mobil pun melaju ke arah kantor.
Tak lama setelah Nabila berangkat ke kantor bersama pak Gugun, Denis pun menyusul. Arsyad melajukan mobilnya menuju kantor setelah Denis masuk ke dalam mobil.
"Sekarang Nona Nabila diatar sopir, boss?"
"Hemmm", Denis menjawab singkat.
"Kenapa nggak bareng boss saja, kan lebih efisien bos", ucap Arsyad sambil melirik kaca spion.
"Saya tidak suka istri saya dik lirik-lirik orang lain", ucap Denis penuh penekanan, membuat Arsyad menundukkan kepalanya karena merasa tersindir.
"Satu lagi, jangan bahas istri saya jika itu bukan urusan yang penting", ucap Denis kesal.
"Maaf boss", ucap Arsyad.
*****
Jam makan siang sudah tiba. Seperti biasanya, Nabila akan mengantar bekal makan siang ke ruangan Denis.
"Siang mbak Nab!", ucap Karina yang melihat Nabila berjalan mendekati meja kerjanya.
__ADS_1
"Siang nona Karina, tumben belum ke kantin buat makan siang", ucap Nabila.
"Belum mbak, masih banyak kerjaan, nanggung mau ditinggal".
Nabila hanya tersenyum mendengar penjelasan Karina.
"Nganter bekal makan siang lagi mbak?", tanya Karina sambil melirik kotak makan siang yang di bawa Nabila. Nabila mengiyakan.
"Pasti masakan ibu mbak Nabila enak ya, sampai-sampai Pak Denis langganan tiap hari", ucap Karina. Selama ini Karina taunya Denis memesan makanan ke ibu Nabila. Ia juga belum tau bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah istri dari atasannya.
Nabila tersenyum menanggapi apa yang di katakan Karina. "Aku masuk dulu ya, nona Karina", kata Nabila sambil melangkahkan kaki masuk ke ruangan Denis.
Denis yang masih sibuk dengan komputernya, mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah pintu ruangannya yang dibuka seseorang. Iya menarik ke dia ujung bibirnya, saat melihat siapa orang yang datang.
"Makan dulu mas", Nabila berjalan menghampiri meja kerja Denis.
Denis menutup komputernya kemudian mengitari mejanya. Mengambil tangan Nabila dan menuntunnya ke sofa.sampai di sofa Nabila membuka kotak bekal yang dibawanya, dan memberikannya kepada suaminya.
"Ayo dimakan, kok dilihatin aja. Nggak suka sama menunya ya?", tanya Nabila ketika mendapati Denis hanya memegang bekal itu. Namun Denis menggelengkan kepalanya.
"Terus?", Nabila mendekatkan wajahnya, melihat ekspresi wajah suaminya.
Denis meletakkan kotak bekal itu dipangkuan Nabila. "Aaakk", Denis membuka mulutnya.
"Nab, besok pagi aku harus berangkat ke Lombok", ucap Danis sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Nabila mendongakkan kepalanya, menatap serius wajah suaminya. "Berapa hari?"
"Dua sampai tiga hari", Denis menyandarkan kepalanya di atas punggung sofa.
Tiba-tiba wajah Nabila menjadi muram dan Denis menyadari hal itu. "Sebenarnya aku menyuruh Arsyad berangkat, karena aku masih kuatir meninggalkanmu sementara ini, tapi___“
Belum sampai Denis menyelesaikan ucapannya, Nabila menyela. "Gak apa-apa, mas. Mas Denis pergi aja, aku akan baik-baik saja", sambil menyuapkan nasi yang ada di sendok ke mulut Denis.
"Kamu suka ya kutinggal", kata Denis penuh telisik.
"Mulai lagi", batin Nabila. Ia tersenyum tipis kemudian berkata, "Coba kamu lihat apa aku nampak bahagia mau kamu tinggalin!"
"Siapa tau kamu seneng, biar bisa deket sama dia", ucap Denis pelan.
"Apa si mas, dia siapa?"
__ADS_1
"Ya, siapa lagi kalau bukan asistenku"
"Astaghfirullah", Nabila mengelus dadanya. "Kan sudah Nabila bilang mas, Nabila nggak ada rasa apa-apa sama dia. Baik dulu maupun sekarang. Apalagi sekarang aku sudah menikah".
"Habisnya kamu kayaknya seneng aku mau pergi", Denis menatap curiga pada Nabila.
Nabila menutup kotak bekal yang di bawanya dan meletakkannya di meja. " Ya udah deh terserah kamu mas, capek ngomong sama kamu, kamu juga nggak percaya sama aku". Kemudian Nabila bangkit dari duduknya.
Denis yang sadar istrinya akan pergi, segera meraih tangan istrinya dan menariknya untuk duduk kembali. Setelah Nabila duduk, ia menggeser tubuhnya mendekat ke istrinya.
"Bukannya nggak percaya, tapi aku hanya meyakinkan bahwa kamu baik-baik saja kalau kutinggal", ucap Denis.
"Tapi kata-katamu itu mas, seolah-olah kamu menuduhku yang nggak-nggak", Nabila melipat tangannya dan mengerucutkan bibirnya, membuat Denis gemas melihatnya sehingga ia tersenyum-senyum sendiri.
"Ya sudah nggak usah dibahas lagi", Denis merangkul pundak istrinya dengan satu tangannya.
"Selama aku nggak di rumah, kamu kuantar ke tempat mami ya atau mau tinggal sementara di rumah papa aja?", Denis mengusap lembut lengan istrinya.
Nabila menggeleng, kemudian melihat ke arah Denis. "Aku tinggal di apartemen aja, mas"
Denis memutar badan Nabila menghadap ke arahnya. "Tapi aku nggak bisa tenang, ninggalin kamu sendirian di apartemen.
"Kamu nggak usah kuatir mas, aku bisa jaga diri"
"Nggak kuatir gimana, kamu kemarin hampir celaka begitu. Pokoknya nggak boleh di apartemen sendiri".
"Jarak rumah mami ke kantorkan jauh banget, mas. Apa nggak semakin beresiko kalau aku disana? Kalau rumah papa, aku kan nggak kenal orang-orang di sana pasti boring banget. Di apartemen lebih nyaman, aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan", ucapan Nabila dengan meyakinkan.
Denis merangkum wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya. "Kasus yang kemarin sebenarnya belum selesai jika kamu tidak memintaku menghentikannya. Lalu apa mungkin aku bisa tenang meninggalkan istriku sendirian, sementara penjahat-penjahat itu masih berkeliaran?", Denis menatap Nabila sendu.
Nabila membuang Nafasnya perlahan. "Ya sudah, aku nginep di rumah mami aja", ucap Nabila dengan berat. Dia masih memasang wajah cemberut.
"Besok pagi aku antar ke rumah mami sebelum aku berangkat, ok!"
Nabila hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya, wajahnya tetap ditekuk.
Denis merengkuh tubuh Nabila dalam pelukannya. "Maaf ya, jika kamu tidak suka dengan keputusanku. Yakinlah bahwa aku melakukan ini demi kebaikanmu". Ia kemudian mengecup lembut puncak kepala Nabila.
"Jangan lama-lama ya mas, perginya", pinta Nabila dengan mengeratkan pelukan itu
___________
__ADS_1
Maaf ya akhir-akhir ini author jarang up karena banyak sekali urusan di RL untuk sepekan ini.
terimakasih untuk readers yang masih setia dengan novel ini ^_^